4 September 2008

Laga Bintang Kambing Ettawa di Kaliurang Jogja



Setelah menempuh kurang lebih 10 jam perjalanan, akhirnya Bis yang membawa Penulis bersama Forum Komunikasi Peternak Kambing Ettawa Blitar, dari perwakilan dari Kelompok Tani Abimanyu dari Kota Batu Malang, Peternak Kambing Ettawa ”Sangklir Group” Ngunut Tulungagung sampai kawasan wisata Kaliurang Jogjakarta, memasuki kawasan Kaliurang. Indahnya pemandangan dan sejuknya udara pegunungan mulai terasa, di kiri dan kanan jalan banyak berdiri bangunan berupa Villa, Hotel, Penginapan.

Bis yang membawa berhenti di depan di Bumi Perkemahan Karang Pramuka di Hargo Binangun, Pakem Sleman Jogjakarta. Penulis segera berlari mencari tempat mandi, karena semalaman di perjalanan dalam bis, badan terasa penat. Dinginnya air di Kaliurang membuat badan terasa segar. Setelah mandi, penulis bergegas berjalan menikmati indahnya suasana pemandangan di sekitar arena kontes kambing. Walaupun waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi tapi disana sudah hadir peserta beserta kambing dari beberapa kota diantaranya Pati, Pandowo Sakti Tulungagung.

Kurang lebih pukul 7. 30 pagi kesibukan Panitia mulai terasa, peserta kontes mulai berdatangan dan melakukan pendaftaran ulang. Seperti biasa setelah melakukan pendaftaran ulang dalam setiap kontes kambing, dilakukan pengukuran meliputi lingkar dada, panjang badan, panjang telinga, dll.

Sekitar pukul 8.00 wib acara kontes dibuka oleh ketua Paguyuban Peternak Kambing Ettawa Sembada Sleman bapak Sambyah. Dalam sambutannya menyampaikan tujuan dari diselenggarakannya kontes kambing ini adalah mendukung perekonomian masyarakat, media komunikasi para peternak kambing Ettawa, alat kontrol kualitas bibit dan mendukung program pemerintah dibidang pertanian khususnya sub sektor peternakan.

Dari laporan panitia, peserta kontes kambing tercatat dari berbagai kota se Jawa diataranya Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Semarang, Pati, Blitar, Tulungagung, Batu Malang, Mojokerto, Ponorogo. Tercatat 47 ekor kambing untuk kelas Pejantan, 34 ekor untuk kelas Calon pejantan, 34 ekor untuk Induk dan 52 ekor calon induk. Selain itu juga diikuti 72 ekor dari segala umur yang mengikuti bursa lelang kambing.

Info pemenang dan foto-fotonya juga bisa di klik disini

BERIKUT LAPORAN PANITIA yang dikirim via email kepada Penulis ;

Pagi itu 24 Agustus 2008, di bawah kaki gunung merapi yang indah dan asri, 173 kambing etawa dating dari berbagai penjuru daerah. Tercatat dari jawa timur, seperti tulungagung, Blitar, Ponorogo. Dari Jawa Tengah, Solo, Kudus, Jepara, Pati, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Banjarnegara. Dari DIY, Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul, semua daeah tumplek blek membawa kambing jawara mereka masing-masing. Lomba yang terdiri dari 4 kelas, yaitu kelas jantan, kelas betina, kelas calon jantan, dan kelas calon induk, semua terisi walaupun tidak penuh.


Pukul 10.30 WIB, kambing mulai di nilai. Penjurian di mulai dari kelas calon induk, calon jantan, induk, dan pejantan. Kelas pejantan memang sengaja di pasang di terakhir,karena panitia mempunyai beberapa pertimbangan, selain kelas pejantan adalah kelas favourite, panitia juga tidak mau berspekulasi tentang keselamatan pathok yang digunakan untuk menambatkan kambing-kambingnya. Perkiraan panitia terbukti benar, setelah 5 menit kelas jantan itu di nilai sudah ada beberapa pathok kambing yang patah maupun roboh. Padahal panitia sudah menggali tanah sedalam 100cm untuk lobangnya. Tetapi namanya juga kambing. Kambingnya besar-besar lagi, jadi ya lumrah kalau langung patah dan roboh.


Penilaian yang dilakukan melalui 2 tahapan. Tahapan pertama dengan menggukur panjang badan, tinggi badan dan panjang telingga, untuk menjaring 100 kambing maju ke 10 nominasi. Setelah ketemu 10 nominasi, barulah tim juri yang terdiri dari 5 orang dan mayoritas pedagang kambing etawa senior, menilai kambing tersebut dengan gaya juri. Penilaian tahap ke dua terdiri dari keserasian pola warna pada kambing, bulu belakang, gombel, posisi kepala, posisi telinga, posisi ekor, kebersihan bulu dan kuku kambing. Penilaian tahap ke dua memang agak lebih ama dan rumit, hal ini disebabkan karena kambing etawa selain sebagai kambing produksi, kambing etawa juga sebagai kambing seni/hias, sehingga banyak variable yang harus di perhatikan.


Berikut ini hasil terakhir lomba yang di selenggarakan di kaliurang;


JUARA INDUK


NO PATHOK

NAMA PEMILIK

JUARA

ALAMAT

NAMA KAMBING

17

SILO PRASETYO

I

TLOGOGUWO,KALIGESING

KUNTHI

16

JIMAN DWI ISYANTO

II

GOGOLUWAS, KALIGESING

RINI G

07

TAMTO

III

GIRIKERTO, SLEMAN

SRIKANDI


JUARA CALON PEJANTAN


NO PATHOK

NAMA PEMILIK

JUARA

ALAMAT

NAMA KAMBING

11

PENDOWO SAKTI

I

TULUNG AGUNG

MARADONA

29

SUMARYANTO

II

BAYAN, PURWOREJO

BARET

36

SUYITNO

III

KEMIRI, PURWOREJO

MASTENG


JUARA JANTAN


NO PATHOK

NAMA PEMILIK

JUARA

ALAMAT

NAMA KAMBING

23

SUJONO

I

TLOGOGUWO, KALIGESING

SEMBODO

45

SUMARYANTO

II

KEBON AGUNG, PURWOREJO

BONDAN PRAKOSO

25

Y. SUMARNO

III

TLOGOGUWO, KALIGESING

SETYAKI


JUARA BETINA


NO PATHOK

NAMA PEMILIK

JUARA

ALAMAT

NAMA KAMBING

36

BADUWI

I

SIDOKARTO, GODEAN

ANGGUN

15

SETYO

II

KALIGESING

DESSY

8

MUSTAQIM

III

TURI, SLEMAN

KHANZA


GRAND CHAMPION


NO PATHOK

NAMA PEMILIK

JUARA

ALAMAT

NAMA KAMBING

11

Pendowo Sakti

GRAND CHAMPION

TULUNG AGUNG, JAWA TIMUR

MARADONA






powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes