30 Mei 2008

Tujuh Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia

(sumber : SINAR TANI Edisi 25 April - 1 Mei 2007)

Balai Penelitian Ternak Ciawi sudah memulai mengkarakterisasi kambing Kosta (tahun 1995) dan Gembrong (tahun 1997) serta dilanjutkan oleh Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih pada tahun 2000-2006 untuk penelitian/karakterisasi kambing Marica (Sulawesi Selatan), kambing Muara (Kabupaten Tapanuli Utara-Propinsi Sumatera Utara) dan kambing Samosir (Kabupaten Samosir- Propinsi Sumatera Utara).

Sampai saat ini sudah 7 bangsa kambing yang sudah dikarakterisasi karakteristik penotipenya, dan akan dilanjutkan untuk melaksanakan penelitian di beberapa daerah lain lagi (seperti kambing Benggala- Propinsi Nusa Tenggara Timur, Kambing Wetar- Propinsi Maluku). Diperkirakan masih banyak lagi bangsa kambing lokal Indonesia yang belum dapat dikarakterisasi dan sebagian mungkin sudah hampir punah atau jumlah populasinya sudah mendekati punah padahal kita belum sempat mengekplorasi potensi keragaman genetiknya untuk dimanfaatkan sebagai sumber peningkatan mutu genetik kambing di Indonesia.

1. KAMBING MARICA

Kambing Marica yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu genotipe kambing asli Indonesia yang menurut laporan FAO sudah termasuk kategori langka dan hampir punah (endargement). Daerah populasi kambing Marica dijumpai di sekitar Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Sopeng dan daerah Makassar di Propinsi Sulawesi Selatan. Kambing Marica punya potensi genetik yang mampu beradaptasi baik di daerah agro-ekosistem lahan kering, dimana curah hujan sepanjang tahun sangat rendah. Kambing Marica dapat bertahan hidup pada musim kemarau walau hanya memakan rumput-rumput kering di daerah tanah berbatu-batu.Ciri yang paling khas pada kambing ini adalah telinganya tegak dan relatif kecil pendek dibanding telinga kambing kacang. Tanduk pendek dan kecil serta kelihatan lincah dan agresif.

2. KAMBING SAMOSIR

Berdasarkan sejarahnya kambing ini dipelihara penduduk setempat secara turun temurun di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Kambing Samosir pada mulanya digunakan untuk bahan upacara persembahan pada acara keagamaan salah satu aliran kepercayaan aninisme (Parmalim) oleh penduduk setempat. Kambing yang dipersembahkan harus yang berwama putih, maka secara alami penduduk setempat sudah selektif untuk memelihara kambing mereka mengutamakan yang berwarna putih. Kambing Samosir ini bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ekosistem lahan kering dan berbatu-batu, walaupun pada musim kemarau biasanya rumput sangat sulit dan kering. Kondisi pulau Samosir yang topografinya berbukit, ternyata kambing ini dapat beradaptasi dan berkembang biak dengan baik.

3. KAMBING MUARA

Kambing Muara dijumpai di daerah Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara. Dari segi penampilannya kambing ini nampak gagah, tubuhnya kompak dan sebaran warna bulu bervariasi antara warna bulu coklat kemerahan, putih dan ada juga berwarna bulu hitam. Bobot kambing Muara ini lebih besar dari pada kambing Kacang dan kelihatan prolifik. Kambing Muara ini sering juga beranak dua sampai empat sekelahiran (prolifik). Walaupun anaknya empat ternyata dapat hidup sampai besar walaupun tanpa pakai susu tambahan dan pakan tambahan tetapi penampilan anak cukup sehat, tidak terlalu jauh berbeda dengan penampilan anak tunggal saat dilahirkan. Hal ini diduga disebabkan oleh produksi susu kambing relatif baik untuk kebutuhan anak kambing 4 ekor.

4. KAMBING KOSTA

Lokasi penyebaran kambing Kosta ada di sekitar Jakarta dan Propinsi Banten. Kambing ini dilaporkan mempunyai bentuk tubuh sedang, hidung rata dan kadangkadang ada yang melengkung, tanduk pendek, bulu pendek. Kambing ini diduga terbentuk berasal dari persilangan kambing Kacang dan kambing Khasmir (kambing impor). Hasil pengamatan, ternyata sebaran warna dari kambing Kosta ini adalah coklat tua sampai hitam. Dengan presentase terbanyak hitam (61 %), coklat tua (20%), coklat muda (10,2%), coklat merah (5,8%), dan abu-abu (3,4%). Pola warna tubuh umumnya terdiri dari 2 warna, dan bagian yang belang didominasi oleh warna putih.

5. KAMBING GEMBRONG

Asal kambing Gembrong terdapat di daerah kawasan Timur Pulau Bali terutama di Kabupaten Karangasem. Ciri khas dari kambing ini adalah berbulu panjang. Panjang bulu sekitar berkisar 15-25 cm, bahkan rambut pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Rambut panjang terdapat pada kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar 2-3 cm. Warna tubuh dominan kambing Gembrong pada umumnya putih (61,5%) sebahagian berwarna coklat muda (23,08%) dan coklat (15,38%). Pola warna tubuh umumnya adalah satu warna sekitar 69,23% dan sisanya terdiri dari dua warna 15,38% dan tiga warna 15,38%. Rataan litter size kambing Gembrong adalah 1,25. Rataan bobot lahir tunggal 2 kg dan kembar dua 1,5 kg. Tingkat kematian prasapih 20%.

6. KAMBING PERANAKAN ETTAWAH (ETTAWAH)

Peranakan Ettawa (PE) merupakan hasil persilangan antara kambing Ettawa (asal India) dengan kambing Kacang, yang penampilannya mirip Ettawa tetapi lebih kecil. Kambing PE tipe dwiguna yaitu sebagai penghasil daging dan susu (perah). Peranakan yang penampilannya mirip Kacang disebut Bligon atau Jawa randu, yang merupakan tipe pedaging. Ciri khas kambing PE antara lain; bentuk muka cembung melengkung dan dagu berjanggut, terdapat gelambir di bawah leher yang tumbuh berasal dari sudut janggut, telinga panjang, lembek menggantung dan ujungnya agak berlipat, ujung tanduk agak melengkung, tubuh tinggi, pipih, bentuk garis punggung mengombak ke belakang, bulu tumbuh panjang di bagian leher, pundak, punggung dan paha, bulu paha panjang dan tebal.

7. KAMBING KACANG

Kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia juga didapati di Malaysia dan Philipina. Kambing Kacang sangat cepat berkembang biak, pada umur 15-18 bulan sudah bisa menghasilkan keturunan. Kambing ini cocok sebagai pengasil daging dan kulit dan bersifat prolifik, sifatnya lincah, tahan terhadap berbagai kondisi dan mampu beradaptasi dengan baik di berbagai lingkungan yang berbeda termasuk dalam kondisi pemeliharaan yang sangat sederhana.

PENUTUP

Dari tujuh bangsa ternak kambing lokal Indonesia yang telah dikarakterisasi yang ternasuk kategori besar adalah kambing Peranakan Ettawa (PE) dan kambing Muara, kambing kategori sedang adalah kambing Kosta, Gembrong dan kategori kecil adalah kambing Kacang, kambing Samosir dan kambing Marica. Untuk menghindari beberapa jenis/bangsa kambing lokal Indonesia yang semakin habis atau punah maka sangat diharapkan partisipasi Pemerintah Daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Universitas serta lembaga lain untuk berupaya melakukan pelestarian dan eksplorasi potensi genetik Plasma Nutfah Kambing lokal Indonesia.


26 Mei 2008

PENGOBATAN TRADISIONAL PENYAKIT TERNAK KAMBING

PENDAHULUAN
Ternak kambing merupakan ternak yang umum dipelihara di pedesaan. Masalah
yang sering dijumpai adalah serangan penyakit yang sangat merugikan peternak
karena dapat menghambat pertumbuhan, reproduksi bahkan kematian ternak.
Bagi peternak di pedesaan untuk mengobati ternak yang sakit wring mengalami
kesulitan, karma jauh dari kota ( toko obat ) dan harga obat yang terlalu mahal
sehingga sulit terjangkau oleh peternak. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dicari
alternatif lain yaitu dengan menggunakan obat tradisional yang ada dan dapat
dilakukan peternak serta harganya murah. Namun demikian usaha pencegahan juga
perlu dilakukan dengan menjaga kebersihan ternak dan lingkungannya, pemberian
pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas), bersih dan tidak beracun.
Beberapa penyakit yang sering menyerang ternak kambing dan dapat diobati secara
tradisional diantaranya adalah sebagai berikut:
1. SCABIES (KUDIS)
Penyebab:
Parasit yang terdapat pada kotoran yang terjadi karena kandang kotor dan
ternak tidak pernah dimandikan.
Tanda- tanda:
- Kerak - kerak pada permukaan kulit
- Ternak selalu menggesekan bagian kulit yang terserang kudis
- Kerontokan bulu, kulit menjadi tebal dan kaku
Pengobatan :
Cukur bulu sekitar daerah terserang, mandikan ternak dengan sabun sampai
bersih, kemudian jemur sampai kering. Setelah kering dapat diobati dengan
menggunakan:
1. Belerang dihaluskan, dicampur kunyit dan minyak kelapa, kemudian
dipanaskan dan digosokkan pada kulit yang sakit.
2. Belerang dihaluskan dan dicampur dengan oli bekas dan digosok pada
bagian kulit yang sakit.
3. Kamper / kapur barus digerus, dicampur minyak kelapa dan dioleskan
pada bagian kulit yang sakit.
Pencegahan:
- Ternak yang berpenyakit kudis tidak boleh bercampur dengan ternak yang
sehat.
- Ternak yang baru dibeli harus bebas dari penyakit kudis
- Mandikan ternak dua minggu sekali.
- Bersihkan kandang seminggu sekali.
2. BELATUNGAN ( MYASIS )
Penyebab:
Luka daerah yang berdarah diinfeksi oleh lalat sehingga lalat berkembang
biak (bertelur) dan menghasilkan larva belatung.
Tanda-tanda:
- Adanya belatung yang bergerak-gerak pada bagian yang luka
- Bila belatungan pada kaki/teracak maka ternak terlihat pincang.
Pengobatan:
- Bersihkan luka dari belatung, kemudian obati dengan gerusan
kamper/kapur barus atau tembakau.
- Luka dibungkus dengan kain/perban untuk melindungi dari terjadinya luka
baru atau kotoran.
- Pada hari berikutnya luka dibersihkan, pengobatan diulang dan dibungkus
kembali. Biasanya dua atau tiga kali pengobatan sudah sembuh.
- Bila belatung sudah terbasmi, pemberian yodium tinctur dapat dipakai
untuk mempercepat pertumbuhan.
3. CACINGAN
Penyebab:
Bermacam-macam cacing terjadi karena kandang yang kotor atau padang
pengembalaan yang kotor.
Tanda-tanda:
- Kurus, bulu agak berdiri dan tidak mengkilap
- Sembelit atau mencret
- Lesu dan pucat
- Daerah rahang terlihat membengkak
- Mati mendadak
Pengobatan:
1. Tepung buah pinang dicampur dengan nasi hangat dikepal-kepal
kemudian dipaksakan untuk dimakan ternak. Ternak dianjurkan untuk
dipuasakan terlebih dahulu.
2. Daun kelor yang tua dibakar, kemudian debunya dicampur air dan
diminumkan. Pengobatan diulangi satu minggu kemudian.
Pencegahan:
- Kandang dibuat panggung dan bersih
- Pengaritan rumput setelah panas yaitu pada jam 12.00-15.00 atau
pengembalaan ternak pada siang hari jam 10.00-15.00.
- Jangan menggembalakan ternak pada daerah rawa, sungai dan sawah.
4. KERACUNAN TANAMAN
Penyebab:
- Ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung
zat racun.
Tanda-tanda:
- Mati mendadak, mulut berbusa, kebiruan pada selaput lendir,
pengelupasan kulit/eksim atau terjadi pendarahan.
Pengobatan:
- Cekoklah ternak dengan air kelapa muda.
Pencegahan:
- Tidak memberikan tanaman beracun atau menggembalakan ternak di
daerah yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun.

sumber:http://alveoli.wordpress.com/2008/03/28/pengobatan-tradisional-penyakit-ternak-kambing/


Memulai Usaha Peternakan

A. Memulai Usaha Peternakan
Ada beberapa cara untuk memulai usaha peternakan kambing peranakan etawa. Berikut ini cara-cara yang dimaksud.
a. Memilih Bakalan
Pemilihan bakalan kambing etawa biasanya dilakukan sejak kambing betina lepas sapih atau umurnya mencapai 4 atau 5 bulan. Pemeliharaan sejak lepas sapih ini membutuhkan waktu yang sangat lama hingga kambing beranak. Kebiasaan peternak, kambing etawa dikawinkan saat kambing berumur sekitar 16-18 bulan. Dengan masa kebuntingan 150 hari (sekitar 5 bulan), kambing akan mulai berproduksi pada umur 21-23 bulan. Jika diperhitungkan, pemeliharaan sejak bakalan sampai masa produksi membutuhkan waktu yang sangat lama. Belum lagi jika hasil produksinya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Secara teoritis, sebenarnya kambing etawa bisa dikawinkan setelah mengalami siklus birahi. Biasanya terjadi pada umur 8-12 bulan, rentang waktu yang cukup lama dalam menunggu masa produksi bisa dipercepat.
b. memelihara kambing dara
kambing etawa disebut dalam periode kambing dara jika sudah mengalami siklus birahi. Sebenarnya saat itu kambing etawa sudah bisa mulai dikawinkan, tetapi kondisi tubuhnya belum sepenuhnya mampu menunjang proses pertumbuhan janin di dalam kandungannya. Karenanya, dibutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan lagi. Setelah mengalami 2-3 kali masa birahi, kambing baru bisa dikawinkan,. Jika kambing tidak mengalami kebuntingan, perkawinan dapat diulang pada periode berikutnya. Jika terjadi kebuntingan, kambing akan beranak setelah 150 hari atau 5 bulan.
c. memelihara kambing yang sedang laktasi
ada kalanya beberapa peternak yang sedang memebutuhkan uang menjual kambing etawa dalam kondisi yang sedang laktasi atau kondisi menyusui. Tidak semua kambing etawa yang sedang dalam kondisi menyusui bisa dibeli. Ada beberapa criteria yang harus dipenuhi jika peternak berminat untuk membeli kambing etawa yang sedang dalam masa menyusui, antara lain ambing yang terlihat besar dan bentuknya yang simetris. Indicator lain yang sangat menentukan tinggi rendahnya produksi susu kambing adalah, kondisi cempe yang ikut dibawa. Jika cempe yang dibawa gemuk, berarti produksi susu kambingnya banyak dan induk tersebut bisa di beli. Namun, jika cempe kurus, berarti produksi susu induk kurang, dan induk jangan dibeli. Satu indicator lain yang tidak berkaitan langsung dengan produksi susu, tetapi berpotensi meningkatkan pendapatan adalah jumlah anak, sebaiknya induk tersebut beranak minimum kembar dua.
d. menciptakan trah kambing melalui program seleksi dan penerapan sisitem perkawinan
menciptakan trah kambing melalui program seleksi dan penerapan sisitem perkawinan tergolong cara yang paling baik, tetapi membutuhkan waktu yang sangat lama dan biaya yang sangat besar. Namun, jika peternak sudah berhasil menciptakan suatu trah kambing dengan tingkat produksi yang tinggi, penghasilan peternak otomatis akan semakin tinggi pula. System perkawinan yang dilakukan adalah perkawinan inbredding (silang dalam). System ini biasanya sangat dihindari oleh para peternak karena akan memunculkan dampak negative terhadap hewan ternak akibat berkumpulnya gen-gen yang bersifat resesif dan berpengaruh buruk terhadap penampilan ternak. Namun, dampak tersebut merupakan konsekuensi yang harus dijalani peternak untuk memperoleh bibit kambing yang bermutu tinggi, karena sebesar kemungkinan munculnya kambing-kambing yang rendah produksinya, sebesar itu pula kemungkinan munculnya bibit-bibit kambing yang bermutu tinggi.
Jika ingin menciptakan trah seperti yang dimaksud, pertamakali yang harus dilakuakan oleh peternak adalah mencari induk yang memiliki produksi tinggi dan pejantan yang memiliki induk dengan tingkat produksi yang tinggi pula. Lebih baik lagi jika keduanya berasal dari induk dan pejantan yang sama (kelahiran kembar). Jika sudah cukup umur, induk dan pejantan tersebut dikawinkan. Dengan manajemen yang baik, kambing bisa beranak 3 kali dalam 2 tahun. Jika induk bisa menghasilkan dua ekor cempe dalam sekali beranak, dalam 2 tahun bisa di hasilkan 6 ekor cempe. Cempe-cempe jantan dijual setelah pemeliharaan 4-5 bulan. Sementara itu, cempe betina terus dipelihara sampai dewasa kelamin, dan jika sudah cukup umur dekawinkan dengan pejantan nenek moyangnya. Jika pejantan nenek moyangnya sudah mati atau tidak terlalu kuat, bisa digantikan dengan pejantan lain yang masih sedarah. Dari perkawinan-perkawinan ini akan menghasilkan individu-individu baru yang variasinya sangat levbar. Tetapi semakin lama variasinya akan semakin mengecil dan mendekati seragam. Individu-individu yang tingkat produksinya tinggi terus dipelihara sebagai induk, sedangkan individu-individu yang tingkat produksinya rendah dapat dijual.
Sumber: http://alveoli.wordpress.com

Ketika Bayiku Alergi Susu Sapi



Susu kambing banyak direkomendasikan sebagai bahan substitusi bagi bayi, anak, dan orang dewasa yang alergi terhadap susu sapi ataupun berbagai jenis makanan lainnya. Pada bayi, alergi terhadap susu sapi (cow milk allergy) banyak dijumpai, akan tetapi mekanisme terjadinya alergi masih belum jelas.

Bagi bayi yang alergi terhadap susu sapi jika diberikan susu sapi terus-menerus akan menyebabkan reaksi pembesaran lamina propia dan peningkatan permeabilitas molekur makro dan aktivitas elektrogenik lapisan epitel. Gejala klinis seperti ini akan hilang jika bayi tersebut diberikan makanan bebas susu sapi. Jadi, potensi susu kambing sebagai pengganti susu sapi pada bayi ataupun pasien yang alergi terhadap susu sapi sangatlah besar.

Gejala alergi terhadap protein susu biasanya timbul pada bayi yang berumur dua sampai empat minggu, dan gejalanya akan semakin jelas pada saat bayi berumur enam bulan. Bagian tubuh yang terserang alergi ini adalah saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan kulit. Gejala-gejala yang tampak akibat alergi terhadap protein susu di antaranya muntah, diare, penyerapan nutrisi yang kurang sempurna, asma, bronkitis, migren, dan hipersensitif.

Gejala patologis yang terlihat pada bayi yang alergi terhadap susu sapi di antaranya iritasi usus halus, lambat pertambahan bobot badannya, volume feces yang berlebihan, dan bau yang khas. Akan tetapi, perlu diingat bahwa sering kali gejala ini dicampuradukkan dengan gejala tidak tolerannya seseorang terhadap laktose (lactose intolerance).

Kelebihan susu kambing

Susu kambing dilaporkan telah banyak digunakan sebagai susu pengganti susu sapi ataupun bahan pembuatan makanan bagi bayi-bayi yang alergi terhadap susu sapi. Alergi pada saluran pencernakan bayi dilaporkan dapat berangsur-angsur disembuhkan setelah diberi susu kambing. Dilaporkan bahwa sekitar 40 persen pasien yang alergi terhadap protein susu sapi memiliki toleransi yang baik terhadap susu kambing. Pasien tersebut kemungkinan besar sensitif terhadap lactoglobulin yang terkandung pada susu bangsa sapi tertentu.

Diduga protein susu (-lactogloglobulin yang paling bertanggung jawab terhadap kejadian alergi protein susu.Susu kedelai sering pula digunakan sebagai salah satu alternatif pengganti susu sapi bagi bayi yang alergi terhadap susu sapi. Walaupun demikian, masih terdapat sekitar 20 persen-50 persen dari bayi-bayi yang diteliti memperlihatkan gejala tidak toleran terhadap susu kedelai. Oleh sebab itu, susu kambing bubuk lebih direkomendasikan untuk susu bayi.

Panas yang digunakan selama proses pengolahan susu mengurangi reaksi alergi. Denaturasi panas merubah struktur dasar protein dengan cara menurunkan tingkatan alerginya.Susu kambing mengandung lebih banyak asam lemak berantai pendek dan sedang (C4:0-C12:0) jika dibandingkan dengan susu sapi. Perbedaan ini diduga menyebabkan susu kambing lebih mudah dicerna.

Ukuran butiran lemak susu kambing lebih kecil jika dibandingkan dengan susu sapi atau susu lainnya. Sebagai gambaran ukuran butiran lemak susu kambing, sapi, kerbau, dan domba bertutur-turut adalah: 3,49, 4,55, 5,92, dan 3,30 mm.Dari hasil penelitian Mack pada tahun 1953 disimpulkan bahwa kelompok anak yang diberi susu kambing memiliki bobot badan, mineralisasi kerangka, kepadatan tulang, vitamin A plasma darah, kalsium, tiamin, riboflavin, niacin, dan konsentrasi hemogloninnya yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok anak yang diberi susu sapi.

Disamping itu, susu kambing memiliki kapasitas bufer yang lebih baik, sehingga bermanfaat bagi penderita gangguan pencernaan.Kandungan folic acid dan Vitamin B12 yang rendah merupakan kelemahan susu kambing. Selain kelemahan ini, susu kambing dapat dikatakan merupakan makanan yang sempurna. Komposisi dan struktur lemak susu kambing dan sapi memiliki perbedaan. Butiran lemak susu kambing berukuran 2 mikrometer, sementara lemak susu sapi berukuran 2,5 - 3,5 mikrometer. Dengan ukuran lemak lebih kecil, susu kambing lebih cepat terdispersi dan campurannya lebih homogen (merata).

Susu sapi dibuat homogen dengan perlakuan mekanis. hal itu menyebabkan ikatan lemak susu sapi dipecahkan dan enzim yang terikat di dalamnya, oksida santin (xanthine oxidase) memasuki dinding pembuluh darah dan ikut dalam aliran darah. Enzim itu dapat memengaruhi jantung dan saluran arteri. Akibatnya, tubuh dirangsang melepaskan kolesterol ke dalam darah sebagai bentuk pertahanan terhadap materi lemak. Kejadian itu dapat menyebabkan arteriosklerosis (pengapuran pembuluh nadi). Akan lain kejadiannya jika susu sapi tetap dalam kondisi alami yaitu tidak homogen (unhomogenized). Dengan demikian enzim oksida santin tidak terurai dan dikeluarkan dari tubuh tanpa diserap.

Perbedaan lain adalah susu sapi memiliki banyak lemak dengan rantai asam lemak pendek. Lantas kandungan eter gliserol (glycerol ethers) pada susu kambing jauh lebih banyak dibandingkan susu sapi. Kandungan unsur itu sangat bermanfat bagi bayi dibandingkan susu formula asal sapi.Susu kambing juga mengandung lebih sedikit asam orotic yang akan berpengaruh baik bagi pencegahan sindrom pelemakan hati. Baik susu sapi dan susu kambing memiliki tingkat keasaman dengan pH antara 6,4 - 6,7. Kandungan protein susu kambing dan sapi relatif sama, meski unsur (alfa-s-1-) kasein pada susu sapi tidak ada pada susu kambing.

Sementara vitamin A susu kambing lebih banyak, demikian pula dengan Vitamin B, terutama riboflavin dan niacin, meski harus diakui kandungan vitamin B6 dan B12 pada susu sapi jauh lebih banyak. Susu kambing juga kaya kandungan mineral, kalsium, potasium, magnesium, fosfor, klorin dan mangan. Kandungan unsur sodium, besi, sulfur, seng dan molibdenum lebih rendah.Kandungan enzim ribonuklease, alkaline phosphatase, lipase dan xanthine oxidase pada susu kambing juga lebih rendah.

Memang, susu kambing tidak akan pernah menggantikan kesuksesan komersial susu sapi. Tapi susu kambing sangat bermanfaat sebagai pangan alternatif pada anak-anak, penderita sakit karena sifatnya mudah dicerna.Susu kambing juga bisa diolah menjadi berbagai produk, mulai dari minuman, makanan hingga kosmetika. Campuran susu kambing, minyak olive, kelapa, kedelai, bubuk cokelat dan sodium hidroksida merupakan bahan sabun yang lembut, sekaligus menjaga kelembaban kulit.Susu kambing juga menjadi bahan pembuatan cairan pelembab (lotion), lipstik dan garam untuk mandi.

Dibandingkan sabun biasa yang menyebabkan kulit kering, susu kambing yang diproses menjadi sabun secara manual pada suhu dingin bisa mempertahan kandungan alami gliserin yang baik bagi kulit. Bagi penderita eksim, jerawat atau kulit peka, sabun dari bahan susu kambing bisa membantu mengatasi persoalannya.

Dr Ir Ronny Rachman Noor MRur Sc Laboratorium Pemuliaan dan Genetika Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
disadur dari balita-anda.com



17 Mei 2008

Mas Bondan Dan Majalah Trobos

Tulisan dibawah ini penulis dapat dari situs : http://www.trobos.com silahkan cari di Blog ini lewat link Majalah di sebelah kanan postingan artikel ini. Menurut penulis, tulisan ini sangat menarik karena ini memuat pengalaman langsung dari peternak yang terjun langsung dalam bisnis Persusuan kambing. MAs Bondan adalah seorang Peternak Kambing PE di Sleman Jogja. penulis juga sudah ketemu darat dengan beliau pada waktu Kontes Kambing PE di Kota Blitar Jatim tanggal 6 April lalu. Bagi anda yang ingin atau sedang memulai bisnis kambing PE, ada baiknya menimba pengalaman mas Bondan yang sudah dimuat majalah TROBOS edisi Mei ini. Untuk kenal lebih jauh dengan Mas Bondan Silahkan Klik Link Blog Pternak sdisebelah kanan Poistingan ini. semoga Bermanfaat Bagi Pembaca Blog semuanya. Isi selengkapnya silahkan baca dibawah ini :


Pasar susu kambing PE sangat bagus, karena memiliki pasar khusus, yaitu warga keturunan Arab, kelas menengah atas, dan orang sakit

“Main di produksi susu itu gak prestise. Mau berkelas ya main bibit,” kata Bondan Danukusuma SE, peternak asal Sleman—Jogjakarta, menirukan celoteh teman-temannya sesama peternak kambing Peranakan Ettawa (PE). Ia memang bertekad beternak PE untuk memproduksi susu, meskipun juga mempunyai belasan kambing PE berharga belasan sampai duapuluhan juta seekor. “Dengan memproduksi susu ‘kan otomatis juga memproduksi bibit. Mana mungkin kambing keluar susunya kalau tidak dikawinkan,” cecar pejabat Humas di Asosiasi Peternak Kambing PE Sembada ini.
Selain itu, kesempatan masih sangat terbuka karena belum banyak peternak peminat yang terjun di segmen ini. Kalaupun kelak banyak peternak mengikuti jejaknya, ia telah siap dengan jaringan pasar di Jakarta dan Surabaya.

Pasar Susu Kambing
Bondan meyakini bahwa pasar susu kambing PE sangat bagus, karena memiliki pasar khusus, yaitu warga keturunan Arab, kelas menengah atas, dan orang sakit. Jamak, karena susu kambing diyakini mampu menyembuhkan penyakit asma. Antrean peminat menyebabkan pembeli yang datang hari ini baru bisa mendapatkan susu keesokan harinya. “Sejak awal tahun ini saya hanya mampu menyediakan rata-rata 30 liter sehari,” sesalnya.
Sampai kini, Bondan menampung susu yang disetor peternak dari sentra kambing PE Kaligesing-Purworejo dan Turi-Sleman seharga Rp 12.000,- / liter. Karena permintaan yang terus meningkat, ia mulai berpikir untuk memproduksi sendiri dengan pola pemberdayaan masyarakat.

Pola Usaha
Di bawah bendera Bumiku Hijau Farm, peternak muda jebolan FE Universitas Islam Indonesia ini terus mengembangkan formula usaha kambing PE perah. Tahun lalu, ia mencoba dengan membeli induk – induk laktasi kelas C di pasar. “Pilih yang bodinya ‘Dolly Parton’ alias ambingnya besar,” celetuk Bondan sambil terkekeh. Biasanya, induk – induk ini dijual sepaket dengan ‘cempe’-nya (anak kambing-red). Rata-rata, harga induk Rp 1,2 juta – Rp 1,3 juta. Cempe dijual lagi seharga Rp 100 ribu - 150 ribu per ekor atau dipelihara 1 bulan hingga laku di atas Rp 200 ribu/ekor (umumnya satu induk beranak 2). Sementara itu, induk diperah selama 2 bulan, dengan produksi rata-rata 1 – 2 liter/hari. Biaya pakan sehari cukup Rp 700,-, seharga konsentrat. Kalaupun hijauan dianggap beli, seekor kambing hanya perlu 3 kg ramban senilai Rp 500,-. Setelah 2 bulan (kering) induk itu dijual kembali seharga Rp 750 ribu – Rp 850 ribu.
Setiap 40 ekor kambing, hanya diperlukan 2 orang pekerja yang digaji Rp 600.000,-/bulan. “Anggap saja susunya dijual kepada pengepul seharga Rp 12.000/liter. Dengan perhitungan paling ‘pahit’ pun (rata-rata produksi 1 liter/hari), dengan skala 40 ekor akan ketemu keuntungan minimal Rp 8,7 juta selama 2 bulan itu,” papar Bondan. Sayangnya, kesulitan mendapatkan induk laktasi seumur dan berproduksi susu tinggi dalam jumlah besar menjadi kendala pola ini, sehingga setiap minggu mesti ke pasar. Kendati demikian, sampai akhir 2007 lalu ia sempat menerapkan pola ini dengan populasi 80 ekor.

Kemitraan
Kesulitan mendapatkan induk laktasi menyebabkan Bondan mencoba pola baru, bermitra dengan peternak kecil namun bukan sistem gaduhan. Meski baru merintis, ia sudah mengumpulkan induk sebanyak 316 ekor, beberapa sudah dikawinkan. “Saya coba dengan membeli induk-induk seharga Rp 2 juta, dikawinkan sendiri dengan pejantan yang bagus,” ungkapnya. Kambing seharga itu diharapkan kelak akan mampu menghasilkan susu minimal 2 liter / hari saat puncak laktasi.
Selama 6 bulan alias sampai beranak, kambing dititipkan ke peternak. Sebab, mayoritas kepala keluarga di sentra-sentra PE punya kandang, tetapi tidak ‘full’ isinya. Setiap peternak minimal mendapat 4 ekor, maksimal 6 ekor. “Agar tak keberatan cari pakan, namun tetap dapat uang pantas,” tukasnya. Selama itu, peternak diberi biaya pemeliharan dan pakan Rp 2.500,-/ekor/hari (Rp 300.000 / bulan / 4 ekor). Dengan demikian setelah dikurangi pembelian konsentrat Rp 700,-/hari, setiap peternak dapat uang minimal Rp 279.000,-/bulan.




BBM dan Nasib Petani Peternak


Kalau BBM naik lagi , mungkin singkatannya harus diganti, menjadi BBM (Benar-Benar Mahal) atau Barang Barang Mahal). Itulah isu yang sekarang lagi santer diberitakan di media massa. Kebijakan kenaikan harga BBM adalah kebijakan yang tidak populer dimata rakyat. Pemerintah beralasan kebijakan kenaikan BBM, adalah untuk mengurangi beban APBN yang semakin membengkak akibat kenaikan minyak dunia. Dan pengurangan subsidi BBM adalah untuk masa depan bangsa?? Bahkan wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan dalam satu kesempatan 80 % subsidi BBM selama ini hanya diterima oleh orang kaya. Kebijakan ini menurut beberapa sumber managemen bangsa ini sudah sama dengan sebuah perusahaan, dimana sistem kapitalisme yang dipakai tanpa memperdulikan lagi kepentingan rakyat.

Sangat ironis memang, negeri kita yang kaya akan minyak justru tidak bisa menikmati kemakmuran akibat kenaikan harga minyak dunia. Justru sebaliknya. Kelangkaan BBM terjadi dimana-mana, di SPBU masyarakat dilarang untuk membeli BBM memakai jerigen. Sampai petani demo ke jalan karena traktor mereka tidak bisa jalan untuk menggarap lahan. Setiap hari media massa memuat mahasiswa dan masyarakat demo menolak kenaikan BBM. Bahkan sempat terjadi beberapa tindakan anarkis. Inilah yang sangat kita sesalkan.

Menurut mahasiswa pemerintah harus mengambil cara lain selain menaikkan BBM, misalnya pengembalian kembali uang negara yang sudah dibawa para korutor, atau penangguhan pembayaran utang. Bahkan tokoh nasional Amien Rais sempat mengatakan dalam sebuah wawancara di salah satu TV swasta, memberikan wacana bahwa pemimpin Indonesia harus berani melakukan renegosiasi ulang kontrak karya terkait dengan proyek antara pemerintah dengan pihak asing yang notabene merugikan bangsa kita.

Itulah sederetan fakta yang sedang dihadapi negeri kita, haruskah kita berpangku tangan menghadapi semua ini ? Tentu tidak kita sebagai rakyat harus tetap kuat dan bertahan menghadapi semua ini. Penulis akan coba mengomentari beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai rakyat dari sisi dunia penulis sebagai petani dan peternak. Kenaikan BBM jelas membawa dampak langsung terhadap usaha bidang pertanian. Misalnya peternak butuh bekatul untuk bahan pakan ternaknya jelas harganya akan naik karena ongkos selep huler bertambah karena solarnya juga naik. Ongkos Pengangkutan dedak ke farm otomatis juga naik karena harga BBM juga naik.

Namun menurut penulis, kita masih bisa menyiasati dengan beberapa cara. Justru di tengah kesulitan biasanya kita lebih bisa memanfaatkan potensi yang ada. Peternakan mempunyai potensi yang bisa dikembangkan untuk sumber energi baru. Biogas adalah gas yang terdapat dari kotoran ternak atau feces ternak, selama ini menurut penulis kurang dimanfaatkan oleh peternak atau masyarakat padahal kalau dikembangkan bisa menggantikan energi lain seperti minyak tanah. Anggaran untuk membeli gas bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lain. Bahkan pemerintah sudah mencanagkan program desa mandiri energi yatu dengan Biogas.

Komponen biaya transportasi dalam satu usaha adalah penting. Langkah penghematannya misalnya untuk mengakut empat ekor kambing dulu mungkin kita menggunakan kendaraan bak terbuka atau Pikup. Sekarang mungkin bisa kita lakukan dengan sepeda motor roda 3 (mochin) atau sepeda motor dengan ”Obrok” atau gerobak .

Pada kondisi peternakan yang menggunakan pakan komplit atau pakan konsentrat hasil survey penulis di beberapa pabrikan yang ada di Blitar juga sudah menaikkan harga karena ada beberapa komponen bahan yang sudah naik. Salah satu solusinya yang bisa dilakukan peternak ruminasia adalah mencari alternatif bahan baku yang murah, dengan ketersedian banyak. Cara lain yang dapat dilakukan adalah menambahkan cairan probiotik tertentu yang bisa menaikkan daya cerna dan palatabilitas pakan sehingga lebih memaksimalkan produksi karena pakan lebih terserap sempurna walaupun kondisi pakan mungkin lebih jelek. Karena secara prinsip ternak ruminansia bisa memanfaatkan kondisi pakan yang jelek untuk produksinya.

Namun ide penulis diatas belum tentu bisa diterapkan disemua daerah, , namun setidaknya menjadi inspirasi bagi pembaca blog sekalian. Tentunya pembaca akan lebih bisa menganalisa apa yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi daerah pembaca. Maju terus pantas mundur,



14 Mei 2008

STANDARDISASI MUTU BIBIT KAMBING PE (PERANAKAN ETTAWA)

Denie Heriyadi

http://blogs.unpad.ac.id/domba_kambing/?p=20


Penelitian mengenai standardisasi mutu bibit Kambing PE telah dilakukan di
sentra-sentra pembibitan Kambing PE yang tersebar di tiga kabupaten di Jawa Barat, yaitu di Kabupaten Sumedang, Tasikmalaya, dan Bogor, serta di UPT Kaligesing, Desa Kalilo, dan Kelompok Tani Ternak Anjani, Desa Tlogoguwo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.
Tujuan Penelitian adalah Untuk mengetahui performa fisik Kambing PE yang ada di beberapa wilayah sumber bibit Kambing PE, baik dari aspek-aspek kuantitatif mau pun kualitatif dan untuk mengetahui identitas sifat-sifat kuantitatif dan kualitatif Kambing PE, sebagai dasar dalam membuat standardisasi Kambing PE.
Teknik penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian, yaitu teknik PPS (Probability Proportionate to Size), teknik PPS ini merupakan pengembangan dari pengambilan sampel secara bertingkat (Multistage Random Sampling) dengan pemilihan PSU (Primary Sampling Unit) yang dilakukan secara proporsional. Penelitian difokuskan di desa-desa sumber bibit Kambing PE. Kambing PE yang diamati (Sampling Frame) adalah kambing yang berumur 6 bulan – 1 tahun, > 1 – 2 tahun, > 2 – 4 tahun.
Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitik-obsevasional. Parameter yang diukur dalam mendeterminasi sifat-sifat kualitatif atau sifat kualitatif yang dikuantifikasikan, adalah : umur, motif bulu, ukuran kuping, ukuran tanduk, dan panjang bulu rewos pada paha kaki belakang, sedangkan sifat-sifat kuantitatif yang diukur, adalah : bobot badan, panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, dan produksi susu.
Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 318 ekor Kambing PE, terdiri atas 115 ekor Kambing PE jantan dan 203 ekor Kambing PE betina.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa standar Kambing PE adalah sebagai berikut :

(1) Tabel Standar Kambing PE (Peranakan Ettawa) Jantan

No Standar Sifat Kuantitatif UMUR KAMBING PE JANTAN
6 Bulan – 1 Tahun >1 – 2 Tahun >2 – 4 Tahun

1 Bobot Badan, kg 28,56 SD 5,53 39,44 SD 9,07 53,49 SD 11,95
2 Tinggi Pundak, cm 66,98 SD 5,66 74,85 SD 8,19 86,57 SD 5,19
3 Panjang Badan, cm 52,31 SD 8,47 61,3 SD 7,61 63,07 SD 4,91
4 Lingkar Dada, cm 70,64 SD 6,12 79,51 SD 8,52 89,29 SD 8,11
5 Dalam Dada, cm 26,32 SD 2,75 30,49 SD 4,22 33,32 SD 3,00
6 Lebar Dada, cm 15,07 SD 1,58 17,62 SD 2,33 19,61 SD 1,90
7 Ukuran Tanduk :
7.1 Panjang Tanduk, cm 8,64 SD 3,02 14,20 SD 4,42 -
7.2 Lingkar Pangkal Tdk, cm 9,59 SD 1,96 12,90 SD 2,05 -
7.3 Jarak antar Tanduk, cm 3,93 SD 0,90 4,00 SD 0,62 4,28 SD 0,65
8 Telinga :
8.1 Panjang Telinga, cm 23,38 SD 3,75 26,26 SD 4,49 29,50 SD 4,23
8.2 Lebar Telinga, cm 10,55 SD 1,10 11,79 SD 1,07 -
9 Panjang Bulu Rewos, cm 10,75 SD 4,05 13,72 SD 5,63 20,09 SD 4,81

(2) Tabel Standar Kambing PE (Peranakan Ettawa) Betina

No Standar Sifat Kuantitatif UMUR KAMBING PE BETINA
6 Bulan – 1 Tahun >1 – 2 Tahun >2 – 4 Tahun

1 Bobot Badan, kg 21,80 SD 5,21 34,23 SD 6,81 40,85 SD 7,29
2 Tinggi Pundak, cm 60,06 SD 5,47 70,91 SD 5,29 74,53 SD 5,16
3 Panjang Badan, cm 49,60 SD 5,56 56,67 SD 5,81 60,24 SD 5,50
4 Lingkar Dada, cm 62,77 SD 5,79 75,72 SD 6,89 81,40 SD 7,00
5 Dalam Dada, cm 22,53 SD 2,45 28,49 SD 2,56 30,78 SD 2,18
6 Lebar Dada, cm 15,74 SD 2,44 17,31 SD 1,99 18,19 SD 2,11
7 Ukuran Tanduk, cm
7.1 Panjang Tanduk, cm 5,87 SD 2,66 10,54 SD 4,58 12,89 SD 5,04
7.2 Lingkar Pangkal Tanduk, cm 6,66 SD 1,68 9,00 SD 1,51 9,60 SD 1,89
7.3 Jarak antar Tanduk, cm 4,12 SD 0,58 4,06 SD 0,71 4,06 SD 0,68
8 Telinga :
8.1 Panjang Telinga, cm 24,15 SD 3,50 25,61 SD 2,48 26,60 SD 3,35
8.2 Lebar Telinga, cm 10,37 SD 1,17 10,66 SD 1,24 11,10 SD 1,33
9 Panjang Bulu Rewos, cm 10,87 SD 4,17 14,01 SD 6,09 14,30 SD 4,94




Ciri-ciri Kambing PE Menurut Berbagai Sumber


Menjawab beberapa pertanyaan dari email kang Budhi dari Neqtasari Farm Bandung tentang sosialisasi Standarisasi kambing PE di Milis Insan Peternakan. Menurut penulis standarisasi Kambing PE bukan hanya pada ciri-ciri fisik namun juga nama. Penulis coba kumpulkan beberapa Informasi dari berbagai sumber yang menulis menurut versinya sendiri-sendiri. Umumnya memuat ciri-ciri, asal-usul dan Kambing Peranakan Ettawa.

Tulisan dibawah ini saya dapat dari iklan Koperasi Serba Usaha ”Krida Satwa” Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo dari sumber Purworejonews.com: penulis ketik kembali dari isinya sebagai berikut :

Pada tahun 1923 di daerah Kaligesing Kabupaten Purworejo di datangkan kambing dari distrik Ettawa India dengan Fries Indie. Kambing tersebut secara turun temurun dipelihara di daerah kecamatan Kaligesing hingga sekarang. Berat badannya mencapai 80-110 kg. Perkembangan kambing di Kecamatan Kaligesing baik sehingga terkenal dengan Peranakan Ettawa (PE) Ras Kaligesing

Ciri-ciri Kambing Peranakan Ettawa (PE) Ras Kaligesing

  1. Badan besar
  2. Tinggi gumba jantan 90-110 cm betina 70-90 cm
  3. Berat hidup jantan 65-90 kg, betina 45-70 kg
  4. Panjang badan jantan 85-105 cm, betina 65-85 cm
  5. Kepala tegak, garis profil melengkung
  6. Jantan dan betina tanduk mengarah ke belakang
  7. Telinga lebar menggantung panjang serta melipat pa da ujungnya. Panjang jantan 25-41 cm betina 8-14 cm
  8. Ambing berkembang baik, puting susu besar dan panjang, produksi susu setelah melahirkan 0,5-1 liter/hari
  9. Pada jantan lingkar testis bisa mencapai 23 cm
  10. Warna bulu bervariasi antar hitam, putih, coklat kekuningan atau kombinasi keduanya
  11. Paha kaki belakang berbulu lebat dan panjang baik pada jantan atau betina
  12. Produksi susu 0,5-1/hari

Sumber lain menyebutkan :

Kambing Ettawa

Kambing ini berasal dari daeran Jamnapari India. Ciri-ciri kambing ini adalah hidung melengkung, baik jantan maupun betina bertanduk, telinga panjang terkulai sampai 30 cm. Kaki panjang dan berbulu panjang pada garis belakang kaki. Warna bulu belang hitam putih atau merah dan coklat putih. Produksi susu yang baik sebanyak 3 liter/ekor/hari, hal ini didukung oleh ambing yang besar dan panjang. Tinggi badan jantan dewasa mencapai 90-127 cm, sedangkan yang betina dewasa 76-92 cm. Bobot badan jantan dewasa 68-91 Kg dan yang betina dewasa 36-63 Kg.

Kambing Peranakan Ettawa (PE)

Jenis ini merupakan hasil persilangan antara kambing ettawa (India) dengan Kambing Kacang. Penampilan peranakan mirip kambing kacang, walaupun tampilan Ettawa juga terlihat, dan sering disebut juga dengan Jawa Randu atau Bligon.

Pemanfaatan disamping dapat diarahkan untuk pedaging juga dapat juga sebagai penghasil susu.

Ciri khas Kambing PE adalah:

- Telinga panjang, lembek, menggantung dan ujungnya agak melipat

- Bentuk muka cembung melengkung dan dagu berjanggut

- Dibawah leher terdapat gelambir, tanduk berdiri agak kebelakang dengan ujung sedikit melingkar

- Tinggi tubuh 70-90 cm

- Warna bulu umumnya belang hitam, belang coklat, coklat bertotol putih, putih totol coklat atau putih totol hitam.

Info dibawah ini penulis dapatkan dari wikipedia :

Kambing Etawa
Berasal dari wilayah Jamnapari India. Kambing ini paling popular di Asia Tenggara, termasuk tipe dwiguna yaitu penghasil susu dan penghasil daging. Ciri-cirinya postur tubuh besar, telinga panjang menggantung, bentuk muka cembung, bulu bagian paha sangat lebat, BB jantan mencapai 90 kg, BB betina 60 kg. produksi susu mencapai 235 kg/ms laktasi. Di Indonesia untuk perbaikan mutu kambing lokal maka menghasilkan kambing PE (Peranakan Etawa). Sentra terbesar kambing PE adalah di Kaligesing Purworejo Jawa Tengah.

Dari sumber lain menyebutkan :

Performa Kambing Ettawah (Jumnapari)

Menurut Devendra dan Burn (1994), kambing Ettawah merupakan bangsa kambing yang paling populer dan dipelihara secara luas sebagai ternak penghasil susu di India dan Asia Tenggara. Merupakan kambing besar dan bertelinga panjang, berasal dari sekitar sungai Gangga, Jumna dan Chambal di India. Populasi kambing ini banyak terdapat di distrik Ettawah, sehingga lebih terkenal dengan kambing Ettawah.

Kambing Ettawah sangat baik sebagai ternak perah dan sebagai penghasil daging. Warnanya beraneka ragam, mulai dari merah, putih, coklat dan hitam. Telinganya menggantung dengan panjang kurang lebih 30 cm. Ambingnya berkembang baik. Profil mukanya cembung dan biasanya bertanduk pendek berbentuk pedang lengkung. Bobot badan jantan adalah sekitar 68-91 kg dan betina 36-63 kg. Tinggi gumba masing-masng 91-127 cm dan 76-107 cm. Kambing Ettawah biasanya melahirkan anak tunggal sekali dalam setahun (Devendra dan Burn, 1994).

Dengan adanya potensi unggul pada kambing Ettawah terutama untuk menghasilkan susu dan potensi pertumbuhannya, maka kambing ini digunakan secara luas diberbagai negara termasuk Indonesia dan Malaysia dengan tujuan untuk meningkatkan mutu genetik kambing asli Indonesia (kambing Kacang), melalui persilangannya dengan kambing Ettawah.




Serba-serbi penyebutan kambing PE

Serba-serbi Penyebutan kambing PE

Salam peternak !

Pembaca Blog yang terhormat, penulis kembali hadir untuk mengupdate informasi terbaru tentang kambing di Indonesia. Selaras dengan motto blog ini sebagai Blog Informasi Ternak kambing Indonesia”. Ide menulis artikel ini dari email yang dikirim kang Budhi dari Neqtasari Farm Ciwidey Bandung di milis Insan Peternakan tentang ajakan kepada penulis untuk sosialisasi ciri-ciri kambing PE.

Penulis berharap setelah ada tulisan ini mohon ada saran, masukan dan pencerahan dari teman di milis khususnya dan umumnya kepada para peternak, akademisi, kalangan Peneliti, pemerintah atau siapa saja yang peduli dengan salah plasma nutfah asli Indonesia yang seharusnya kita lestarikan. Rumusan secara resmi standarisasi kambing Peranakan Ettawa misalnya dalam bentuk SNI (Standar Nasional Indonesia). Sehingga tidak ada lagi kesimpang siuran informasi dan kesamaan untuk standar kambing Peranakan Ettawa (PE).

Menurut penulis hal ini penting, karena di lapangan ada beberapa kasus yang menarik untuk di cermati. Bulan Maret lalu, Mas Bondan wewakili teman-teman dari Asosiasi peternak kambing PE yang ada di Jogja pernah mengirimkan email kepada penulis, email itu dikirim setelah penulis mengirimkan pengumuman Kontes Kambing PE di Blitar hari Minggu 6 April lalu ke milis Insan Peternakan, intinya Mas Bondan dan teman-teman peternak kambing yang ada disana menanyakan standarisasi penilaian kontes kambing PE yang, lebih lanjut dalam emailnya menurut mas Bondan ketika Pemprop DIY mengadakan kontes kambing, ada ketidakjelasan kriteria terhadap kambing yang menang kontes.

Hal serupa juga terjadi di daerah penulis, kabupaten Blitar Jawa timur, ketika Dinas Peternakan Pemkab Blitar mengadakan kontes ternak tingkat kabupaten Blitar. Pemenang kontes kambing tingkat Kabupaten akan dibawa ke kontes ke tingkat Propinsi. Penulis menjumpai beberapa peternak yang ikut dalam kontes, mereka banyak mengeluh terhadap kriteria kambing yang memenangkan lomba, intinya kontes kambing menurut versi pemerintah adalah menurut bobot yang dicapai pada umur tertentu atau lebih ke pertumbuhan tanpa memperhatikan kesesuain postur kambing PE. Sehingga kambing yang postur jelek tetapi dari segi pertumbuhan bagus bisa memenangkan kontes. Sedangkan menurut peternak kambing PE atau lebih tepat disebut ”Penghobi” yang kini tergabung dalam Forum Komunikasi Peternak Kambing Ettawa Unggulan selain pertumbuhan juga pada nilai seni berupa keindahan postur tubuh kambing mulai bentuk telinga, kepala, bulu, warna dll.

Penulis mencermati beberapa tulisan dari berbagai sumber yang berhasil penulis dapatkan dari berbagai tulisan hasil browsing di internet, menurut penulis juga ada beberapa perbedaan dalam hal nama. Beberapa penyebutan diantaranya, Kambing Ettawa, Kambing Etawa, Kambing Ettawah, kambing Peranakan Ettawa (PE), kambing Peranakan Ettawah, di Malaysia sering disebut kambing Jamnapari.

Dari segi penyebutan nama saja sudah ada beberapa macam, apalagi dari ciri-cirnya. Para peternak kambing di daerah penulis di Blitar Jawa timur. Menyebut kambing PE itu kambing yang telinganya tidak lipat, lebar, orang Blitar menyebutnya ”Koploh” untuk menyebut telinga yang panjang lebar, tidak lipat, jadi mereka menganggap kalau Kambing PE itu Kambing yang ”tidak asli”. Karena biasanya merupakan persilangan kambing PE dengan kambing Jawa. Sedangkan yang kambing ”asli” orang Blitar lebih sering menyebut ”wedhus Tawa” (Indonesia:Kambing Tawa). Kambing PE yang ”asli” telinganya melipat lemas dengan lobang menghadap kedepan disebut sebagai ”Kambing Ettawa murni”. Sehingga dari segi harga lebih mahal dibandingkan dengan yang ”koploh” alias ”tidak murni” harga juga lebih murah. Warna juga berpengaruh terhadap harga, warga kepala hitam lebih mahal dibandingkan warga kepala coklat.


Wah...wah tambah bingung ya?.....ya itulah, namanya masyarakat khan punya kepentingan. Ada yang pengen menaikkan harga kambingnya, ada juga yang memang benar-benar ga’ tahu, atau malah ikut-ikutan menyebut. Itulah makanya di awal penulis menulis pentingnya STANDARISASI KAMBING PE. Di Bagian 2 tulisan ini penulis mencoba mengupas dari beberapa tulisan atau sumber mngenai sejarah, penamaan kambing PE.

Tulisan diatas adalah pendapat pribadi penulis hasil pengamatan langsung di lapangan, jika ada yang tidak berkenan penulis mohon sharing pendapat terutama dari para peneliti di kampus-kampus, para pakar kambing PE.

Salam peternak.

7 Mei 2008

Inspirasi : Peternakan kambing perah di Singapura



Baru-baru ini penulis membaca sebuah email yang dikirim oleh salah satu anggota . Sebuah email menurut penulis cukup menarik di milis Insan peternakan, milis dimana Kang Agus Ramada dari Villa Domba Bandung sebagai moderatornya. Email tersebut berjudul ”Inspirasi: Peternakan kambing perah di Singapura”. Singapura ? penulis langsung terperenjat, kok ada ya? pastilah pertanyaan kita mengarah kesana, awalnya penulis juga belum begitu percaya ternyata di Singapura juga ada peternakan kambing. Tapi setelah browsing dan baca email dari teman-teman. Justru ini adalah Inspirasi kedepan peternakan perah di Indonesia. Kalau Singapura aja bisa, kenapa kita yang punya lahan luas dan SDM yang banyak tidak bisa.

Berikut kumpulan info yang berhasil penulis kumpulkan.

: Sumber:http://kalipaksi. multiply. com/photos/ album/62

Segarnya susu kambing Hay Dairies. Hay Dairies adalah sebuah usaha peternakan mini di sebuah sudut Singapura. Hanya dengan luas lahan 2 hektare, Mr. Hay mampu menjadi salah satu pensuplai besar susu kambing bagi penduduk Kota Singapura. Otak bisnis Mr. Hay dalam mengambil peluang bisnis ternak kambing memang cerdas. Penduduk Singapura yang sudah sangat metropolis sudah tak begitu minat menjadi peternak. “Keluarga saya keluarga peternak, sejak kecil saya sudah ikut beternak. Sekarang pun bisnis di bidang peternakan,” katanya bangga.

Mr. Hay pun bercerita tentang asal-usul kambing-kambing yang menjadi ujung tombak usahanya. Hay hanya memelihara kambing jenis Mountain Goat (kambing gunung) yang didatangkan langsung dari Minnesota, Amerika. “Hanya beberapa ekor saja,” katanya. Dari beberapa pejantan dan induk itulah kemudian populasi ternak di peternakan Hay sekarang sudah mencapai 1.000 ekor kambing.

Per liter, oleh Hay, susu kambing produksinya, di Singapura dijual sekitar Rp20.000 per liter. Minimal, setiap orang yang berlangganan ambil 2 liter per hari. Dengan asumsi 600 liter per hari, income usahanya bisa mencapai Rp12 juta per hari.

Email ini di tanggapi oleh Rekan milis Insan Peternakan Miki Atma Komentarnya seperti :

Saya juga penasaran dengan perternakan di singapore berbeda banget ama yang ada di malaysia saya udah liat website nya yg ada di singapore gimana kalu para senior mengadakan perbandingan peternakan kambing di singapore saya daftar duluan deh tolong yah di tindak lanjuti oleh para senior.


Email dari kang Budhi, peternak Kambing Perah di Ciwidey, Bandung

Tuan Hay beternak kambing di negara yang luasnya mungkin seukuran dengan kecamatan tempat tinggal saya di sini. Ia katanya punya 1000 ekor kambing. Wah, dari mana ngaritnya, ya. Di sela-sela pencakar langit, barangkali. Coba dikonfirmasi, harganya kok murah pisan cuma 20 rebu. Di kandang saya sudah 30 rebu dan sebentar lagi "disesuaikan" . Atau, mungkin karena his goat-nya bukan kambing PE, ya? Susu kambing PE tentu bisa lebih dari 20 rebu.
Ayo, bgaimana dengan kita?

Penasaran ? klik aja webnya Mr Hay

http://www.haydairi es.com.sg/

Pengen tahu yang ada di Malaysia kunkungi : (www.jamnapari. com)

Sekali lagi ini adalah Inspirasi besar bagi kita semua Insan Peternakan yang di Indonesia.



powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes