14 Mei 2008

Serba-serbi penyebutan kambing PE

Serba-serbi Penyebutan kambing PE

Salam peternak !

Pembaca Blog yang terhormat, penulis kembali hadir untuk mengupdate informasi terbaru tentang kambing di Indonesia. Selaras dengan motto blog ini sebagai Blog Informasi Ternak kambing Indonesia”. Ide menulis artikel ini dari email yang dikirim kang Budhi dari Neqtasari Farm Ciwidey Bandung di milis Insan Peternakan tentang ajakan kepada penulis untuk sosialisasi ciri-ciri kambing PE.

Penulis berharap setelah ada tulisan ini mohon ada saran, masukan dan pencerahan dari teman di milis khususnya dan umumnya kepada para peternak, akademisi, kalangan Peneliti, pemerintah atau siapa saja yang peduli dengan salah plasma nutfah asli Indonesia yang seharusnya kita lestarikan. Rumusan secara resmi standarisasi kambing Peranakan Ettawa misalnya dalam bentuk SNI (Standar Nasional Indonesia). Sehingga tidak ada lagi kesimpang siuran informasi dan kesamaan untuk standar kambing Peranakan Ettawa (PE).

Menurut penulis hal ini penting, karena di lapangan ada beberapa kasus yang menarik untuk di cermati. Bulan Maret lalu, Mas Bondan wewakili teman-teman dari Asosiasi peternak kambing PE yang ada di Jogja pernah mengirimkan email kepada penulis, email itu dikirim setelah penulis mengirimkan pengumuman Kontes Kambing PE di Blitar hari Minggu 6 April lalu ke milis Insan Peternakan, intinya Mas Bondan dan teman-teman peternak kambing yang ada disana menanyakan standarisasi penilaian kontes kambing PE yang, lebih lanjut dalam emailnya menurut mas Bondan ketika Pemprop DIY mengadakan kontes kambing, ada ketidakjelasan kriteria terhadap kambing yang menang kontes.

Hal serupa juga terjadi di daerah penulis, kabupaten Blitar Jawa timur, ketika Dinas Peternakan Pemkab Blitar mengadakan kontes ternak tingkat kabupaten Blitar. Pemenang kontes kambing tingkat Kabupaten akan dibawa ke kontes ke tingkat Propinsi. Penulis menjumpai beberapa peternak yang ikut dalam kontes, mereka banyak mengeluh terhadap kriteria kambing yang memenangkan lomba, intinya kontes kambing menurut versi pemerintah adalah menurut bobot yang dicapai pada umur tertentu atau lebih ke pertumbuhan tanpa memperhatikan kesesuain postur kambing PE. Sehingga kambing yang postur jelek tetapi dari segi pertumbuhan bagus bisa memenangkan kontes. Sedangkan menurut peternak kambing PE atau lebih tepat disebut ”Penghobi” yang kini tergabung dalam Forum Komunikasi Peternak Kambing Ettawa Unggulan selain pertumbuhan juga pada nilai seni berupa keindahan postur tubuh kambing mulai bentuk telinga, kepala, bulu, warna dll.

Penulis mencermati beberapa tulisan dari berbagai sumber yang berhasil penulis dapatkan dari berbagai tulisan hasil browsing di internet, menurut penulis juga ada beberapa perbedaan dalam hal nama. Beberapa penyebutan diantaranya, Kambing Ettawa, Kambing Etawa, Kambing Ettawah, kambing Peranakan Ettawa (PE), kambing Peranakan Ettawah, di Malaysia sering disebut kambing Jamnapari.

Dari segi penyebutan nama saja sudah ada beberapa macam, apalagi dari ciri-cirnya. Para peternak kambing di daerah penulis di Blitar Jawa timur. Menyebut kambing PE itu kambing yang telinganya tidak lipat, lebar, orang Blitar menyebutnya ”Koploh” untuk menyebut telinga yang panjang lebar, tidak lipat, jadi mereka menganggap kalau Kambing PE itu Kambing yang ”tidak asli”. Karena biasanya merupakan persilangan kambing PE dengan kambing Jawa. Sedangkan yang kambing ”asli” orang Blitar lebih sering menyebut ”wedhus Tawa” (Indonesia:Kambing Tawa). Kambing PE yang ”asli” telinganya melipat lemas dengan lobang menghadap kedepan disebut sebagai ”Kambing Ettawa murni”. Sehingga dari segi harga lebih mahal dibandingkan dengan yang ”koploh” alias ”tidak murni” harga juga lebih murah. Warna juga berpengaruh terhadap harga, warga kepala hitam lebih mahal dibandingkan warga kepala coklat.


Wah...wah tambah bingung ya?.....ya itulah, namanya masyarakat khan punya kepentingan. Ada yang pengen menaikkan harga kambingnya, ada juga yang memang benar-benar ga’ tahu, atau malah ikut-ikutan menyebut. Itulah makanya di awal penulis menulis pentingnya STANDARISASI KAMBING PE. Di Bagian 2 tulisan ini penulis mencoba mengupas dari beberapa tulisan atau sumber mngenai sejarah, penamaan kambing PE.

Tulisan diatas adalah pendapat pribadi penulis hasil pengamatan langsung di lapangan, jika ada yang tidak berkenan penulis mohon sharing pendapat terutama dari para peneliti di kampus-kampus, para pakar kambing PE.

Salam peternak.

powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes