8 April 2008

Lagi. Masalah Susu Kambing

Sebuah email menarik di Milis Insan peternakan yang di posting kang Agus dari Villa Domba Bandung bersumber dari Indosiar.com

Jakarta - Permintaan susu kambing etawa belakangan ini meningkat, selain disebut-sebut bebas bakteri susu ini konon berkhasiat menyembuhkan sejumlah penyakit. Sayangnya produksi susu kambing etawa belakangan ini melorot akibat ternak tak lagi mendapat pakan nutrisi ampas tahu menyusul tutupnya sejumlah pabrik tahu akibat kenaikan harga kedelai.

Inilah susu kambing etawa yang belakangan kian diminati masyarakat. Susu ini relatif bebas dari bakteri karena diolah secara cepat dan tanpa menggunakan campuran bahan kimia. Konon bila dikonsumsi secara teratur, susu kambing etawa bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti darah tinggi, asam urat hingga diabetes akut.

Namun produksi susu kambing etawa di sentra pengembangan budidaya kambing etawa di Kabupaten Jember, Jawa Timur belakangan ini merosot menyusul banyaknya pabrik tahu gulung tikar akibat mahalnya harga kedelai. Pasalnya, kurangnya pasokan nutrisi ampas tahu untuk pakan ternak kambing membuat produktifitas susu menurun hingga 20 persen. Di peternakan kambing etawa Ashifa misalnya, produksi susu turun dari 100 menjadi 80 liter perhari.

Menurut pengelola peternakan Didi, akibat sulitnya mencari pakan ternak berupa nutrisi ampas tahu ternaknya kini hanya diberi makan rumput ditambah dedaunan jenis klirisidi yang harganya lebih mahal.

Meski harus mengeluarkan lebih besar untuk biaya nutrisi tambahan, harga jual susu kambing etawa tidak dinaikkan tetap dipatok 35 ribu rupiah perliter. (Tim Liputan/Sup)

Email ini mendapat respon dari salah satu anggota milis Insan Peternakan yang tinggal di Bandung Selatan Kebetulan Penulis juga pernah ketemu darat dengan beliau di Farm Kambing perah di daerah Ciwedey Bandung Selatan itu.Email tersebut isinya sebagai berikut


SALAM PETERNAK,
Memang demikian adanya tentang permintaan susu kambing PE (peranakan etawa) yang semakin tinggi seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang manfaat dan khasiat susu kambing untuk penyembuhan dan nutrisi yang bergizitinggi. Akan tetapi, pada kenyataannya produksi susu kambing masih jauh darimencukupi kebutuhan masyarakat. (AWAS, jangan sampai impor seperti susu sapi! Australia dan Selandia Baru menurut informasi mulai menawarkan produknya dan Malaysia sudah pasang kuda-kuda, terbukti dengan jor-jorannya mereka mengimpor kambing-kambing PE dari Indonesia. HATI-HATI kawan!)

Sebenarnya, menurut saya tidak ada hubungan langsungantara menurunnya pasokan ampas tahu dengan produksi susu kambing PE.Penurunan produksi susu kambing PE sebenarnya hanya terjadi di peternakan yang memang menggunakan ampas tahu sebagai pakan penguatnya. Sementara itu,di peternakan-peternakan yang menggunakan konsentrat sebagai pakan penguat (sumber mineral), seperti di kelompok kami, tidak terjadi pengaruh akibat sulitnya memperoleh ampas tahu.

Karena itu, melalui forum ini, kami juga mengimbau kawan-kawan peternak untuk tidak menggantungkan pakan kepada sumber-sumber yang rawanpasokan. Salah satu, yang bisa kita kembangkan untuk menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan pakan ternak ruminansia ini adalah dengan penyediaan pakan lengkap (complete feed) yang dapat dibuat secara khusus mulai dari penyediaan sumber hijauan (rumput, jagung, dansorgum), sumber mineral penguat (konsentrat) , probiotik, proses fermentasi,dan penyimpanan pakan agar dapat tersedia sepanjang tahun.

Pakan lengkapmerupakan pakan siap saji yang diberikan secara tunggal kepada ternak danpeternak tidak perlu lagimenyediakan hijauan dalam jumlah banyak secara umum (10% BB) lalu menambahinya dengan penguat (ampas tahu, konsentrat) agar produktivitasnyatinggi. Akan tetapi, pola ini tidak dapat dilakukan sendiri oleh seorang peternak. Diperlukan pembagian tugas dan fungsi serta tanggung jawab bersama untuk menciptakan sinergi yang berkesinambungan.

Misalnya, ada peternak (petani) yang bertugas sebagai penyedia sumberhijauan, ada peternak yangmengolah pakan, dan tentu saja ada peternak sejat yang bertugas memelihara ternak di kandang tanpa terganggu memikirkan ke mana besok cari rumput dan ke mana beli ampas tahu, serta ada semacam holdingcompany yang bertanggungjawab memasarkan hasil ternak. Insya Allah, denganpola seperti ini rasiopemeliharaan ternak menjadi semakin besar.

Misalnya,seorang peternak akanmampu memelihara 100-200 ekor domba-kambing atau bahkan lebih dengan system pemeliharaan intensif. Namun, pola ini sementara baru berlaku pada ruminansia kecil. Untuk ruminansia besar belum terukur menguntungkan secaraekonomis karena konsumsi pakan sapi yang sangat besar dan produktivitas susu dan dagingnya yang belum sebanding antara dengan input faktornya.

Jika kita dapat mewujudkan semacam Peternak Inc., saya percaya kita bias mempertahankan Indonesia tidak akan pernah menjadi pengimpor domba-kambing, bahkan bisa menjadi sebaliknya karena kita memiliki plasma-plasma nutfahterbaik di dunia.

AYO SIAPA YANG MAU IKUTAN ?

Wassalam,
--- Januar Budhi MP <jbudhi@gmail. com>





powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes