8 April 2008

Susu Kambing yang Selalu“Dikambinghitamkan”

Sebuah Email dari Insan Peternakan

Salam Peternak!

Mantap, Mantap, Mantap ! ! ! TV One meliput Kambing PE kang Budhi. Kang, mohon nanti diinformasikan jadwal tayangnya.


SELAMA ini kata kambing selalu berkonotasi negatif. Keberadaan hewan yang “bersaudara” dekat dengan domba itu terkesan sangat tak diinginkan. Buktinya, muncul istilah “kambing hitam” atau “bau badot”.Namun, kambing ternyata memiliki kandungan susu yang cukup baik dibanding susu sapi. Memang, harga jual susu kambing cukup tinggi, bisa mencapai 20 kali lipat harga susu sapi.
Tentu saja, jenis susu kambing yang baik secara kualitas maupun kuantitas dihasilkan dari induk kambing unggul. Bukan jenis kambing (Sunda: embe) “kacang” seperti yang sering ditemui di kampung-kampung, melainkan kambing jenis peranakan ettawah atau biasa disebut kambing PE. Kambing PE adalah hasil perkawinan antara kambing “kacang” Indonesia dengan kambing ettawah dari dataran tinggi India.

Salah satu peternakan kambing perah berada di Kampung Tabrik Desa Margamulya Kec. Pasirjambu Kab. Bandung. Menurut sang pemilik, H. Odang Gandasomantri Amijaya (69), pasar susu kambing masih sangat terbuka di wilayah Bandung dan sekitarnya. Saat ini, sekira 40% dari produk susunya adalah pesanan konsumen dari Jakarta serta wilayah lain di luar Jabar. Satu ekor kambing produktif menghasilkan 1-2 liter susu/hari. Berbeda dengan susu sapi yang harus melalui proses pasteurisasi, susu kambing perah langsung dipak dengan plastik kedap udara hanya 10 menit setelah diperah dan siap dikonsumsi.
“Susu kambing tak boleh dipanaskan lebih dari 60 derajat Celsius, karena bakteri menguntungkan dalam susu itu akan mati. Susu kambing memang lebih banyak dikhususkan untuk pengobatan,” kata H. Odang. Berbeda dengan susu sapi, susu kambing tak menyebabkan diare bagi para penderita lactose intoleran atau ketidakmampuan orang mencerna susu. Selain itu susu yang dihasilkan juga tak berbau menyengat seperti yang banyak dikatakan orang.
Sumber: Pikiran Rakyat
powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes