2 Agustus 2010

Teknologi Pembuatan Pakan Lengkap untuk Kambing dan Domba

           Blog ini sudah tidak kami update lagi, Silahkan Kunjungi website Lembah Gogoniti Farm yang baru di http://www.lembahgogoniti.com/
Teknologi pakan lengkap (complete feed) merupakan salah satu metode/ teknik pembuatan pakan yang digunakan untuk meningkatkan pemanfaatan limbah pertanian dan limbah agroindustri melalui proses pengolahan dengan perlakuan fisik dan perlakuan suplementasi untuk produksi pakan ternak ruminansia. Proses pengolahannya meliputi pemotongan untuk merubah ukuran partikel bahan, pengeringan, penggilingan/ penghancuran, pencampuran antara bahan serat dan konsentrat yang berupa padatan maupun cairan, serta pengemasan produk akhir.
            Pakan lengkap yang dikembangkan pada dewasa ini (saat ini) diawali dari adanya masalah kelangkaan pakan hijauan hal ini diakibatkan kemarau panjang pada tahun 1998. Untuk mengatasi persoalan tersebut di atas dilakukan survey identifikasi mengenai potensi sumber-sumber bahan baku alternatif pengganti hijauan. Dari kegiatan survey dihasilkan kesimpulan bahwa limbah pertanian dan limbah agroindustri dapat dijadikan alternatif pakan yang murah dan potensial.
Kajian dilanjutkan dengan melakukan serangkaian analisis tentang kandungan nilai nutrisi dari masing-masing bahan baku di laboratorium makanan ternak, hasil analisis menunjukan bahwa sebagian besar limbah pertanian layak digunakan sebagai bahan baku pakan sehingga dapat dirumuskan formula pakan lengkap yang siap diuji coba ke ternak ruminansia.Dari hasil uji coba yang pernah dilakukan oleh BPTP Jawa Timur dan kalangan akademisi, diperoleh hasil yang memuaskan dalam peningkatkan aspek produktivitas ternak, adopsi teknologi maupun dampak pengembangan di masyarakat. Ternyata teknologi pakan lengkap ini memiliki nilai komersial yang tinggi dan mendapat respon positif dari pihak swasta, sehingga banyak bentuk pakan lengkap yang beredar di masyarakat.



PERMASALAHAN
        Pada industri ternak ruminansia [sapi,kambing dan domba] masalah yg sering dihadapi para peternak adalah yg berkaitan dengan ketersediaan sumber hijauan, khususnya selama musim kemarau. Tidak jarang untuk mencukupi pakan hijauan para peternak harus menjual ternak lainya untuk biaya membeli hijauan kondisi yang lain adalah seringnya terjadi percekcokan /pertengkaran antara penduduk desa karena kambing /ternak yang digembalakan merusak tanaman tetangganya. Pencurian rumput dan daun-daun pohon selama musim kemarau sering terjadi di daerah sekitar areal perkebunan atau kehutanan, sehingga kehadiran ternak dirasakan mengganggu kelestarian lingkungan.
Sementara itu potensi limbah pertanian dan limbah agroindustri untuk bahan baku pakan cukup melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar limbah-limbah tersebut digunakan sebagai bahan bakar, pupuk organik dan bahan baku industri dan sebagian besar masih terbuang atau dibakar karena menngganggu lingkungan.
         Pakan ternak merupakan salah satu faktor penting dalam usaha ternak banyak ditentukan oleh pakan yang diberikan. Kenyataan di lapangan menunjukan masih banyak peternak yang memberikan pakan tanpa memperhatikan persyaratan kualitas, kuantitas dan teknik pemberiannya. Akibatnya produktivitas ternak yang dipelihara tidak optimal, bahkan diantara peternak banyak yang mengalami kerugian akibat pemberian pakan yang kurang tepat. Kelemahan ini  sudah lama disadari, namun sayangnya upaya swasembada sapronak utamanya pakan masih belum menggembirakan. Kuncinya terletak pada aspek bahan baku pakan sehingga pemecahannya antara lain melalui upaya swasembada bahan baku pakan dan upaya memperbaiki mutu pakan yang bersumber dari bahan lokal.


ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
      Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa sekitar 70% dari proktivitas ternak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sedangkan faktor genetik hanya mempengaruhi sekitar 30% saja. Diantara faktor lingkungan tersebut, aspek pakan mempunyai pemngaruh paling besar yaitu sekitar 60%. Hal ini menunjukan bahwa walaupun potensi genetik ternak itu tinggi, tetapi apabila pakan kualitasnyar endah, maka proktivitas yang optimal tidak akan tecapai. Disamping pengaruhnya yang besar terhadap produktivitas ternak, faktor pakan juga merupakan juga merupakan biaya produksi yang terbesar dalam usaha peternakan. Biaya pakan ini dapat mencapai 60-80%dari keseluruhan   biaya produksi. Dengan demikian, memproduksi pakan bukan hanya dituntut dalam mencapai aspek kualitas saja, tetapi yang lebih penting adalah memproduksi pakan yang ekonomis, murah,dan terjangkau oleh kemampuan peternak [Siregar, 1994]. Dengan pengembangan sub-sistem agribisnis hulu seperti industri agroinput yang menghasilkan produk pakan ternak merupakan salah satu pendukung dalam pengembangan agribisnis peternakan yang secara langsung akan membantu memecahkan permasalahan para peternak dalam hal pengadaan input produksi.
     Pemanfaatan limbah agroindustri di waktu-waktu mendatang akan semakin beragam, tidak hanya untuk digunakan langsung dan ekspor tetapi juga sebagai bahan baku industri pengolahan serta industri pakan ternak. Diversifikasi pemanfaatan produk samping (by-puduct) yang sering dianggap sebagai limbah (waste product) dari kegiatan agroindustri dan biomas yang berasal dari limbah pertanian menjadi pakan ternak akan mendorong perkembangan usaha agribisnis ternak ruminansia secara integrative dalam suatu system produksi terpadu dengan pola pertanian melalui daur ulang biomas yang ramah lingkungan atau dikenal dengan konsep “zero waste production system”. Salah satu alternatif teknologi yang berorientasi pada konsep “zero waste” adalah pembuatan pakan lengkap (complete feed) dengan memanfaatkan limbah pertanian dan limbah agroindustri sebagai bahan bakunya. 


BAHAN BAKU PAKAN LENGKAP
    Beberapa contoh bahan baku pakan lengkap yang digunakan yang berasal dari limbah pertanian dan limbah agroindustri disajikan pada table berikut :

No
Limbah Pertanian
Limbah Agroindustri
1
Pucuk tebu
Ampas tebu
2
Daun tebu
Onggok
3
Jerami kedele
Tumpi jagung
4
Jerami kc. tanah
Dedak Padi
5
Janggel jagung
Bungkil klenteng
6
Klobot jagung
Bungkil sawit
7
Kulit kopi
Bungkil kopra
8
Bulu unggas
Bungkil kc tanah
9
Kulit polong kedele
Ampas kecap
10
Kulit telor
Wheat polard
11
Kulit kc tanah
Empok jagung
12
Kulit bj kedele
Tetes tebu
13
Kulit coklat
Tp terigu afkir
14
Jerami padi
Ampas tahu
15
Kulit nanas
Ampas pabrik roti



















      Dari aspek kualitas, jenis limbah pertanian yang potensial adalah jerami tanaman serelia, sedangkan dari aspek produksinya adalah jerami padi, pucuk tebu dan daun tebu. Namun kualitas jerami padi dan jerami tebu tergolong rendah hal ini disebabkan antara lain kandungan lignin dan selulosenya yang tinggi.
    Pakan lengkap dibuat dari bahan-bahan limbah pertanian sebagai sumber seratnya seperti daun tebu, kulit kacang tanah, jerami kedele, tongkol jagung, pucuk tebu dan lain-lain. Ditambah limbah agroindustri sebagai sumber energi yaitu polard (limbah gandum), dedak padi, tetes/molasses, onggok (limbah tapioca) dan lain-lain. Bahan-bahan sumber protein seperti bungkil kopra, bungkil sawit, bungkil minyak biji kapuk/randu dan urea. Dilengkapi dengan bahan sumber mineral seperti garam dapur, zeolit, tepung tulang dan lain-lain.

FORMULA PAKAN LENGKAP
    Dalam menyusun formula pakan lengkap harus diperhitungkan nutrisi dari masing-masing bahan baku, serta kebutuhan nutrisi ternak. Komposisi nutrisi disesuaikan dengan kebuttuhan zat nutrisi ternak masing-masing misalnya komposisi nutrisi untuk ternak penggemukan akan berbeda dengan komposisi ternak pembibitan atau pembesaran.

Komposisi nutrisi pakan lengkap (complete feed) untuk pembibitan dan penggemukan ternak ruminansia

No
Jenis pakan
Kadar air
Bahan kering
Protein kasar
Serat kasar
Kadar abu
BETN
TDN
1.
Pembibitan
12
88
8,4
18
6,8
60,2
64,2
2.
Penggemukan
12
88
13,0
18
8,7
51,8
64,4




Sebagai acuan dalam membuat/memformulasikan pakan lengkap untuk ternak ruminansia dapat dilihat komposisi pakan lengkap untuk pembibitan dan penggemukan yang dicantumkan pada table di atas.
    Faktor yang perlu diperhatikan dalam memformulasikan pakan lengkap yang dibuat dari limbah pertanian dan limbah agroindustri adalah imbangan antara kandungan serat kasar dan energi. Kontrol kualitas pakan yang paling terpercaya adalah uji biologis langsung ke ternaknya, namun untuk cepatnya dapat ditempuh dengan uji fisik dan kimiawi di laboratorium makanan ternak secara analisisi proksimat.
Contoh :
No
Bahan Pakan
Prosentase
1
Jerami Kedelai
20 %
2
Pucuk tebu
10 %
3
Janggel jagung
10 %
4
Kulit kacang tanah
10 %
5
Ampas tebu
 5 %
6
Dedak
 5 %
7
Gamblong
15 %
8
Katul halus
15 %
9
Tetes
2,5 %
10
Urea
1 %
11
Kotoran ayam ras
4 %













12
Garam dapur
 1 %
13
Tepung Tulang
0,5 %
14
Stimulan probiotik
 1 %

Total
100 %







No
Bahan Pakan
Prosentase
1
Gamblong/onggok
20 %
2
Dedak padi
15 %
3
Kulit kopi
5 %
4
Pith (ampas tebu)
8 %
5
Katul halus
10 %
6
Bungkil sawit
12 %
7
Bungkil kelapa
17 %
8
Tetes
7,5 %
9
Garam dapur
0,5 %
10
Konsentrat
5 %

Total
100 %















PROSESING

    Teknologi pengolah limbah pertanian dan limbah agroindustri menjadi pakan lengkap merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan nilai kedua limbah tersebut dengan metode prosesing yang terdiri dari :
  1. Perlakuan pencacahan (chopping) untuk merubah ukuran partikel dan melunakan tekstur bahan agar konsumsi ternak lebih efisien.
  2. Perlakuan pengeringan (dryng) dengan panas sinar matahari atau dengan alat pengeringan untuk menurunkan kadar air bahan.
  3. Proses pencampuran (mixing) dengan menggunakan alat pencampuran (mixer horizontal) dan perlakuan penggilingan dengan alat giling yang disebut “Hammer Mill” dan terakhir proses pengemasan.

CARA PEMBUATAN
  1. Bahan-bahan sumber serat dipotong-potong dengan alat pemotong (chopper) berukuran kecil (0,2 – 0,4 cm), kemudian dikeringkan dengan menggunakan pemanasan (dryer) sampai dengan kadar air 10 – 12 %
  2. Bahan-bahan sumber serat dan sumber energi serta protein dicampur dalam alat pecampuran/mixer horizontal bersama dengan larutan tetes/molasses sampai merata.
  3. Seluruh bahan-bahan campuran tersebut selanjutnya digiling dengan menggunakan hammer mill dan ditambahkan dengan urea, garam dapur dan tepung tulang sampai ukuran partikelnya kecil dan tercampur secara merata. Apabila telah tercampur maka bahan-bahan tersebut dikemas ke dalam karung yang sudah disiapkan dengan ukuran berat sesuai dengan yang diinginkan.
Pembuatan pakan lengkap perlu dilakukan oleh suatu lembaga atau wadah kelompoktani yang selanjutnya mendistribusikan ke anggotanya.
Keunggulan pakan lengkap buatan kelompoktani diantaranya :
•    Harganya lebih murah dengan kuallitas standar karena menggunakan bahan baku lokal.
•    Mudah dalam distribusi karena jarak antara tempat prosesing dengan lokasi peternak lebih dekat.
•    Memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan dengan pakan komersial buatan pabrik skala industri besar, karena lebih efisien dalam biaya produksi dan biaya transportasi.
•    Merupakan embrio usaha di bidang agroinput di pedesaandenganb skala komersial yang asetnya dimiliki oleh masyarakat untuk pengembangan dan pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UKM).

PENUTUP

1.    Optimasi pemanfaatan limbah pertanian dan limbah agroindustri untuk produksi pakan lengkap (complete feed) memerlukan dukungan informasi tentang potensi bahan baku lokal di tiap-tiap wilayah sehingga dapat diformulasikan komposisi pakan lengkap yang spesifik lokasi.
2.    Pengembangan pakan lengkap perlu diprioritaskan di daerah-daerah sentra produksi ternak potong dan pembibitan, khususnya pada agroekosistem lahan kering.
3.    Untuk mewujudkan usaha pembuatan pakan lengkap perlu diupayakan pengadaan alat dan mesin penngolahan limbah diantaranya mesin pemotong (chopper), alat pencampur (mixer) dan alat penghancur (hammer mill) sesuai dan tepat guna, murah serta terjangkau oleh kemampuan kelompoktani di pedesaan


DAFTAR PUSTAKA

1.  Chuzaemi. S, 2002, Arah dan Sasaran Penelitian Sapi Di Indonesia. Makalah Dalam Workshop Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bogor dan Loka Penelitian Sapi Potong Grati, Malang 11-12 April 2002.

2  Hardianto. R, 2000, Teknologi Complete Feed Sebagai Alternatif Pakan Ternak Ruminansia. Makalah BPTP Jawa Timur. Malang.

3.  Owen. JB, 1981, Complete Diet Feeding Of Dairy Cow. In Recent Development In Ruminat Nutrition (eds. W. Harrign and D.J.A. Cole). Butterworths-London (321-324).

4.    Siregar. S.B, 1994, Ransum ternak Ruminansia. PT. Penebar Swadaya, Indonesia.

5.    Wahyono.D.E, 2000, Pengkajian Teknologi Complete Feed Pada Usaha Penggemukan Domba. Laporan Hasil Penghkajian BPTP Jawa Timur. Malang



   












powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes