9 Februari 2008

SUSU KAMBING ETTAWA



Pada umumnya masyarakat lebih mengenal susu sapi dibanding susu hewan lainnya. Misalnya susu kambing dan unta hanya dikonsumsi di Negara Timur Tengah. Sebenarnya kambing sudah dibudidayakan oleh manusia sejak 7.000 SM di Irak untuk diambil bulu, daging dan susunya.

Susu kambing merupakan sumber protein terbaik setelah telur dan hampir setara dengan ASI. Bahkan di daerah kering dan tandus seperti Afrika dan sebagian India, masyarakatnya mengandalkan susu kambing untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang.

Susu kambing sebagai pengobatan dan pencegah penyakit telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu.

Susu kambing yang terbaik adalah susu segar (raw goat milk), karena proses pemasakan susu kambing yang kurang tepat dapat merusak kandungan mineral yng berkhasiat sebagai antiseptik dan pelindung jaringan paru-paru. Namun dengan pengolahan yang baik susu kambing dapat dikonsumsi dalam bentuk berbagai jenis olahan seperti yoghurt, keju dan lain-lain.

Beberapa kelebihan susu kambing dibanding dengan susu kambing mamalia lain adalah :

  1. kadar Fluorine susu kambing 10-100 kali lebih besar dibanding susu sapi yang bermanfaat sebagai antiseptik alami dan dapat membantu menekan pembiakan bakteri di dalam tubuh.
  2. Bersifat basa / alkaline food sehingga aman bagi tubuh.
  3. Proteinnya lembut dan efek laksatifnya kurang sehingga tidak menyebabkan diare.
  4. Lemaknya mudah dicerna karena mempunyai tekstur yang lembut dan halus dibandingkan dengan susu hewan lain.
  5. Kandungan Sodium (Na), Fluorine (F), Kalsium (Ca), Fospor (P) yang dominan dalam susu kambing berkhasiat :

- Membantu pencernaan dan menetralisir asam lambung

-Menyembuhkan reaksi-reaksi alergi pada kulit, saluran napas dan pencernaan

- Menyembuhan berbagai penyakit paru seperti asma, TBC, serta infeksi akut pada paru-paru

- Menyembuhkan berbagai kelainan ginjal serta asam urat

- Menyembuhkan reumatik, mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis)

- Menambah vitalitas dan daya tahan tubuh

- Mengatasi impotensia dan gairah seksual bagi pria maupun wanita

- Menurut penelitian di Amerika terbukti mempunyai efek anti kanker

Manfaat Yoghurt Susu Kambing:

· Kadar kalsium tinggi sehingga memperkuat struktur tulang

· Membantu sistem pencernaan khususnya bagi lansia yang banyak mengalami penuruna kadar asam lambung

· Kandungan natrium yang tinggi menyembuhkan dan mencegah kekakuan sendi

· Menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan aman bagi penderita penyakit jantung dan pembuluh darah

· Mencegah pembiakan sel kangker (usus, kandungan dan payudara)

· Menambah kadar estrogen yang menurun akibat monopouse pada wanita

· Mencegah osteoporosis dan penyakit gigi

(Dr. Rini Damayanti, 2002)

KOMPOSISI SUSU KAMBING

Komposisi

Kambing

Sapi

ASI

Air

83-87,5

87,2

88,3

Hidrat Arang

4,6

4,7

6,9

Energi KCL

67

66

69,1

Protein

3,3-4,9

3,3

1

Lemak

4,0-7,3

3,7

4,4

Ca (mg)

129

117

33

P (mg)

106

151

14

Fe (mg)

0.05

0.05

0,05

Vit. A. (mg)

185

138

240

Thiamin (mg)

0.04

0,03

0,01

Rhiboflamin

0,14

0,17

0,04

Niacin (mg)

0,3

0,08

0,2

Vit. B-12

0,07

0,36

0,84

Sumber :

Balai Penelitian Veteriner, Bogor.

7 Februari 2008

Kapan negeri Kita Ekspor Kambing Domba

Dahsyat. Tiap tahun Arab Saudi meng-order kambing-domba (kado) sedikitnya 2,5 juta ekor dari luar negaranya.
Tapi sayang, kado
Indonesia baru bisa gigit jari, sementara peternak/pebisnis-nya cuma bisa ”mupeng” (muka pengen). Abdul Jabbar Zulkifli, sekjen Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) menuturkan, ”Sedikitpun kambing-domba kita belum ada yang masuk ke sana”.
Sementara itu, lepas dari pro-kontra boleh tidaknya ekspor ternak ke
Malaysia terkait alasan plasma nutfah, pasar Malaysia menunjukkan besarnya serapan kambing-domba (kado) Indonesia di sana.
Kado asal tanah air beberapa tahun belakangan telah mampu menembus pasar negeri Jiran tersebut. Besarannya, berdasar catatan surat rekomendasi yang dikeluarkan Ditjennak, pada 2004 sekitar 400 ekor, 2005 sebanyak 1.225 ekor, 2006 sebesar 6.220 ekor dan 2007 sebanyak 31.535 ekor.
Peluang pasar ekspor kado sebenarnya tidaklah semata Arab Saudi dan
Malaysia. ” Brunei Darusalam pun terbuka,” ujar Fauzi Luthan Direktur Budidaya Ternak Ruminansia, Ditjen Peternakan (Ditjennak), saat ditemui TROBOS di kantornya pertengahan Januari lalu.

Di Bawah Standar Mancanegara
Selama ini, sebagian besar permintaan kado Arab Saudi itu untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban saat musim haji. Dan Australia serta
China adalah negara-negara yang sejauh ini mampu mengisi dan memanfaatkan kuota tersebut. Abdul sempat menyebut paling tidak China mampu memasok 750 ribu ekor kado ke negeri padang pasir itu. Indonesia?
Miris, “Belum bisa menjamin kontinyuitas,” Fauzi berdalih. “Dan ini dituding sebagai titik lemah oleh pengusaha mitra eksportir kita,” imbuhnya. Tak hanya itu, kualitas dan bobot badan ternak kado asal
Indonesia umumnya masih di bawah standar yang ditetapkan oleh pasar luar (minimal 40 kg berat hidup). Contoh nyata adalah Singapura. ”Singapur itu tidak mau mengambil kado Indonesia, alasannya standar kita rendah kata dia,” sengit bercampur getir komentar Abdul atas fakta ini.

Pasar Domestik OK
Sementara di pasar ekspor kita cuma bisa “nyengir”, tidak demikian halnya dengan bisnis kado dalam negeri.
Dengan singkat dan penuh keyakinan, Fauzi Luthan menjawab, ”Sudah mencukupi!”. Jawaban tadi merespon pertanyaan ketersediaan ternak kado dibanding tingkat kebutuhan atau permintaan untuk konsumsi dalam negeri.
Dalam hitungannya, kebutuhan konsumsi daging kado dalam negeri sekitar 5,6 juta ekor tiap tahunnya. Sementara data 2007 yang disodorkannya menunjukkan populasi ternak kambing nasional sebesar 14,9 juta ekor. Mengalami tren rata-rata pertumbuhan 4,02 % per-tahun sejak 2003 (12,7 juta ekor). Domba, tidak jauh berbeda, tren rata-rata pertumbuhannya 6,04 % sejak tahun 2003 (7,8 juta ekor) menjadi 9,9 juta ekor pada 2007.
Yang menggembirakan, tingkat konsumsi lokal akan daging kado dari tahun ke tahun meningkat. Ini terjadi di tengah catatan tingkat konsumsi daging secara total justru sedang menurun.
Sumber data statistik Ditjennak 2007 mencatat konsumsi daging per-kapita per-tahun penduduk Indonesia pada 2006 menurun dari 5,18 kg pada 2005 menjadi 4,13 kg. Ditjennak mencatat, pada 2006 konsumsi daging kambing dan domba berkontribusi sebesar 41,93 % (0,26 kg) terhadap total konsumsi daging ruminansia yang nilainya 15,01 % dari konsumsi daging secara keseluruhan (0,62 kg). Angka ini mengalami kenaikan sebesar 160 % dibandingkan kontribusi pada 2005 yang nilainya hanya 17,54 % (0,1 kg).
Itu artinya, kado satu-satunya komoditas ternak dengan permintaan tinggi, di sisi lain diiringi pasokan yang cukup. Tidak ada impor seperti halnya daging sapi, susu, ataupun bahan
baku pakan ternak.

Tradisional Merakyat
Problem rendahnya mutu sehingga masih tertinggal untuk memenuhi pasar mancanegara, tidak bisa dilepaskan dari kenyataan dua komoditas ini sebagian besar masih diternakkan secara tradisional.
Masyarakat
Indonesia secara umum sangat familiar dengan ternak kado. Mengingat dari aspek modal usaha ternak ini tidak terlalu besar sebagaimana sapi atau ternak besar lainnya. Cara memeliharanya mudah, bisa dilakukan oleh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Selain itu, kado mampu berkembang biak lebih cepat dibandingkan ternak besar karena sekali beranak bisa melahirkan 1 – 3 ekor.
Sayangnya, kado
Indonesia identik dengan kandang samping rumah, dan kebanyakan diposisikan sebagai simpanan alias tabungan. Belum ada pendekatan ekonomi maupun sentuhan teknologi.
Yang tradisional merakyat ini cenderung sulit dikembangkan ke skala usaha ekonomi. Karena pemilikan modal yang terbatas, pengelolaan tidak efisien akibat keterbatasan produksi dan pemasaran, teknologi hampir tak ada, serta kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbatas.
Fenomena sistem itu dituding oleh Abdul sebagai salah satu alasan peternakan kado
Indonesia tidak bisa seperti Malaysia atau Australia. ”Terutama dalam penerapan teknologi”. Katanya lagi, teknologi di Indonesia masih tahapan wacana, aplikasinya masih susah. Banyak hasil riset tidak masuk ke peternak, atau banyak riset yang tidak aplikatif di lapangan.

Skala Usaha dan Kelembagaan
Purnomo, direktur Kampoeng Ternak – sebuah lembaga pemberdayaan peternak – dalam tulisan yang telah dipublikasikannya mengungkapkan selayaknya skala pemeliharaan yang terbilang masih sangat minim ini segera diperbaiki.
Caranya, pertama, peningkatan skala pemeliharaan. Agar bernilai ekonomis, jumlah minimal yang dipelihara adalah 8 ekor kado atau 2 ekor sapi per-keluarga.
Diasumsikan Purnomo, 8 ekor induk kado akan melahirkan 3 kali dalam 2 tahun. Dengan asumsi tiap kelahiran menghasilkan 1-2 anak, maka paling tidak akan didapat 27 anak dalam 2 tahun. ”Anggap kematian 3 ekor,” kata Purnomo, maka sisanya 24 anak. Sehingga setiap peternak akan dapat menjual ternaknya 1 ekor per bulan dengan harga rataan Rp 400.000,- per-ekor.
Tetapi, masih menurut Purnomo, konsep ini paling memungkinkan dilakukan di daerah-daerah dengan potensi hijauan melimpah atau daerah yang mempunyai
padang gembalaan luas seperti di NTB dan NTT. Mengingat jumlah populasi yang terhitung lumayan banyak.
Sedangkan di daerah yang hampir tidak mempunyai
padang gembalaan, dapat disinergikan dengan pemanfaatan lahan tidur, budidaya rumput di pekarangan rumah, dan hutan tanaman rakyat (huntara).
Kedua, setelah skala pemeliharaan ideal terpenuhi, secara paralel penting ditumbuhkembangkan entitas/lembaga yang menaungi peternak seperti kelompok, asosiasi, dsb. Kelembagaan peternak di negara lain begitu berkembang dan mempunyai bargaining position untuk menentukan kebijakan pengembangan peternakan. “Untuk mewujudkan entitas yang kuat, perlu adanya pendampingan yang intensif ketika menjalankan program,” Purnomo memaparkan.

Baca Selengkapnya di Majalah TROBOS edisi 101/ Februari 2008

POPULASI KAMBING PE MENINGKAT

Populasi kambing Peranakan Ettawa (PE) di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dalam lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang signifikan. Pada tahun 2002 jumlah PP sebanyak 45.800 ekor, tahun 2003 bertambah menjadi 50.550 ekor. Tahun 2004 berkembang lagi menjadi 58.400 ekor, tahun 2005 bertambah sedikit menjadi 59.600 ekor dan akhir 2006 menjadi 60.808 ekor.

Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi mengungkapkan hal itu Jumat (16/2) malam di depan peserta Sarasehan Pengembangan Ternak Ettawa di Desa Tlogoguwo Kecamatan Kaligesing. Sarasehan yang menghadirkan kelompok-kelompok peternak itu juga dihadiri Gubernur Jawa Tengah (Jateng) H Mardiyanto.

Bupati lebih lanjut menjelaskan, kebijakan penyebaran dan pengembangan ternak di Kabupaten Purworejo disesuaikan dengan kondisi agroekosistem yang ada. Wilayah Purworejo bagian selatan dan tengah antara lain Kecamatan Ngombol, Purwodadi, Grabag, Bayan dan Purworejo dikembangkan ternak sapi potong. Baik sebagai penghasil bibit maupun usaha penggemukan.

Sedangkan di wilayah utara dan timur yang merupakan daerah perbukitan yang meliputi Kecamatan Kaligesing, Bener, Loano, Bruno, Kemiri dan Pituruh, dikembangkanm sebagai sabuk kambing PE. Wilyah itu mempunyai daya dukung lahan dan pakan serta sumber daya peternak yang memadai.

Pengembangan peternakan kambing PE di Purworejo sudah menjadi program pemerintah sejak 1970. Tujuannya untuk melestarikan dan mengembangkan kambing PE, yaitu dengan penyaluran gaduhan ternak, pengembangan Village Breeding Centre (VBC), pengembangan kelompok penangkar ternak, lomba kelompok tani ternak dan kontes PE.

Sementara itu Gubernur Jateng H Mardiyanto dalam kesempatan itu mengatakan, kambing PE potensial dikembangkan karena memiliki keunggulan komparatif. Yaitu mampu menjadi penghasil daging dan susu dengan sama baiknya, berpostur badan besar dan berbulu lebat. Sementara iklim dan sumber daya lahan di Jateng sangat mendukung. WWW.PURWOREJONEWS.COM
powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes