31 Desember 2008

Harumnya Laba dari Sabun Susu Kambing

Sumber.
http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 12/23/11140414/ harumnya. laba.dari. sabun.susu. kambing

Selasa, 23 Desember 2008 | 11:14 WIB


Belakangan ini semakin banyak orang mengkhawatirkan kandungan bahan kimia pada pelbagai produk konsumsi. Bukan cuma makanan, tetapi juga kebutuhan harian, seperti sabun dan sampo. Alhasil, masyarakat mulai mencari produk yang sedikit, bahkan sama sekali tak mengandung bahan kimia.
Kondisi ini menjadi peluang cukup menjanjikan. Anya Madiapoera, misalnya, mencoba berinovasi membuat sabun yang tak menggunakan bahan berbahaya. la membuat sabun alami berbahan dasar susu kambing. "Selain kualitasnya lebih bagus, proses produksinya juga ramah lingkungan," ajar Anya.


Anya menekuni usaha pembuatan sabun alami ini sejak tahun 2003. Awalnya, ia mencantumkan merek Soap Opera pada sabun buatannya. Namun, karena sudah ada merek serupa, sejak setahun lalu dia mengubah nama menjadi Soaphisticated.
Keputusan Anya memilih bahan baku susu kambing bukan tanpa alasan. Ia mengklaim susu kambing baik untuk kesehatan kulit. "Apalagi, kulit yang sensitif," ujarnya.
Modal awal Anya merintis usaha ini hanya Rp 10 juta. la menggunakannya membeli peralatan pembuatan sabun, seperti kompor gas, perabot stainless steel, dan baku seputar cara pembuatan sabun.


Awal mendirikan usaha ini, Anya tidak langsung berhasil. Pada tahun pertama, ia hanya menggunakan buat konsumsi sendiri. Menurutnya, tidak mudah memasarkan produk sabun berbahan alam ini. "Butuh waktu lama memperkenalkan produk buatan tangan," akunya.


Salah satu kendalanya adalah harga yang relatif lebih mahal. Selain itu, masa pemakaiannya lebih singkat ketimbang sabun mandi biasa. "Tapi, masyarakat sudah semakin sadar akan pentingnya kesehatan dan menjaga lingkungan," kata Anya.
Dalam sebulan, Anya bisa memproduksi sebanyak 2.500 kotak sabun. "Untuk memproduksi sabun sebanyak itu, saya membutuhkan 50 liter susu kambing murni," ucapnya.


Selama ini, Anya hanya memakai susu kambing jenis ettawa. Kambing jenis ini merupakan kambing perah dari India. Ia mendapatkannya dari peternakan di sekitar Bandung, Jawa Barat. Selain susu kambing, ia juga memakai bahan baku lainnya, seperti minyak kelapa, zat NaOH (zat kimia yang bersifat basa), dan minyak atsiri.


Omzet Rp 100 juta


Cara pembuatan sabun susu kambing ini cukup mudah. Awalnya, minyak dipanaskan dan dicampur dengan susu kambing dan NaOH. Setelah itu, ditambahkan minyak atsiri dan dimasukkan ke cetakan sabun. Setelah didiamkan selama 24 jam, adonan itu dikeluarkan dari cetakan. "Sabun baru bisa dipakai setelah didiamkan selama empat minggu," kata Anya.


Saat ini, Anya sudah memiliki tiga gerai untuk memajang produk Soaphisticated. Dua di Bandung dan satu lagi di Bali. Selain itu, ia juga menerima pesanan buat suvenir pernikahan dan juga memasok ke beberapa spa dan salon. Anya membanderol sabun susu kambing buatannya seharga Rp 25.000 per bungkus. "Dalam sebulan, omzet saya bisa mencapai Rp 100 juta," ujarnya.

Anya juga memenuhi pesanan suvenir pernikahan. Dalam sebulan, ia bisa menerima pesanan hingga 500 bungkus sabun. la juga mengemas sabunnya dengan gambas sebagai spon mandi. Ia mematok satu paket sabun susu kambing dengan gambas seharga Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per paket.

Anya mengaku mengambil laba sekitar 25 persen hingga 40 persen dari setiap sabun. "Di Bandung, saya biasa mengambil marjin 25 persen, tapi untuk penjualan di wilayah Bali, saya bisa mengambil marjin sampai 40 persen," ujarnya.
============ ========= ========= ========= ========= ========= =======
Soaphisticated NuaArt Sculpture park A.
Setra Duta Bandung HP. 0811246677



12 Desember 2008

Kurban Memberdayakan Rakyat

Sumber.
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/12/09/ 02065862/ kurban.memberday akan.rakyat
Kurban Memberdayakan Rakyat
Besar Potensi Ekonomi dari Hulu sampai Hilir
Selasa, 9 Desember 2008 | 02:06 WIB
Jakarta Kompas - Pelaksanaan kewajiban memotong hewan kurban setiap hari raya Idul Adha, bukan hanya menjadi momentum penyantunan fakir miskin. Berkurban hendaknya diarahkan pula kepada paradigma pemberdayaan ekonomi rakyat dalam konteks pembangunan bangsa untuk mengatasi kemiskinan.
Demikian kesimpulan pengamatan lapangan dan wawancara Kompas dengan sejumlah ahli agama dan ekonomi serta praktisi peternakan terkait pelaksanaan Idul Adha kali ini, yang di dalamnya terdapat pula kewajiban memotong hewan kurban bagi masyarakat muslim mampu untuk dibagikan kepada dhuafa.
Tidak ada catatan pasti kebutuhan hewan kurban setiap tahun. Yang pasti, secara nasional produksi daging dan kebutuhan konsumsi daging, termasuk ternak untuk kurban, masih timpang. Indonesia masih mengimpor sapi sebanyak 450.000 ekor setiap tahun.
Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Provinsi DKI memperkirakan kebutuhan hewan kurban tahun ini tidak kurang dari 4.667 sapi, 100 kerbau, 33.491 kambing dan 1.892 ekor domba.
Kebutuhan akan hewan kurban setiap momentum tahunan Idul Qurban tiba, pada sisi lain terbukti menggerakkan ekonomi rakyat, mulai dari budi daya peternakan hewan sampai industri manufaktur yang mengolah daging menjadi kornet dan produk lainnya.
Dompet Dhuafa misalnya, telah mengubah gerakan berkurban untuk santunan menjadi gerakan ekonomi rakyat. Begitu pula Rumah Zakat Indonesia, memasuki tahap industrialisasi, mengelola daging kurban menjadi produk olahan tahan lama. Dengan demikian, dua tujuan mendasar dapat tercapai, yakni menyantuni kaum miskin dan memberdayakan ekonomi rakyat.
"Inilah yang dinamakan kurban sebenarnya. Tidak hanya menyembelih hewan dan membagi daging, tetapi mampu membuat suatu gerakan perekonomian kuat dan meningkatkan pendapatan keluarga miskin," kata Agustianto ahli ekonomi Islam menanggapi gerakan sejumlah badan zakat dan sosial yang mengelola gerakan berkurban menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat.
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam ini menambahkan, momentum Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban untuk miskin hanyalah makna simbolik. Pada dasarnya semangat untuk berbagi dan membantu kaum miskin untuk bisa hidup mandiri adalah filosofi sebenarnya.
Seharusnya hal itu dilakukan setiap saat, tidak hanya waktu Idul Adha. Pengelolaan zakat setiap tahun, katanya, seharusnya juga menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi rakyat.
Menurut dia, dengan penduduk 230 juta lebih dan sekitar 200 juta di antaranya umat muslim, potensi kurban, zakat, infaq, sadaqah bisa mencapai Rp 100 triliun per tahun. Dari angka Rp 100 triliun itu, sebagian bisa dipakai untuk menafkahi warga tidak mampu, misalnya lanjut usia, janda, ataupun anak yatim. Sebagian lainnya membangun fasilitas umum. ”Warga miskin lain yang masih bisa bekerja hendaknya diberikan pelatihan kerja, pelatihan wirausahawan, dan diberi pinjaman modal kerja,” katanya.
Kendala dokrinal
Akan tetapi, potensinya besar itu terkendala masalah doktrinal dan manajerial, sehingga menguap begitu saja. "Hari itu hewan kurban dipotong, hari itu dibagikan, dan hari itu juga habis. Belum terjadi investasi lebih jauh," kata JM Muslimin, Penanggung Jawab Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Zakat, Infak, Wakaf, Shodaqoh, dan Kurban, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat.
Potensi kurban, menurut Muslimin menjadi semakin besar jika ditambah potensi ekonomi haji. Sekitar 200.000 orang per tahun berhaji dengan biaya sekitar Rp 32 juta tiap orang. Sayangnya, kegiatan kurban masih cenderung bersifat doktrinal penyantunan sesaat. Padahal, kegiatan berkurban sebenarnya bisa diarahkan ke aspek yang lebih luas dan produktif. Kurban tidak sekedar aset konsumtif yang habis seketika, tetapi bisa dikelola lebih produktif, menggerakkan ekonomi rakyat lebih luas dan sesuai prinsip-prinsip ekonomi Islam.
Kemandirian
Awalnya hanya ingin membawa daging korban dari Jakarta ke daerah lain, tetapi lembaga zakat dan infaq Dompet Dhuafa (DD) tidak hanya membuat warga miskin menikmati daging saat lebaran, tetapi masyarakat bisa pula merasakan jadi juragan kambing kecil-kecilan, sampai menjaga varietas bibit unggul ternak.
Purnomo, Direktur Tebar Hewan Kurban DD mengatakan pihaknya telah mempunyai ”Kampoeng Ternak”, program pembudidayaan peternakan di 18 provinsi. Kampung Ternak ini melibatkan 1.564 petani dan peternak miskin. Awalnya hanya program penggemukan ternak dengan menyerahkan 5-8 ternak untuk dibesarkan, tetapi ketika ternak jantan dikhawatirkan berkurang karena selalu dipotong ketika musim kurban, timbul ide mengembangbiakkan bibit ternak.
Gerakan penyebaran daging itu kini menjadi sebuah gerakan ekonomi yang menyebar dari Garut hingga Halmahera, melibatkan tidak kurang dari 2.000 orang secara langsung dan menciptakan wirausahawan baru di berbagai daerah mulai dari Klaten, Tulungagung dan berbagai daerah lain. "Peternak yang dulu miskin kini sudah banyak berhasil berbisnis ternak. Bisa beli tanah, bisa mandiri," kata Purnomo.
Omzet DD untuk kegiatan kurban saja mencapai sekitar Rp 14 miliar. Kampoeng Ternak bahkan sudah jadi tempat wisata bahkan tempat pelatihan beternak kambing atau sapi.
Rantai bisnis hewan kurban itu belum berhenti sampai di sini. RZI melalui program Superkurban, memproses daging menjadi kornet kalengan, yang berarti melibatkan proses industrialisasi. Proses pengalengan semula di luar negeri, kini diolah di dalam negeri, sehingga memberi nilai tambah dan kemandirian ekonomi domestik.
Hewan kurban tetap dipotong sesuai hukum berkurban, yakni sampai hari ketiga Idul Adha. Namun, daging dikemas tahan lama, bisa sampai tiga tahun. Jangkauan penerimanya lebih luas dan tidak terkendala ruang atau komunitas di sekitar rumah orang yang berkurban.
Produksi RZI berupa kornet kaleng 200 gram, bukan hanya menjangkau orang miskin, juga telah berkontribusi dalam membantu warga yang terkena bencana, seperti di Aceh, Sulawesi, dan daerah lainnya.
Selain itu, menurut Manajer Marketing dan Komunikasi RZI Dyana Widiastuti, RZI juga mendisribusikan kornet mungil ini untuk perbaikan gizi masyarakat. Ada 207 tempat yang menjadi sasaran kegiatan yang dinamai integrated community development, salah satunya daerah Cilincing, Jakarta Utara. Sejumlah warga menerima kornet 1 kali dalam 2-4 minggu.
Kendala doktrinal
Apabila dikelola secara baik, maka potensi kurban untuk wilayah Jabodetabek saja bisa mencapai hampir Rp 100 miliar. Sebuah nilai yang besar, hanya saja karena kendala doktrinal dan manajerial, membuat potensi itu menguap.
"Hari itu hewan kurban dipotong, hari itu dibagikan, dan hari itu juga habis. Belum terjadi sebuah investasi lebih jauh," kata DR JM Muslimin Penanggung Jawab Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Zakat, Infak, Wakaf, Shodaqoh, dan Kurban, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat.
Potensi kurban, menurut Muslimin menjadi semakin besar jika ditambah dengan haji. Ada sekitar 200.000 orang (per tahun) berangkat ke Arab Saudi dengan biaya sekitar Rp 32 juta tiap orang. Sehingga tidak berlebihan jika bulan ini, kata dia, bisa disebut sebagai bulan akumulasi uang dalam skala besar, baik itu untuk tujuan pengabdian kepada Tuhan (ibadah) maupun menjalin hubungan baik antarsesama.
Sayangnya, Muslimin berpendapat kegiatan kurban yang terjadi saat ini masih cenderung bersifat penyantunan, membantu orang dalam waktu sesaat, serta melatih sikap mental untuk peduli terhadap sesama. Untuk mendukung ekonomi masyarakat belum bisa dilakukan secara maksimal.
Padahal, kegiatan berkurban sebenarnya bisa diarahkan ke aspek yang lebih luas dan produktif. Kurban tidak sekedar menjadi aset konsumtif yang habis dalam waktu singkat, tetapi bisa dimanajemen ke arah produktif. Dengan kata lain kurban bisa menggerakkan ekonomi rakyat secara lebih luas dan tentunya sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam.
Belum efektifnya kegiatan kurban, menurut Muslimin karena adanya kendala doktrinal. "Manajemen efektifitas korban masih ada kendala doktrinal di kalangan kita. Ada pendapat bahwa daging kurban dan pembagian aset terkait hewan harus habis dibagikan saat itu juga. Padahal, kalau kita bicara, tidak bisa konteksnya hanya menyantuni saja, tidak memberdayakan. Kalau kita bicara soal pemberdayaan sosial dan manajemen ekonomi Islam, itu sesunguhnya masih banyak potensi yang baru dimaknai sebatas gerakan karikatif atau penyantunan, setelah itu habis. Tidak long lasting," katanya.
Selama ini, menurut Muslimin masih ada masyarakat yang sulit menerima perlakuan bahwa kurban bisa dimanajemen dan dijadikan aset produksi. Kalau ada, jumlahnya masih sedikit dan itu lebih banyak dilakukan oleh lembaga pengumpul zakat dan shadaqoh yang sudah berpikir jauh ke depan.
"Nah ini problem. Jadi bagaimana agar korban ini dimaknai dalam konteks produktifitas, bukan dimaknai malah membuat orang menjadi konsumtif. Ini perlu disadarkan secara pelan-pelan, " katanya.
Padahal, potensi kurban serta sumbangan lain, seperti infaq dan shodaqoh, sebenarnya luar biasa besar. Dalam sebuah survei potensi zakat, infaq, dan sadaqah ternyata besaran uang jika dirupiahkan bisa melebihi APBN. Kurban sendiri sudah menjadi gerakan massif dan membudaya. "Potensinya secara kasar Rp 1 triliun (di seluruh Indonesia) saya kira ada," kata Muslimin yang berpendapat potensi terbesar kurban sebenarnya ada pada kemauan orang untuk menyumbang.
Empowerment
Dalam kaitan ini, menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Kajian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, itu, perlu ditempuh sebuah cara agar kurban mampu mengangkat potensi ekonomi masyarakat. Cara itu adalah melalui pemberdayaan sosial (empowerment) dengan menerapkan memanajemen yang sesuai. Bukankah saat ini animo masyarakat untuk berkurban cukup tinggi. Begitu pula keterlibatan pengurus masjid hingga pengurus RT dan RW dalam kegiatan pemotongan dan pembagian daging juga cukup besar.
Sedang untuk mengatasi kendala doktrinal, perlu ada penafsiran kembali secara kontekstual apa yang ada dalam doktrin mengenai korban. Setelah intepretatif baru itu dapat diterima, baru langkah selanjutnya adalah melakukan sosialisasi ke masyarakat. Berikutnya melakukan manajemen pemberdayaan sosial.
"Selanjutnya yang perlu diterapkan adalah manajemen yang bersifat pemberdayaan, berorientasi non profit, serta gerakan kemanusiaan. Islam sendiri mendukung ke arah itu," katanya.
Dalam menghadapi masalah doktrinal, menurut pria asal Bojonegoro, Jawa Timur, itu perlu adanya sosialisasi gagasan yang terus menerus, bahwa kurban, termasuk infak dan shodaqoh, harus menjadi kegiatan yang bersifat produktif. Aspek ibadah tetap jalan, namun aspek sosialnya tidak terlupakan.
Disinggung apakah menjadikan kurban sebagai aset produktif tidak menyalahi aturan? Muslimin berpendapat "Kalau saya secara pribadi. Ini juga terkait pendapat dalam fikih Islam. Kalau kita mengacu pada pemikiran hukum Islam kontenporer, itu bisa. Tapi memang, hukum-hukum Islam dengan pendapat yang lama, tidak membuka kemungkinan untuk itu," katanya. (WER)



Pasar kambing/domba Kuwait di Idul Adha 1429H/2008


Sebuah informasi menarik penulis dapat dari email Bapak Bambang Prakoso dari Kuwait di milis Insan Peternakan, yang menggambarkan suasana Idul Adha di Kuwait. Semoga tulisan beliau bermanfaat bagi masyarakat Peternakan Indonesia. Isi Emailnya :


Salam peternak
Sebagai informasi saja, attachments sekitar pasar kambing/domba di Kuwait 2 hari menjelang Idul Adha.
Harga kambing/domba melonjak 2 kali lipat, pada hari biasa umumnya atau rata rata adalah KD30 atau setara dengan Rp1juta dengan bobot 40-50 Kg menjelang Idul Adha harganya menjadi KD70 atau setara kurang lebih Rp 2,4juta. Bentuk fisik memang lebih besar besar dibanding dengan kambing/domba yang ada di Indonesia.

Walaupun kebanyakan orang Kuwait melaksanakan Qurban diluar negaranya tapi masih banyak yang melakukanya sendiri untuk dipotong di Rumah Pemotongan Hewan dan ini diwajibkan oleh pemerintah Kuwait untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan seperti daging tidak layak dikonsumsi karena Qurban sudah terjangkit penyakit, walaupun semua Qurban sudah mendapatkan sertifikat sehat namun pada saat penyembelihan akan dikontrol atau dichek kembali oleh Dokter Hewan dengan melihat hati setiap Qurban. Pemotongan yang dilakukan sendiri mulai tahun ini dilarang oleh pemerintah Kuwait, jadi harus dibawah pengawasan ahli atau dokter hewan. Memang kebijakan ini agak merepotkan dengan hanya 5 tempat pemotongan hewan dengan jumlah Qurban yang segitu banyak antriannya panjang, namun pada hari kedua semua Qurban sudah habis terpotong/disembeli h.

80% hewan Qurban di Kuwait diimpor dari Australia dan New Zeland melalui Saudi Arabia, untuk kebutuhan ini pemerintah Kuwait mengimpor hampir 1juta ekor domba/kambing, penduduk Kuwait saat ini sekitar 3 juta orang (ref KBRI Kuwait) 1 juta diantaranya adalah penduduk asli dan sisanya adalah pendatang atau pekerja seperti saya. Luas negaranya hampir seluas JABODETABEK lebih sedikit.

Demikian.
Salam

Bambang Heru P
Kuwait


powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes