7 Februari 2008

Kapan negeri Kita Ekspor Kambing Domba

Dahsyat. Tiap tahun Arab Saudi meng-order kambing-domba (kado) sedikitnya 2,5 juta ekor dari luar negaranya.
Tapi sayang, kado
Indonesia baru bisa gigit jari, sementara peternak/pebisnis-nya cuma bisa ”mupeng” (muka pengen). Abdul Jabbar Zulkifli, sekjen Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) menuturkan, ”Sedikitpun kambing-domba kita belum ada yang masuk ke sana”.
Sementara itu, lepas dari pro-kontra boleh tidaknya ekspor ternak ke
Malaysia terkait alasan plasma nutfah, pasar Malaysia menunjukkan besarnya serapan kambing-domba (kado) Indonesia di sana.
Kado asal tanah air beberapa tahun belakangan telah mampu menembus pasar negeri Jiran tersebut. Besarannya, berdasar catatan surat rekomendasi yang dikeluarkan Ditjennak, pada 2004 sekitar 400 ekor, 2005 sebanyak 1.225 ekor, 2006 sebesar 6.220 ekor dan 2007 sebanyak 31.535 ekor.
Peluang pasar ekspor kado sebenarnya tidaklah semata Arab Saudi dan
Malaysia. ” Brunei Darusalam pun terbuka,” ujar Fauzi Luthan Direktur Budidaya Ternak Ruminansia, Ditjen Peternakan (Ditjennak), saat ditemui TROBOS di kantornya pertengahan Januari lalu.

Di Bawah Standar Mancanegara
Selama ini, sebagian besar permintaan kado Arab Saudi itu untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban saat musim haji. Dan Australia serta
China adalah negara-negara yang sejauh ini mampu mengisi dan memanfaatkan kuota tersebut. Abdul sempat menyebut paling tidak China mampu memasok 750 ribu ekor kado ke negeri padang pasir itu. Indonesia?
Miris, “Belum bisa menjamin kontinyuitas,” Fauzi berdalih. “Dan ini dituding sebagai titik lemah oleh pengusaha mitra eksportir kita,” imbuhnya. Tak hanya itu, kualitas dan bobot badan ternak kado asal
Indonesia umumnya masih di bawah standar yang ditetapkan oleh pasar luar (minimal 40 kg berat hidup). Contoh nyata adalah Singapura. ”Singapur itu tidak mau mengambil kado Indonesia, alasannya standar kita rendah kata dia,” sengit bercampur getir komentar Abdul atas fakta ini.

Pasar Domestik OK
Sementara di pasar ekspor kita cuma bisa “nyengir”, tidak demikian halnya dengan bisnis kado dalam negeri.
Dengan singkat dan penuh keyakinan, Fauzi Luthan menjawab, ”Sudah mencukupi!”. Jawaban tadi merespon pertanyaan ketersediaan ternak kado dibanding tingkat kebutuhan atau permintaan untuk konsumsi dalam negeri.
Dalam hitungannya, kebutuhan konsumsi daging kado dalam negeri sekitar 5,6 juta ekor tiap tahunnya. Sementara data 2007 yang disodorkannya menunjukkan populasi ternak kambing nasional sebesar 14,9 juta ekor. Mengalami tren rata-rata pertumbuhan 4,02 % per-tahun sejak 2003 (12,7 juta ekor). Domba, tidak jauh berbeda, tren rata-rata pertumbuhannya 6,04 % sejak tahun 2003 (7,8 juta ekor) menjadi 9,9 juta ekor pada 2007.
Yang menggembirakan, tingkat konsumsi lokal akan daging kado dari tahun ke tahun meningkat. Ini terjadi di tengah catatan tingkat konsumsi daging secara total justru sedang menurun.
Sumber data statistik Ditjennak 2007 mencatat konsumsi daging per-kapita per-tahun penduduk Indonesia pada 2006 menurun dari 5,18 kg pada 2005 menjadi 4,13 kg. Ditjennak mencatat, pada 2006 konsumsi daging kambing dan domba berkontribusi sebesar 41,93 % (0,26 kg) terhadap total konsumsi daging ruminansia yang nilainya 15,01 % dari konsumsi daging secara keseluruhan (0,62 kg). Angka ini mengalami kenaikan sebesar 160 % dibandingkan kontribusi pada 2005 yang nilainya hanya 17,54 % (0,1 kg).
Itu artinya, kado satu-satunya komoditas ternak dengan permintaan tinggi, di sisi lain diiringi pasokan yang cukup. Tidak ada impor seperti halnya daging sapi, susu, ataupun bahan
baku pakan ternak.

Tradisional Merakyat
Problem rendahnya mutu sehingga masih tertinggal untuk memenuhi pasar mancanegara, tidak bisa dilepaskan dari kenyataan dua komoditas ini sebagian besar masih diternakkan secara tradisional.
Masyarakat
Indonesia secara umum sangat familiar dengan ternak kado. Mengingat dari aspek modal usaha ternak ini tidak terlalu besar sebagaimana sapi atau ternak besar lainnya. Cara memeliharanya mudah, bisa dilakukan oleh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Selain itu, kado mampu berkembang biak lebih cepat dibandingkan ternak besar karena sekali beranak bisa melahirkan 1 – 3 ekor.
Sayangnya, kado
Indonesia identik dengan kandang samping rumah, dan kebanyakan diposisikan sebagai simpanan alias tabungan. Belum ada pendekatan ekonomi maupun sentuhan teknologi.
Yang tradisional merakyat ini cenderung sulit dikembangkan ke skala usaha ekonomi. Karena pemilikan modal yang terbatas, pengelolaan tidak efisien akibat keterbatasan produksi dan pemasaran, teknologi hampir tak ada, serta kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbatas.
Fenomena sistem itu dituding oleh Abdul sebagai salah satu alasan peternakan kado
Indonesia tidak bisa seperti Malaysia atau Australia. ”Terutama dalam penerapan teknologi”. Katanya lagi, teknologi di Indonesia masih tahapan wacana, aplikasinya masih susah. Banyak hasil riset tidak masuk ke peternak, atau banyak riset yang tidak aplikatif di lapangan.

Skala Usaha dan Kelembagaan
Purnomo, direktur Kampoeng Ternak – sebuah lembaga pemberdayaan peternak – dalam tulisan yang telah dipublikasikannya mengungkapkan selayaknya skala pemeliharaan yang terbilang masih sangat minim ini segera diperbaiki.
Caranya, pertama, peningkatan skala pemeliharaan. Agar bernilai ekonomis, jumlah minimal yang dipelihara adalah 8 ekor kado atau 2 ekor sapi per-keluarga.
Diasumsikan Purnomo, 8 ekor induk kado akan melahirkan 3 kali dalam 2 tahun. Dengan asumsi tiap kelahiran menghasilkan 1-2 anak, maka paling tidak akan didapat 27 anak dalam 2 tahun. ”Anggap kematian 3 ekor,” kata Purnomo, maka sisanya 24 anak. Sehingga setiap peternak akan dapat menjual ternaknya 1 ekor per bulan dengan harga rataan Rp 400.000,- per-ekor.
Tetapi, masih menurut Purnomo, konsep ini paling memungkinkan dilakukan di daerah-daerah dengan potensi hijauan melimpah atau daerah yang mempunyai
padang gembalaan luas seperti di NTB dan NTT. Mengingat jumlah populasi yang terhitung lumayan banyak.
Sedangkan di daerah yang hampir tidak mempunyai
padang gembalaan, dapat disinergikan dengan pemanfaatan lahan tidur, budidaya rumput di pekarangan rumah, dan hutan tanaman rakyat (huntara).
Kedua, setelah skala pemeliharaan ideal terpenuhi, secara paralel penting ditumbuhkembangkan entitas/lembaga yang menaungi peternak seperti kelompok, asosiasi, dsb. Kelembagaan peternak di negara lain begitu berkembang dan mempunyai bargaining position untuk menentukan kebijakan pengembangan peternakan. “Untuk mewujudkan entitas yang kuat, perlu adanya pendampingan yang intensif ketika menjalankan program,” Purnomo memaparkan.

Baca Selengkapnya di Majalah TROBOS edisi 101/ Februari 2008

powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes