17 Mei 2008

Mas Bondan Dan Majalah Trobos

Tulisan dibawah ini penulis dapat dari situs : http://www.trobos.com silahkan cari di Blog ini lewat link Majalah di sebelah kanan postingan artikel ini. Menurut penulis, tulisan ini sangat menarik karena ini memuat pengalaman langsung dari peternak yang terjun langsung dalam bisnis Persusuan kambing. MAs Bondan adalah seorang Peternak Kambing PE di Sleman Jogja. penulis juga sudah ketemu darat dengan beliau pada waktu Kontes Kambing PE di Kota Blitar Jatim tanggal 6 April lalu. Bagi anda yang ingin atau sedang memulai bisnis kambing PE, ada baiknya menimba pengalaman mas Bondan yang sudah dimuat majalah TROBOS edisi Mei ini. Untuk kenal lebih jauh dengan Mas Bondan Silahkan Klik Link Blog Pternak sdisebelah kanan Poistingan ini. semoga Bermanfaat Bagi Pembaca Blog semuanya. Isi selengkapnya silahkan baca dibawah ini :


Pasar susu kambing PE sangat bagus, karena memiliki pasar khusus, yaitu warga keturunan Arab, kelas menengah atas, dan orang sakit

“Main di produksi susu itu gak prestise. Mau berkelas ya main bibit,” kata Bondan Danukusuma SE, peternak asal Sleman—Jogjakarta, menirukan celoteh teman-temannya sesama peternak kambing Peranakan Ettawa (PE). Ia memang bertekad beternak PE untuk memproduksi susu, meskipun juga mempunyai belasan kambing PE berharga belasan sampai duapuluhan juta seekor. “Dengan memproduksi susu ‘kan otomatis juga memproduksi bibit. Mana mungkin kambing keluar susunya kalau tidak dikawinkan,” cecar pejabat Humas di Asosiasi Peternak Kambing PE Sembada ini.
Selain itu, kesempatan masih sangat terbuka karena belum banyak peternak peminat yang terjun di segmen ini. Kalaupun kelak banyak peternak mengikuti jejaknya, ia telah siap dengan jaringan pasar di Jakarta dan Surabaya.

Pasar Susu Kambing
Bondan meyakini bahwa pasar susu kambing PE sangat bagus, karena memiliki pasar khusus, yaitu warga keturunan Arab, kelas menengah atas, dan orang sakit. Jamak, karena susu kambing diyakini mampu menyembuhkan penyakit asma. Antrean peminat menyebabkan pembeli yang datang hari ini baru bisa mendapatkan susu keesokan harinya. “Sejak awal tahun ini saya hanya mampu menyediakan rata-rata 30 liter sehari,” sesalnya.
Sampai kini, Bondan menampung susu yang disetor peternak dari sentra kambing PE Kaligesing-Purworejo dan Turi-Sleman seharga Rp 12.000,- / liter. Karena permintaan yang terus meningkat, ia mulai berpikir untuk memproduksi sendiri dengan pola pemberdayaan masyarakat.

Pola Usaha
Di bawah bendera Bumiku Hijau Farm, peternak muda jebolan FE Universitas Islam Indonesia ini terus mengembangkan formula usaha kambing PE perah. Tahun lalu, ia mencoba dengan membeli induk – induk laktasi kelas C di pasar. “Pilih yang bodinya ‘Dolly Parton’ alias ambingnya besar,” celetuk Bondan sambil terkekeh. Biasanya, induk – induk ini dijual sepaket dengan ‘cempe’-nya (anak kambing-red). Rata-rata, harga induk Rp 1,2 juta – Rp 1,3 juta. Cempe dijual lagi seharga Rp 100 ribu - 150 ribu per ekor atau dipelihara 1 bulan hingga laku di atas Rp 200 ribu/ekor (umumnya satu induk beranak 2). Sementara itu, induk diperah selama 2 bulan, dengan produksi rata-rata 1 – 2 liter/hari. Biaya pakan sehari cukup Rp 700,-, seharga konsentrat. Kalaupun hijauan dianggap beli, seekor kambing hanya perlu 3 kg ramban senilai Rp 500,-. Setelah 2 bulan (kering) induk itu dijual kembali seharga Rp 750 ribu – Rp 850 ribu.
Setiap 40 ekor kambing, hanya diperlukan 2 orang pekerja yang digaji Rp 600.000,-/bulan. “Anggap saja susunya dijual kepada pengepul seharga Rp 12.000/liter. Dengan perhitungan paling ‘pahit’ pun (rata-rata produksi 1 liter/hari), dengan skala 40 ekor akan ketemu keuntungan minimal Rp 8,7 juta selama 2 bulan itu,” papar Bondan. Sayangnya, kesulitan mendapatkan induk laktasi seumur dan berproduksi susu tinggi dalam jumlah besar menjadi kendala pola ini, sehingga setiap minggu mesti ke pasar. Kendati demikian, sampai akhir 2007 lalu ia sempat menerapkan pola ini dengan populasi 80 ekor.

Kemitraan
Kesulitan mendapatkan induk laktasi menyebabkan Bondan mencoba pola baru, bermitra dengan peternak kecil namun bukan sistem gaduhan. Meski baru merintis, ia sudah mengumpulkan induk sebanyak 316 ekor, beberapa sudah dikawinkan. “Saya coba dengan membeli induk-induk seharga Rp 2 juta, dikawinkan sendiri dengan pejantan yang bagus,” ungkapnya. Kambing seharga itu diharapkan kelak akan mampu menghasilkan susu minimal 2 liter / hari saat puncak laktasi.
Selama 6 bulan alias sampai beranak, kambing dititipkan ke peternak. Sebab, mayoritas kepala keluarga di sentra-sentra PE punya kandang, tetapi tidak ‘full’ isinya. Setiap peternak minimal mendapat 4 ekor, maksimal 6 ekor. “Agar tak keberatan cari pakan, namun tetap dapat uang pantas,” tukasnya. Selama itu, peternak diberi biaya pemeliharan dan pakan Rp 2.500,-/ekor/hari (Rp 300.000 / bulan / 4 ekor). Dengan demikian setelah dikurangi pembelian konsentrat Rp 700,-/hari, setiap peternak dapat uang minimal Rp 279.000,-/bulan.




powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes