15 April 2008

Kesan Mas Bondan, Kontes Kambing Ettawa Blitar dari djogyakarta



Hari itu, sabtu tanggal 5 april 2008 jam 9 malam, kami rombongan dari jogja meluncur dari halaman dinas peternakan kabupaten Sleman menuju ke Blitar, Jawa Timur. Tidak lain tidak bukan, hanya ingin menunjukkan sedikit rasa cinta kami ke suatu pelehatan akbar. Yaitu kontes kambing etawa yang diselengarakan di Blitar, Jawa Timur. Pukul 3 dini hari, ,rombongan sampai di Blitar. Rombongan yang berjumlah 50 orang, yang semua rata-rata tergolong etawa mania di sambut dengan hangat oleh panitia lomba kambing etawa Blitar Jawa Timur. Ada mas Nanang, ada mas sekjen komunitas “ndas ireng” blitar mas Kusairi. Kami serombongan dipersilahkan menginap di kediaman mas Nanang. Sungguh, suatu sambutan yang diluar dugaan. Selama dalam perjalanan, hand phone saya selalu berdering, setelah saya lihat di layar hand phone selalu mas Kusairi dan mas Nanang yang selalu memantau keberadaan kita sampai mana. Selalu dan selalu. Sungguh suatu perjalanan yang sangat mengasikkan dan penuh kekeluargaan.

Pukul 3.30 pagi kami masuk ke kediaman mas Nanang, di desa Sumber Mulyo, Blitar, Jawa Timur. Di rumah beliau, ternyata sudah ada rombongan dari daerah Malang yang datang terlebih dahulu sebelum kita. Kata mereka, mereka sampai di kota Blitar jam 7 malam. Mundur 2 jam dari jadwal kedatangan mereka semula, dikarenakan kendaraan yang mengangkut ternak ada kerusakan di jalan, sehingga butuh sedikit waktu untuk membenarkan kendaraan mereka. Kami bermalam di sana . jadi di rumah itu, ada dua rombongan yang berbeda, malang dan jogjakarta. Sungguh suatu pertemuan yang diluar dugaan. Karena kami sama-sama pencinta etawa, maka rasa kantukpun sirna. Kami ngobrol sampai adzan subuh berkumandang. Kita ngobrol tentang potensi dan prospek kambing etawa yang sedang berkembang akir-akhir ini. Tidak ada rasa kecemburuan sedikitpun, kecuali informasi saling menguntungkan dan membangun daerah masing-masing. Kita banyak belajar dan saling tukar pengalaman di rumah mas Nanang.

Adzan Subuh mengema, bergegaslah kita menunaikan sholat Shubuh berjamaah. Setelah sholat, ada beberapa orang yang mandi dan ada beberapa orang yang main ke kandang kambing. Haaaa…. Subuh-subuh masuk ke kandang kambing?? Tapi karena mereka itu etawa mania, maka waktu bukan soal bagi mereka. Bagi mereka etawa adalah bagian dari jiwa, sudah sepantasnya mereka melakukannya. Ada salah satu peserta asal jogja yang terkejut. Kenapa pak??? Ada apa pak???? “Lihat mas, itu pejantan kambing saya 2 tahun yang lalu lho, saya ingat bener cirri kambingnya, nggak mungkin salah dech, sekarang ternyata sudah di pelihara orang malang tho??” katanya. Kambing itu tambah besar ya? Tambah gemuk. Lalu si empunya yang orang malang bercerita tentang kambing itu dan sekaligus membuka rahasia kenapa kambing pejantan itu bias gemuk. Tetapi memang benar, di kandang tempatnya mas Nanang memang ada beberapa kambing yang sudah menginap semalam di kandang. Rata-rata kambing yang menginap adalah milik peserta lomba asal daerah malang yang telah masuk ke blitar jam 7 malam. Kambing dari daerah lain ternyata juga sudah dating, Cuma penempatan kandangnya terpisah, tidak mengumpul di tempat mas Nanang semua. Begitu kambing datang, langsung di bongkar ke kandang mas nanang biar bisa beristirahat, karena kambingnya juga capek setelah melakukan perjalan jauh.

Pukul 6.30 pagi, seluruh peserta asal Malang dan Jogjakarta dipersilahkan sarapan di tempatnya mas nanang, menu pagi yang sungguh sangat enak. Nasi soto masakan ibunda mas nanang. Ada telur, ada ayam,ada tempe, ada kerupuk. Wow mas nanang punya hajat besar nich. Pukul 7.00 pagi, rombongan peserta baik dari daerah malang maupun dari jogja merayap berangkat ke arena lomba. Begitu sampai di arena lomba, sebagian besar peserta tercengang melihat begitu meriah dan ramainya acara itu di gelar. Wow….. elok tenan…. Dan yang lebih membikin kami kagum adalah animo dari etawa mania. Menurut informasi yang saya per oleh dari mas kusairi, jumlah peserta lomba diikuti oleh 8 kota besar. Ada tulungagung, Surabaya, malang, trengalek, mojokerto, ponorogo,kediri, dll. Itu baru yang resmi, belum peserta lain yang langsung dating tanpa konfirmasi dengan panitia. Kalau saat itu di hitung, mungkin ada 2 sampai 3 ribu orang tumplek blek di pasar hewan itu, tempat di selenggarakannya lomba kambing etawa. Betapa besar animo dan semangat mereka untuk menyaksikan hewan-hewan super, jago-jago daerah yang keluar.

Saat itu, tidak ada kambing jelek, semua bagus-bagus, semua besar-besar, semua indah indah. Dari yang jantan maupun betina, dari yang tua sampai cempe, semuanya istimewa. Tidak tanggung-tanggung, jumlah pesertanya pun membludag, hamper mendekati 300 ekor kambing yang ikut dalam lomba tersebut. Sampai-sampai acara penilaian di undur sampai malam, karena jumlah kambing yang sangat banyak. Terlepas dari semua itu, ada beberapa hikmah yang dapat dipetik oleh kami peserta dari jogja. Ternyata kambing etawa sungguh sangat elok, besar, dan terawat. Apalagi kambing itu berada di jawa timur, yang jaraknya 430 km di timur kota jogja, yang notabennya kambing itu berasal dari daerah kami. Kami bangga dan terharu melihat semua itu. Bangga karena kambing itu dari daerah kami, dan terharu karena mereka ternyata bener-bener merawat kambing etawa seperti kami merawat kambing etawa di daearah kami, bahkan untuk perawatan mungkin mereka jauh lebih baik dari daerah kami.

Itulah kambing etawa yang memiliki 3 fungsi. Karena kambing etawa selain berfungsi sebagai kambing penghasil susu terbesar, penghasil daging ter banyak, ternyata kambing etawa juga dapat meiliki nilai seni yang tinggi. Dalam acara tersebut ada beberapa factor yang di jadikan sebagai acuan dalam penilaian, tubuh, berat, tinggi,panjang telinga, pola warna sera kerapihan bulu yang indah. Poin-poin itulah yang mereka perebutkan untuk mencapai kambing yang dinyatakan super, ya minimal oleh daerah jawa timur, Selamat beternak, Indonesia itu kaya, jadi beternaklah dengan benar dan baik. Karena dengan itu Indonesia akan membayar mahal akan pengorbanan kita.
Sekian,


wassalam, bondan, djogjakarta
powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes