31 Desember 2008

Harumnya Laba dari Sabun Susu Kambing

Sumber.
http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 12/23/11140414/ harumnya. laba.dari. sabun.susu. kambing

Selasa, 23 Desember 2008 | 11:14 WIB


Belakangan ini semakin banyak orang mengkhawatirkan kandungan bahan kimia pada pelbagai produk konsumsi. Bukan cuma makanan, tetapi juga kebutuhan harian, seperti sabun dan sampo. Alhasil, masyarakat mulai mencari produk yang sedikit, bahkan sama sekali tak mengandung bahan kimia.
Kondisi ini menjadi peluang cukup menjanjikan. Anya Madiapoera, misalnya, mencoba berinovasi membuat sabun yang tak menggunakan bahan berbahaya. la membuat sabun alami berbahan dasar susu kambing. "Selain kualitasnya lebih bagus, proses produksinya juga ramah lingkungan," ajar Anya.


Anya menekuni usaha pembuatan sabun alami ini sejak tahun 2003. Awalnya, ia mencantumkan merek Soap Opera pada sabun buatannya. Namun, karena sudah ada merek serupa, sejak setahun lalu dia mengubah nama menjadi Soaphisticated.
Keputusan Anya memilih bahan baku susu kambing bukan tanpa alasan. Ia mengklaim susu kambing baik untuk kesehatan kulit. "Apalagi, kulit yang sensitif," ujarnya.
Modal awal Anya merintis usaha ini hanya Rp 10 juta. la menggunakannya membeli peralatan pembuatan sabun, seperti kompor gas, perabot stainless steel, dan baku seputar cara pembuatan sabun.


Awal mendirikan usaha ini, Anya tidak langsung berhasil. Pada tahun pertama, ia hanya menggunakan buat konsumsi sendiri. Menurutnya, tidak mudah memasarkan produk sabun berbahan alam ini. "Butuh waktu lama memperkenalkan produk buatan tangan," akunya.


Salah satu kendalanya adalah harga yang relatif lebih mahal. Selain itu, masa pemakaiannya lebih singkat ketimbang sabun mandi biasa. "Tapi, masyarakat sudah semakin sadar akan pentingnya kesehatan dan menjaga lingkungan," kata Anya.
Dalam sebulan, Anya bisa memproduksi sebanyak 2.500 kotak sabun. "Untuk memproduksi sabun sebanyak itu, saya membutuhkan 50 liter susu kambing murni," ucapnya.


Selama ini, Anya hanya memakai susu kambing jenis ettawa. Kambing jenis ini merupakan kambing perah dari India. Ia mendapatkannya dari peternakan di sekitar Bandung, Jawa Barat. Selain susu kambing, ia juga memakai bahan baku lainnya, seperti minyak kelapa, zat NaOH (zat kimia yang bersifat basa), dan minyak atsiri.


Omzet Rp 100 juta


Cara pembuatan sabun susu kambing ini cukup mudah. Awalnya, minyak dipanaskan dan dicampur dengan susu kambing dan NaOH. Setelah itu, ditambahkan minyak atsiri dan dimasukkan ke cetakan sabun. Setelah didiamkan selama 24 jam, adonan itu dikeluarkan dari cetakan. "Sabun baru bisa dipakai setelah didiamkan selama empat minggu," kata Anya.


Saat ini, Anya sudah memiliki tiga gerai untuk memajang produk Soaphisticated. Dua di Bandung dan satu lagi di Bali. Selain itu, ia juga menerima pesanan buat suvenir pernikahan dan juga memasok ke beberapa spa dan salon. Anya membanderol sabun susu kambing buatannya seharga Rp 25.000 per bungkus. "Dalam sebulan, omzet saya bisa mencapai Rp 100 juta," ujarnya.

Anya juga memenuhi pesanan suvenir pernikahan. Dalam sebulan, ia bisa menerima pesanan hingga 500 bungkus sabun. la juga mengemas sabunnya dengan gambas sebagai spon mandi. Ia mematok satu paket sabun susu kambing dengan gambas seharga Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per paket.

Anya mengaku mengambil laba sekitar 25 persen hingga 40 persen dari setiap sabun. "Di Bandung, saya biasa mengambil marjin 25 persen, tapi untuk penjualan di wilayah Bali, saya bisa mengambil marjin sampai 40 persen," ujarnya.
============ ========= ========= ========= ========= ========= =======
Soaphisticated NuaArt Sculpture park A.
Setra Duta Bandung HP. 0811246677



12 Desember 2008

Kurban Memberdayakan Rakyat

Sumber.
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/12/09/ 02065862/ kurban.memberday akan.rakyat
Kurban Memberdayakan Rakyat
Besar Potensi Ekonomi dari Hulu sampai Hilir
Selasa, 9 Desember 2008 | 02:06 WIB
Jakarta Kompas - Pelaksanaan kewajiban memotong hewan kurban setiap hari raya Idul Adha, bukan hanya menjadi momentum penyantunan fakir miskin. Berkurban hendaknya diarahkan pula kepada paradigma pemberdayaan ekonomi rakyat dalam konteks pembangunan bangsa untuk mengatasi kemiskinan.
Demikian kesimpulan pengamatan lapangan dan wawancara Kompas dengan sejumlah ahli agama dan ekonomi serta praktisi peternakan terkait pelaksanaan Idul Adha kali ini, yang di dalamnya terdapat pula kewajiban memotong hewan kurban bagi masyarakat muslim mampu untuk dibagikan kepada dhuafa.
Tidak ada catatan pasti kebutuhan hewan kurban setiap tahun. Yang pasti, secara nasional produksi daging dan kebutuhan konsumsi daging, termasuk ternak untuk kurban, masih timpang. Indonesia masih mengimpor sapi sebanyak 450.000 ekor setiap tahun.
Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Provinsi DKI memperkirakan kebutuhan hewan kurban tahun ini tidak kurang dari 4.667 sapi, 100 kerbau, 33.491 kambing dan 1.892 ekor domba.
Kebutuhan akan hewan kurban setiap momentum tahunan Idul Qurban tiba, pada sisi lain terbukti menggerakkan ekonomi rakyat, mulai dari budi daya peternakan hewan sampai industri manufaktur yang mengolah daging menjadi kornet dan produk lainnya.
Dompet Dhuafa misalnya, telah mengubah gerakan berkurban untuk santunan menjadi gerakan ekonomi rakyat. Begitu pula Rumah Zakat Indonesia, memasuki tahap industrialisasi, mengelola daging kurban menjadi produk olahan tahan lama. Dengan demikian, dua tujuan mendasar dapat tercapai, yakni menyantuni kaum miskin dan memberdayakan ekonomi rakyat.
"Inilah yang dinamakan kurban sebenarnya. Tidak hanya menyembelih hewan dan membagi daging, tetapi mampu membuat suatu gerakan perekonomian kuat dan meningkatkan pendapatan keluarga miskin," kata Agustianto ahli ekonomi Islam menanggapi gerakan sejumlah badan zakat dan sosial yang mengelola gerakan berkurban menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat.
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam ini menambahkan, momentum Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban untuk miskin hanyalah makna simbolik. Pada dasarnya semangat untuk berbagi dan membantu kaum miskin untuk bisa hidup mandiri adalah filosofi sebenarnya.
Seharusnya hal itu dilakukan setiap saat, tidak hanya waktu Idul Adha. Pengelolaan zakat setiap tahun, katanya, seharusnya juga menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi rakyat.
Menurut dia, dengan penduduk 230 juta lebih dan sekitar 200 juta di antaranya umat muslim, potensi kurban, zakat, infaq, sadaqah bisa mencapai Rp 100 triliun per tahun. Dari angka Rp 100 triliun itu, sebagian bisa dipakai untuk menafkahi warga tidak mampu, misalnya lanjut usia, janda, ataupun anak yatim. Sebagian lainnya membangun fasilitas umum. ”Warga miskin lain yang masih bisa bekerja hendaknya diberikan pelatihan kerja, pelatihan wirausahawan, dan diberi pinjaman modal kerja,” katanya.
Kendala dokrinal
Akan tetapi, potensinya besar itu terkendala masalah doktrinal dan manajerial, sehingga menguap begitu saja. "Hari itu hewan kurban dipotong, hari itu dibagikan, dan hari itu juga habis. Belum terjadi investasi lebih jauh," kata JM Muslimin, Penanggung Jawab Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Zakat, Infak, Wakaf, Shodaqoh, dan Kurban, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat.
Potensi kurban, menurut Muslimin menjadi semakin besar jika ditambah potensi ekonomi haji. Sekitar 200.000 orang per tahun berhaji dengan biaya sekitar Rp 32 juta tiap orang. Sayangnya, kegiatan kurban masih cenderung bersifat doktrinal penyantunan sesaat. Padahal, kegiatan berkurban sebenarnya bisa diarahkan ke aspek yang lebih luas dan produktif. Kurban tidak sekedar aset konsumtif yang habis seketika, tetapi bisa dikelola lebih produktif, menggerakkan ekonomi rakyat lebih luas dan sesuai prinsip-prinsip ekonomi Islam.
Kemandirian
Awalnya hanya ingin membawa daging korban dari Jakarta ke daerah lain, tetapi lembaga zakat dan infaq Dompet Dhuafa (DD) tidak hanya membuat warga miskin menikmati daging saat lebaran, tetapi masyarakat bisa pula merasakan jadi juragan kambing kecil-kecilan, sampai menjaga varietas bibit unggul ternak.
Purnomo, Direktur Tebar Hewan Kurban DD mengatakan pihaknya telah mempunyai ”Kampoeng Ternak”, program pembudidayaan peternakan di 18 provinsi. Kampung Ternak ini melibatkan 1.564 petani dan peternak miskin. Awalnya hanya program penggemukan ternak dengan menyerahkan 5-8 ternak untuk dibesarkan, tetapi ketika ternak jantan dikhawatirkan berkurang karena selalu dipotong ketika musim kurban, timbul ide mengembangbiakkan bibit ternak.
Gerakan penyebaran daging itu kini menjadi sebuah gerakan ekonomi yang menyebar dari Garut hingga Halmahera, melibatkan tidak kurang dari 2.000 orang secara langsung dan menciptakan wirausahawan baru di berbagai daerah mulai dari Klaten, Tulungagung dan berbagai daerah lain. "Peternak yang dulu miskin kini sudah banyak berhasil berbisnis ternak. Bisa beli tanah, bisa mandiri," kata Purnomo.
Omzet DD untuk kegiatan kurban saja mencapai sekitar Rp 14 miliar. Kampoeng Ternak bahkan sudah jadi tempat wisata bahkan tempat pelatihan beternak kambing atau sapi.
Rantai bisnis hewan kurban itu belum berhenti sampai di sini. RZI melalui program Superkurban, memproses daging menjadi kornet kalengan, yang berarti melibatkan proses industrialisasi. Proses pengalengan semula di luar negeri, kini diolah di dalam negeri, sehingga memberi nilai tambah dan kemandirian ekonomi domestik.
Hewan kurban tetap dipotong sesuai hukum berkurban, yakni sampai hari ketiga Idul Adha. Namun, daging dikemas tahan lama, bisa sampai tiga tahun. Jangkauan penerimanya lebih luas dan tidak terkendala ruang atau komunitas di sekitar rumah orang yang berkurban.
Produksi RZI berupa kornet kaleng 200 gram, bukan hanya menjangkau orang miskin, juga telah berkontribusi dalam membantu warga yang terkena bencana, seperti di Aceh, Sulawesi, dan daerah lainnya.
Selain itu, menurut Manajer Marketing dan Komunikasi RZI Dyana Widiastuti, RZI juga mendisribusikan kornet mungil ini untuk perbaikan gizi masyarakat. Ada 207 tempat yang menjadi sasaran kegiatan yang dinamai integrated community development, salah satunya daerah Cilincing, Jakarta Utara. Sejumlah warga menerima kornet 1 kali dalam 2-4 minggu.
Kendala doktrinal
Apabila dikelola secara baik, maka potensi kurban untuk wilayah Jabodetabek saja bisa mencapai hampir Rp 100 miliar. Sebuah nilai yang besar, hanya saja karena kendala doktrinal dan manajerial, membuat potensi itu menguap.
"Hari itu hewan kurban dipotong, hari itu dibagikan, dan hari itu juga habis. Belum terjadi sebuah investasi lebih jauh," kata DR JM Muslimin Penanggung Jawab Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Zakat, Infak, Wakaf, Shodaqoh, dan Kurban, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat.
Potensi kurban, menurut Muslimin menjadi semakin besar jika ditambah dengan haji. Ada sekitar 200.000 orang (per tahun) berangkat ke Arab Saudi dengan biaya sekitar Rp 32 juta tiap orang. Sehingga tidak berlebihan jika bulan ini, kata dia, bisa disebut sebagai bulan akumulasi uang dalam skala besar, baik itu untuk tujuan pengabdian kepada Tuhan (ibadah) maupun menjalin hubungan baik antarsesama.
Sayangnya, Muslimin berpendapat kegiatan kurban yang terjadi saat ini masih cenderung bersifat penyantunan, membantu orang dalam waktu sesaat, serta melatih sikap mental untuk peduli terhadap sesama. Untuk mendukung ekonomi masyarakat belum bisa dilakukan secara maksimal.
Padahal, kegiatan berkurban sebenarnya bisa diarahkan ke aspek yang lebih luas dan produktif. Kurban tidak sekedar menjadi aset konsumtif yang habis dalam waktu singkat, tetapi bisa dimanajemen ke arah produktif. Dengan kata lain kurban bisa menggerakkan ekonomi rakyat secara lebih luas dan tentunya sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam.
Belum efektifnya kegiatan kurban, menurut Muslimin karena adanya kendala doktrinal. "Manajemen efektifitas korban masih ada kendala doktrinal di kalangan kita. Ada pendapat bahwa daging kurban dan pembagian aset terkait hewan harus habis dibagikan saat itu juga. Padahal, kalau kita bicara, tidak bisa konteksnya hanya menyantuni saja, tidak memberdayakan. Kalau kita bicara soal pemberdayaan sosial dan manajemen ekonomi Islam, itu sesunguhnya masih banyak potensi yang baru dimaknai sebatas gerakan karikatif atau penyantunan, setelah itu habis. Tidak long lasting," katanya.
Selama ini, menurut Muslimin masih ada masyarakat yang sulit menerima perlakuan bahwa kurban bisa dimanajemen dan dijadikan aset produksi. Kalau ada, jumlahnya masih sedikit dan itu lebih banyak dilakukan oleh lembaga pengumpul zakat dan shadaqoh yang sudah berpikir jauh ke depan.
"Nah ini problem. Jadi bagaimana agar korban ini dimaknai dalam konteks produktifitas, bukan dimaknai malah membuat orang menjadi konsumtif. Ini perlu disadarkan secara pelan-pelan, " katanya.
Padahal, potensi kurban serta sumbangan lain, seperti infaq dan shodaqoh, sebenarnya luar biasa besar. Dalam sebuah survei potensi zakat, infaq, dan sadaqah ternyata besaran uang jika dirupiahkan bisa melebihi APBN. Kurban sendiri sudah menjadi gerakan massif dan membudaya. "Potensinya secara kasar Rp 1 triliun (di seluruh Indonesia) saya kira ada," kata Muslimin yang berpendapat potensi terbesar kurban sebenarnya ada pada kemauan orang untuk menyumbang.
Empowerment
Dalam kaitan ini, menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Kajian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, itu, perlu ditempuh sebuah cara agar kurban mampu mengangkat potensi ekonomi masyarakat. Cara itu adalah melalui pemberdayaan sosial (empowerment) dengan menerapkan memanajemen yang sesuai. Bukankah saat ini animo masyarakat untuk berkurban cukup tinggi. Begitu pula keterlibatan pengurus masjid hingga pengurus RT dan RW dalam kegiatan pemotongan dan pembagian daging juga cukup besar.
Sedang untuk mengatasi kendala doktrinal, perlu ada penafsiran kembali secara kontekstual apa yang ada dalam doktrin mengenai korban. Setelah intepretatif baru itu dapat diterima, baru langkah selanjutnya adalah melakukan sosialisasi ke masyarakat. Berikutnya melakukan manajemen pemberdayaan sosial.
"Selanjutnya yang perlu diterapkan adalah manajemen yang bersifat pemberdayaan, berorientasi non profit, serta gerakan kemanusiaan. Islam sendiri mendukung ke arah itu," katanya.
Dalam menghadapi masalah doktrinal, menurut pria asal Bojonegoro, Jawa Timur, itu perlu adanya sosialisasi gagasan yang terus menerus, bahwa kurban, termasuk infak dan shodaqoh, harus menjadi kegiatan yang bersifat produktif. Aspek ibadah tetap jalan, namun aspek sosialnya tidak terlupakan.
Disinggung apakah menjadikan kurban sebagai aset produktif tidak menyalahi aturan? Muslimin berpendapat "Kalau saya secara pribadi. Ini juga terkait pendapat dalam fikih Islam. Kalau kita mengacu pada pemikiran hukum Islam kontenporer, itu bisa. Tapi memang, hukum-hukum Islam dengan pendapat yang lama, tidak membuka kemungkinan untuk itu," katanya. (WER)



Pasar kambing/domba Kuwait di Idul Adha 1429H/2008


Sebuah informasi menarik penulis dapat dari email Bapak Bambang Prakoso dari Kuwait di milis Insan Peternakan, yang menggambarkan suasana Idul Adha di Kuwait. Semoga tulisan beliau bermanfaat bagi masyarakat Peternakan Indonesia. Isi Emailnya :


Salam peternak
Sebagai informasi saja, attachments sekitar pasar kambing/domba di Kuwait 2 hari menjelang Idul Adha.
Harga kambing/domba melonjak 2 kali lipat, pada hari biasa umumnya atau rata rata adalah KD30 atau setara dengan Rp1juta dengan bobot 40-50 Kg menjelang Idul Adha harganya menjadi KD70 atau setara kurang lebih Rp 2,4juta. Bentuk fisik memang lebih besar besar dibanding dengan kambing/domba yang ada di Indonesia.

Walaupun kebanyakan orang Kuwait melaksanakan Qurban diluar negaranya tapi masih banyak yang melakukanya sendiri untuk dipotong di Rumah Pemotongan Hewan dan ini diwajibkan oleh pemerintah Kuwait untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan seperti daging tidak layak dikonsumsi karena Qurban sudah terjangkit penyakit, walaupun semua Qurban sudah mendapatkan sertifikat sehat namun pada saat penyembelihan akan dikontrol atau dichek kembali oleh Dokter Hewan dengan melihat hati setiap Qurban. Pemotongan yang dilakukan sendiri mulai tahun ini dilarang oleh pemerintah Kuwait, jadi harus dibawah pengawasan ahli atau dokter hewan. Memang kebijakan ini agak merepotkan dengan hanya 5 tempat pemotongan hewan dengan jumlah Qurban yang segitu banyak antriannya panjang, namun pada hari kedua semua Qurban sudah habis terpotong/disembeli h.

80% hewan Qurban di Kuwait diimpor dari Australia dan New Zeland melalui Saudi Arabia, untuk kebutuhan ini pemerintah Kuwait mengimpor hampir 1juta ekor domba/kambing, penduduk Kuwait saat ini sekitar 3 juta orang (ref KBRI Kuwait) 1 juta diantaranya adalah penduduk asli dan sisanya adalah pendatang atau pekerja seperti saya. Luas negaranya hampir seluas JABODETABEK lebih sedikit.

Demikian.
Salam

Bambang Heru P
Kuwait


15 November 2008

KURBAN UNTUK UMAT DAN KELUARGA

Sumber :www.tebarhewan.or.id
Di dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi disebutkan, ketika menyembelih kambing kurban, Rasulullah SAW membaca basmalah dan bertakbir seraya berdoa, "Ya Allah, kurban ini untukku dan umatku yang belum mampu menunaikan kurban." Peristiwa ini terjadi ketika Rasullah SAW hanya memiliki satu ekor kambing. Kurban atas nama keluarga dilakukan jika beliau memiliki kurban lebih dari satu ekor.

Hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa itu adalah anjuran kepada pemimpin yang mampu agar menghidupkan sunnah Rasul melalui penyembelihan kurban untuk dirinya dan untuk umat yang berada dalam tanggung jawabnya.

Orang yang sebenarnya mampu tetapi sengaja meninggalkan kurban dihukumi dengan makruh. Para ulama mempunyai batasan yang berbeda tentang "mampu". Tentu saja, perbedaan tersebut didasarkan pada motivasi mengejar kebajikan ukhrawi dan kemaslahatan umat.

Menurut mazhab Hanafi, seseorang dikatakan mampu jika memiliki dua ratus dirham perak atau sesuatu yang harganya di luar kebutuhan sehari-hari. Dengan kata lain, kurban adalah shadaqah dari kelebihan karunia Allah SWT.

Mahzab Hambali membatasi pengertian mampu dengan "kemampuan seseorang membeli hewan kurban walaupun melalui utang, asalkan di kemudian hari ia bisa melunasinya".

Menurut Malikim, disebut mampu jika seseorang tidak membutuhkan uang seharga hewan itu untuk kepentingan apa pun. Jika ternyata orang tersebut masih membutuhkan, dia terlepas dari menjalankan sunnah kurban.

Adapun menurut mazhab Syafi'i, mampu di sini adalah seseorang mampu membeli hewan kurban, sedangkan ia dan keluarganya pada saat Id dan hari-hari tasyriq berada dalam kecukupan dan bisa memenuhi kebutuhan sekunder sebagaiman layaknya dalam menghadapi hari raya.

Menurut Ibnu Taimiyah, seorang istri boleh mengambil harta suami tanpa seizin suaminya untuk kurban atas nama keluarga. Dengan kurban itu, pasangan suami istri akan memperoleh pahala seperti tersurat dalam hadits shahih :

"Jika seorang istri menafkahkan harta suaminya bukan untuk suatu kemaksiatan, baginya pahala dari apa yang dinafkahkannya. Demikian juga bagi suaminya, pahala yang sama dengan tidak berkurang sedikit pun." 3

___________________
3. Fatawa Qubra 26/305

Selain itu, seseorang yang berhutang boleh berkurban selama kepadanya belum ada keharusan untuk membayar utang tersebut. Atau seseorang boleh berutang terlebih dulu, untuk kepentingan kurban, dengan catatan bahwa ia yakin dapat membayarnya di kemudian hari.


Berita Kurban 1429 H

Postingan ini Penul;is Ambil Dari Blog Bang Agus Villa Domba Bandung
Sumber.
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=182862&actmenu=36
BANTUL (KR) - Jelang Idul Adha, harga hewan kurban di Bantul mulai naik. Berdasarkan catatan Dinas Peternakan Kelautan dan Perikanan (PKP), kenaikan harga kambing maupun sapi di pasaran sudah mencapai 5 persen. Harga diperkirakan akan terus naik hingga Desember nanti. "Saat ini harga kambing kurang lebih Rp 700 ribu dan sapi Rp 7 juta. Naik 5 persen," kata Kasubdin Kesehatan Hewan Dinas PKP Bantul drh Sribudoyo kepada KR, Rabu (5/11).


Sumber.
http://202.57.16.35/2008/id/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=31274
BERITAJAKARTA.COM, Permintaan hewan kurban di Jakarta terus mengalami peningkatan. Tahun lalu, permintaan hewan kurban seperti kambing mencapai 50 ribu ekor sedangkan sapi 12 ribu ekor. Seperti trend tiap tahun, diprediksi permintaan tahun ini melonjak sekitar 10 persen. Untuk mengawasi masuknya hewan kurban ini, Dinas Peternakan Perikanan, dan Kelautan (Disnakkanla) DKI Jakarta menggandeng Fakultas Kedokteran Hewan Institut Peternakan Bogor (IPB). Pada tahun ini, diprediksi jumlah hewan kurban yang masuk ke Jakarta akan lebih besar jumlahnya dari tahun sebelumnya. Sebagian besar hewan tersebut berasal dari daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung. Umumnya hewan-hewan yang masuk ke Jakarta sudah selektif, semua fisiknya sehat. Kalaupun ada yang sakit itu tidak seberapa jumlahnya dan sakitnya pun ringan. Seperti sakit mata, ingusan dan flu yang disebabkan faktor kelelahan selama perjalanan.



Sumber.
http://www.financeroll.com
KM Makmur Jaya yang membawa 300 korban hewan kurban terdiri atas 130 ekor sapi dan 170 ekor kambing asal Pulau Madura, tiba di Pel. Pangkalpinang, 7/11 (Finance.Roll) - KM Makmur Jaya yang membawa 300 korban hewan kurban terdiri atas 130 ekor sapi dan 170 ekor kambing asal Pulau Madura, tiba di Pelabuhan Ketapang, Pangkalpinang, untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat dan perayaan Idul Adha 1429 H pada 8 Desember 2008.Seorang pengusaha sapi, Toyyib, di Pangkalpinang, Jumat, mengatakan, pasokan sapi maupun kambing untuk mengantisipasi kebutuhan perayaan Idul Adha 1429 H dan kebutuhan daging masyarakat Pangkalpinang, Bangka.


Sumber.
http://www.disnak.jabarprov.go.id
Menjelang hari raya Idul Adha, Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis, mengimbau masyarakat yang membutuhkan hewan qurban, agar mewaspadai penyakit ternak. "Masyarakat harus waspada terhadap penyakit hewan seperti Anthrax, penyakit mulut dan kuku yang bisa saja menghinggapi hewan kurban yang akan dibeli," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis, Iwan Juanda, di Ciamis, Senin (10/10). Iwan mengemukakan, hingga saat ini belum ada yang bisa memberikan jaminan semua hewan kurban terbebas dari penyakit. "Walaupun dilakukan pengawasan di pos penjagaan milik provinsi Jawa Barat, tetap saja belum bisa menjamin," katanya. Kebutuhan hewan kurban khususnya di Ciamis, diperkirakan bisa mencapai 6.500 ekor hewan diantaranya sapi potong dan domba sedangkan kambing masih kurang diminati masyarakat wilayah Ciamis untuk dijadikan hewan kurban, katanya.


Sumber.
http://www.tribunkaltim.com/read/artikel/12503
BALIKPAPAN - Dinas Pertanian kota Balikpapan sepertinya serius menghadapi perayaan hari raya hewan qurban. Pihaknya akan melakukan afkir (pembuangan) terhadap daging hewan qurban yang terjangkit penyakit. Berbagai penyakit patut diwaspadai seperti Anthrax, penyakit mulut dan kuku yang bisa saja menghinggapi hewan kurban yang akan dibeli. Kasubdin Kehewanan dan Peternakan, Budijanto mengatakan pemeriksaan hewan qurban sebelum hari H, hari H dan setelah hari H. "Kita akan periksa sebelum, saat hari raya bahkan hingga hari tasyrik (paska idul adha)," ujar Budijanto ditemui di gedung Bappeda kantor walikota, Selasa (11/11). Menurut catatan Dinas Pertanian, penjualan hewan qurban pada tahun 2007 mencapai 2.400 ekor. Sedangkan untuk tahun 2008 diprediksi lebih dari 2.400. Hal ini terkait dengan kesadaran warga Balikpapan untuk beramal berqurban. Sedangkan mengenai titik lokasinya pada tahun 2008 akan mengalami penurunan dibanding tahun 2007 yang mencapi 30 titik lokasi. Disebabkan lokasi-lokas penjualan banyak terpakai untuk pembangunan. (*)


Sumber.
http://suaramerdeka.com
BLORA - Hari Raya Idul Adha (Kurban) masih sekitar sebulan lagi. Namun harga hewan kurban seperti kambing dan sapi mulai merangkak naik. Menurut Ngadimin (45), pedagang kambing di Pasar Hewan Pon, Blora, harga kambing naik rata-rata Rp 100.000 hingga Rp 200.000. Kenaikan harga itu merupakan hal yang biasa menjelang Hari Raya Kurban. ”Ini baru permulaan kenaikan harga,” ujarnya kemarin. Menurutnya, kambing yang sudah tanggal giginya (poel) ukuran sedang dijual dari harga sebelumnya Rp 600.000 menjadi Rp 700.000. ”Harga tersebut tidak paten, masih bisa ditawar,” ujar warga Desa Buloroto Kecamatan Banjarejo itu. Ngadimin menyatakan, jika menghendaki kambing kurban yang lebih besar, harga yang ditawarkan juga cukup mahal. Seekor kambing besar dan memenuhi syarat sebagai hewan kurban dijual lebih dari Rp 1 juta/ekor. Harga tersebut saat ini masih tergolong murah. Dia memastikan beberapa pekan sebelum hari raya, harga hewan kurban akan lebih mahal lagi. ”Biasanya memang seperti itu. Semakin mendekati hari raya, harga hewan kurban makin mahal,” tandasnya. (H18-54)



Kambing PE, Kambing Perah Indonesia

Menurut Balitnak Kambing PE adalah kambing Persilangan antara kambing Kacang dengan kambing Ettawah (Jamnapari), dengan proporsi genotipe yang tidak jelas. Potensi Produksinya cukup tinggi. Dengan ciri khas bentuk muka cembung, telinga menggantung dengan Postur Tinggi, Panjang dan agak ramping.

Kinerja Produksi

• Pada program perkawinan setiap 8 bulan (3 kali beranak dalam 2 tahun), kambing ini sebaiknya di perah (laktasi selama 5- 6 bulan dengan masa kering selama 2-3 bulan (Gambar 1)
• Pakan : rumput dan atau ramban (daun-daunan segar) dan pakan konsentrat (0,5-1,0) kg/ekor/hari. Air hendaknya selalu tersedia secara bebas
Produksi susu :
• Lama laktasi (bulan) : 7-10 bulan
• Produksi susu (liter/hari) :1,0-1,5 liter
Komposisi susu :
• Air (%) : 83-87
• Protein(%) : 3,3-3,9
• Lemak susu(%) : 4-7
• Ca(%) : 0,129
• P (%) : 0,106

Produksi anak

• Berat lahir (kg) :3-4,5
• Jumlah anak sekelahiran (ekor) :1-3
• Berat sapih (kg) :13-15 ekor

Keunggulan susu kambing
• Persentase butir-butir lemak dengan diameter kecil cukup tinggi (82,7 %)
• 20 % asam lemak susu kambing termasuk asam lemak dengan rantai pendek dan sedang (4-12 karbon) sehingga mudah dan cepat dicerna
• Sangat baik diberikan untuk orang yang mengalami gangguan pencernaan kalau mekonsumsi susu sapi

Prospek pengembangan

• Dapat dikembangkan hampir disemua kondisi agroekosistem di Indonesia
• Pemeliharaanya mudah, dan memerlukan modal relatif kecil
• Membantu program peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat di pedesaan melalui konsumsi susu kambing tanpa harus mengorbankan ternaknya sebagai ternak bibit
• Merupakan sumber pertumbuhan baru sub sektor peternakan

Sumber : Balitnak yang diketik ulang dan ditambah oleh Pengelola



















7 November 2008

PAKAN KAMBING

Blog ini sudah tidak kami update lagi. Silahkan Kunjungi Website Lembah Gogoniti Farm  Yang baru di http://www.lembahgogoniti.com/

JENIS PAKAN
1) Hijauan Segar
Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternakdalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman bijibijian/jenis kacang-kacangan.

Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energi.

a. Rumput-rumputan
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput Benggala (Penicum maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput Brachiaria(Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlena mexicana) dan rumput lapangan yang tumbuh secara liar.
b. Kacang-kacangan
Lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Sty-losantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria phaseoloides, Calopogonium muconoides dan jenis kacang-kacangan lain.
c. Daun-daunan
Daun nangka, daun pisang, daun turi, daun petai cina dll.
2) Jerami dan hijauan kering
Termasuk kedalam kelompok ini adalah semua jenis jerami dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat kasarnya lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit biji kacang-kacangan).
3) Silase
Silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan.
4) Konsentrat (pakan penguat)
Contoh: dedak padi, jagung giling, bungkil kelapa, garam dan mineral.

MANFAAT PAKAN
1) Sumber energi
Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
a. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
b. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
c. Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)
d. Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput
gajah, rumput benggala dan rumput setaria).
2) Sumber protein
Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman).
Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)
b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi, kaliandra, gamal dan sentero
c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang
dan sebagainya).
3) Sumber vitamin dan mineral
Hampir semua bahan pakan ternak, baik yang berasal dari tanaman maupun
hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya. Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.

PEDOMAN TEKNIS PEMBUATAN/PENGOLAHAN
Kebutuhan Pakan

Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap
nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula.

Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Penelitian Internasional (National Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan
dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan
kebutuhan nutrisi ternak ruminansia, yang akan dipenuhi oleh bahan-bahan
pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di lapangan.

Konsumsi Pakan
Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat pula. Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri).
a) Temperatur Lingkungan
Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan penutup tubuh (kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat
pengaruh lingkungan.

Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi pakan ternak biasanya menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan. Makin tinggi temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan
panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada temperatur lingkungan yang lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan
karena ternak membutuhkan tambahan panas. Pengaturan panas tubuh dan
pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengan cara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.
b) Palatabilitas
Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat
dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi.
c) Selera
Selera sangat bersifat internal, tetapi erat kaitannya dengan keadaan “lapar”. Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus) yang menstimulasi keadaan lapar. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi ini dengan cara mengkonsumsi pakan. Dalam hal ini, kadang-kadang terjadi kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri.
d) Status fisiologi
Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh
(misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya.
e) Konsentrasi Nutrisi
Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan adalah konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. Konsentrasi energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah.
f) Bentuk Pakan
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan dicerna. Oleh karena itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong
menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm.
g) Bobot Tubuh
Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya.
Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan. Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat badan ternak yang sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat badan metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut. Berat badan ternak dapat diketahui dengan alat timbang. Dalam praktek di lapangan, berat badan ternak dapat diukur dengan cara mengukur panjang badan dan lingkar dadanya. Kemudian berat badan diukur dengan menggunakan formula: Berat badan = Panjang badan (inci) x Lingkar Dada2 (inci) / 661
Berat badan metabolis (bobot tubuh) dapat dihitung dengan cara meningkatkan berat badan dengan nilai 0,75
Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0,75
h) Produksi
Ternak ruminansia, produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak
potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol. Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tidak optimal.

Kandungan Nutrisi Pakan Ternak
Setiap bahan pakan atau pakan ternak, baik yang sengaja kita berikan kepada ternak maupun yang diperolehnya sendiri, mengandung unsur-unsur nutrisi yang konsentrasinya sangat bervariasi, tergantung pada jenis, macam dan keadaan bahan pakan tersebut yang secara kompak akan mempengaruhi tekstur dan strukturnya. Unsur nutrisi yang terkandung di dalam bahan pakan secara umum terdiri atas air, mineral, protein, lemak, karbohidrat dan vitamin. Setelah dikonsumsi oleh ternak, setiap unsur nutrisi berperan sesuai dengan fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup dan berproduksi secara normal. Unsur-unsur nutrisi tersebut dapat diketahui melalui proses analisis terhadap bahan pakan yang dilakukan di laboratorium. Analisis itu dikenal dengan istilah “analisis proksimat”.

REFERENSI MANAGEMEN PAKAN KLIK DISINI

Cara membuat pakan fermentasi silahkan klik DI SINI
  7. DAFTAR PUSTAKA
1) Kartadisastra, H.R. (1997). Penyediaan & Pengelolaan Pakan ternak
Ruminansia (Sapi, Kerbau, Domba, Kambing). Yogyakarta, Kanisius
2) Budi Pratomo (1986). Cara Menyusun ransum ternak. Poultri Indonesia.
3) Suara Karya, 3 Maret 1992. Mengenal Pakan Ternak Jenis Unggul.
4) Neraca, 6 Juni 1991. Jenis Pakan Yang Cocok Untuk Ternak.
5) Suara Karya, 19 Januari 1993. Memanfaatkan Sisa Pakan.
6) Suara Karya, 2 Juni 1992. Silase, Pakan Ternak Musim Kemarau.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
7) Neraca, 1 Juli 1991. Pemgolahan Jerami Menjadi Pakan Yang Disukai
ternak.
8) Pikiran Rakyat, 21 Mei 1990. Perlakuan Khusus Terhadap Biji-bijian Bahan
Pakan Ternak.
9) Neraca, 20 juli 1990. Pembuatan Hijauan Makanan Ternak.
10) Suara Karya, 15 September 1992. Cara Menanam Rumput Gajah.
11) Kedaulatan Rakyat, 21 Juni 1990. Prospek Industri Makanan Ternak
Limbah Coklat di Wonosari Cerah.
KEMBALI KE MENU

Mengenal Kambing


Sejarah Kambing

Kambing lokal (Capra aegagrus hircus) adalah sub spesies dari kambing liar yang tersebar di Asia Barat Daya dan Eropa. Kambing merupakan suatu jenis binatang memamah biak yang berukuran sedang. Kambing liar jantan maupun betina memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada kambing jantan lebih besar.

Umumnya, kambing mempunyai jenggot, dahi cembung, ekor agak ke atas, dan kebanyakan berbulu lurus dan kasar. Panjang tubuh kambing liar, tidak termasuk ekor, adalah 1,3 meter - 1,4 meter, sedangkan ekornya 12 sentimeter - 15 sentimeter. Bobot yang betina 50 kilogram - 55 kilogram, sedangkan yang jantan bisa mencapai 120 kilogram.

Kambing liar tersebar dari Spanyol ke arah timur sampai India, dan dari India ke utara sampai Mongolia dan Siberia. Habitat yang disukainya adalah daerah pegunungan yang berbatu-batu. Kambing sudah dibudidayakan manusia kira-kira 8000 hingga 9000 tahun yang lalu.

Di alam aslinya, kambing hidup berkelompok 5 sampai 20 ekor. Dalam pengembaraannnya mencari makanan, kelompok kambing ini di pimpin oleh kambing betina yang paling tua. Kambing jantan berfungsi sebagai penjaga keamanan rombongan. Waktu aktif mencari makannya siang maupun malam hari. Makanan utamanya adalah rumput-rumputan dan dedaunan. Kambing berbeda dengan domba. (Wikipedia)


Klasifikasi Kambing :
Filum : Chordota (Hewan Tulang Belakang)
Kelas : Mamalia (Hewan Menyusui)
Ordo : Artiodactyla (Hewan Berkuku Genap)
Famili : Bovidae (Hewan Memamah Biak)
Sub Famili : Caprinae
Genus : Capra
Spesies : C. aegagrus
Sub Species : Capra aegagrus hircus

Perkembangbiakan

Kambing berkembang biak dengan melahirkan. Kambing bisa melahirkan dua hingga tiga ekor anak, setelah bunting selama 150 hingga 154 hari. Dewasa kelaminnya dicapai pada usia 8 bulan-1 tahun . Dalam setahun, kambing dapat beranak 3 kali dalam 2 tahun

Jenis Kambing

Kambing Kacang

Kambing Kacang adalah kambing yang pertama kali ada di Indonesia. Badannya kecil. Tinggi gumba pada yang jantan 60 sentimeter hingga 65 sentimeter. Sedangkan yang betina 56 sentimeter. Bobot pada yang jantan bisa mencapai 25 kilogram, sedang yang betina seberat 20 kilogram. Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek. Baik betina maupun yang jantan memiliki dua tanduk yang pendek.
Jenis ini merupakan yang terbanyak dan disebut juga kambing lokal. Bekembangbiak cepat karena umur 15-18 bulan sudah bisa menghasilkan keturunan, cocok penghasil daging karena sangat prolifik (sering lahir kembar) bahkan lahir tiga setiap induknya. Mudah dipelihara bahkan dilepas mencari pakan sendiri, kawin dan beranak tanpa bantuan pemiliknya.
Ciri-ciri utama:
o Bulu pendek dan satu warna (coklat,hitam,putih) atau kombinasi dari ketiga warna tersebut
o Jantan betina bertanduk, telinga pendek dan menggantung
o Bobot yang jantan dewasa rata-rata 25 kg, tinggi tubuh gumba 60-65 cm dan betina 20 kg, tinggi tubuh 56 cm.
o Peluang induk lahir kembar 52%, kembar tiga 2.6% dan tunggal 44.9%
o Dewasa kelamin jantan umr 135-173 hari, betina 153-454 hari. Rata-rata betina beranak umur 12-13 bulan
o Prosentase karkas 44-51%
Rata-rata betina beranak umur 12-13 bulan dengan bobot lahir 3.28 kg dan Bobot Sapih 10.12 kg





Kambing Etawa
Kambing Etawa disebut juga kambing Jamnapari karena kambing ini berasal dari wilayah Jamnapari India. Tepatnya Kambing Jumna Pari atau Jamnapari mengambil nama sungai Jamna (Jamna par) di Uttar Pradesh , India dimana kambing ini banyak terdapat. Kambing Jamnapari juga banyak terdapat di Agra, Mathura dan daerah Etawa di Uttar Pradesh , Bhind dan daerah Morena di Madhya Pradeshi.
Kambing etawa dikenal di Asia Tenggara sebagai kambing tipe dwiguna yaitu penghasil susu dan penghasil daging. Jamnapari di impor pertama kali ke Indonesia sejak 1953 dari daerah Etawa, India. Tetapi dipercayai menurut Balitnak kambing PE masuk di Indonesia sekitar 1931 pada masa penjajahan Belanda. Di Indonesia kambing Etawa disilangkan untuk perbaikan mutu kambing lokal, hasil persilangan disebut kambing PE (Peranakan Etawa).

Ciri-cirinya postur tubuh besar, telinga panjang menggantung, bentuk muka cembung, hidung melengkung, bulu bagian paha sangat lebat,. baik jantan maupun betina bertanduk, telinga panjang terkulai sampai 30 cm. Kaki panjang dan berbulu panjang pada garis belakang kaki. Warna bulu belang hitam putih atau merah dan coklat putih.

Produksi susu yang baik sebanyak 3 liter/ekor/hari atau produksi susu mencapai 235 kg/ms laktasi. hal ini didukung oleh ambing yang besar dan panjang. Tinggi badan jantan dewasa mencapai 90-127 cm, sedangkan yang betina dewasa 76-92 cm. Bobot badan jantan dewasa 68-91 Kg dan yang betina dewasa 36-63 Kg.
Sentra terbesar kambing PE adalah di Kaligesing Purworejo Jawa Tengah. Purworejo (Jateng), Girimulyo, Kulonprogo dan Turi, Sleman (Yogyakarta). Kambing PE juga telah berkembang di Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Bali dan Jawa Tengah.

Di Indonesia kambing PE disilangkan dengan kambing Saanen untuk menghasilkan persilangan penghasil susu yang untuk menghasilkan 1.5 ke 3 liter susu sehari. PE juga disilangkan dengan jenis kambing lokal seperti Kambing Kacang dan Kambing Jawa dan di namakan Kaplo (Koploh), Kaprindo, Bligon, Jawa Rando (Jawa Randu / Jawarandu). Jenis kambing yang sesuai untuk jenis kambing pedaging . Ukuran tubuh lebih kecil dari PE dan mudah diternak.
Situs & Blog terkait “Kambing Etawa”
Kambing Indonesia
Kambing Etawa
Kambing Alpin



Sumber Foto: Maradonna Arsip Kambing Indonesia
Berasal dari Pegunungan Alpen Swiss, Keberadaan kambing jenis ini menebar ke seluruh daratan eropa. Ciri-ciri kambing Alpen telinga berukuran sedang dan megarah ke atas dengan warna bulu dominan putih, hitam, coklat.Tanda-tandanya adalah mempunyai warna bulu bermacam-macam dari putih sampai kehitam-hitaman. Warna muka ada garis putih di atas hidung. Ada yang bertanduk dan ada juga yang tidak bertanduk. Besar dan tingginya sama dengan kambing saanen. Termasuk kambing penghasil susu yang banyak. BB jantan mencapai 90 kg, BB betina 65 kg. Produksi susu 600 kg/ms laktasi.

Situs & Blog terkait ”Kambing Alpin” :




Kambing Saanen
Berasal dari lembah Saanen Swiss bagian barat. Merupakan jenis kambing terbesar di Swiss.Sulit berkembang di wilayah tropis karena kepekaannya terhadap matahari. Ciri-ciri telinga tegak dan mengarah ke depan, bulu dominant putih, kadang2 ditemui bercak hitam pada hidung, telinga atau ambing. Tidak bertanduk dan termasuk tipe dwiguna. Produksi susu 740 kg/ms laktasi.
Situs & Blog terkait ”Kambing Saanen



Kambing Toggenburg
Berasal dari Toggenburg Valley (wilayah timur laut Swiss). Ciri-ciri telinga tegak menghadap ke depan, hidung agak cembung, warna bulu merah tua/coklat dengan bercak putih. BB jantan 80 kg betina 60 kg. Yang paling menonjol adalah kehalusan bulunya. Produksi susu 600 kg/ms laktasi.
Situs & Blog terkait ”Kambing Toggenburg”


Kambing Anglo Nubian
Berasal dari Wilayah Nubia (Timur Laut Afrika). Ciri-ciri telinga menggantung dan ambing besar, warna bulu hitam, merah, coklat, putih atau kombinasi warna2 tersebut. BB jantan 90 kg, betina 70 kg. Produksi susu 700 kg/ms laktasi.

Situs & Blog terkait ”Kambing Anglo Nubian”
Kambing Anglo Nubian

Kambing Beetal

Berasal dari Punjab India, Rawalpindi dan Lahore (Pakistan). Diduga merupakan hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing local karena cirri fisiknya sangat menyerupai Etawa. Produksi susu 190 kg/ms laktasi.
Situs & Blog terkait ”Kambing Beetal”
Kambing Beetal


Kambing Anglo Nubian
Mempunyai ciri-ciri : bulu pendek, kaki panjang dan dapat menyesuaikan disi di daerah panas. Merupakan kambing yang subur dan beranak kembar. Ada yang bertanduk dan ada yang tidak bertanduk.

Situs & Blog terkait ”Kambing Anglo Nubian


Kambing Gembrong

Jenis kambing ini hana ada di Desa Bugbug, Culik dan Bunutan Pantai Timur Bali. Diperkirakan berasal dari keturunan kambing Anggora, atau dari kambing kashmir berbulu putih.
Tinggi 58-65 cm. Bobot dewasa 32-45 kg, bulunya dapat mencapai 25 cm. Kambing jantan diambil bulunya yang panjang,putih, halus seperti sutra. Pencukuran dilakukan setiap 1.5 tahun sekali.
Pemeliharaan dilakukan secara semi intensif.
Situs & Blog terkait ”Kambing Gembrong”


Kambing Boer
Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang ter-registrasi selama lebih dari 65 tahun. Kata "Boer" artinya petani. Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing pedaging yang sesungguhnya, yang ada di dunia karena pertumbuhannya yang cepat. Kambing ini dapat mencapai berat dipasarkan 35 - 45 kg pada umur 5-6 bulan, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02 - 0,04 kg per hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya susu dari induk dan ransum pakan sehari-harinya. Dibandingkan dengan kambing perah lokal, persentase daging pada karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40% - 50% dari berat tubuhnya.
Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat tua. Beberapa kambing Boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kulitnya berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker kulit akibat sengatan sinar matahari langsung. Kambing ini sangat suka berjemur di siang hari.
Situs & Blog terkait ” Kambing Boer”:
American Boer Goat
Australia Boer Goat
Indonesia Boer Goat


Disarikan dari berbagai Sumber :
Materi pelatihan dasar kambing domba Kampoeng Ternak
Wikipedia
Hasil browsing yang Penulis dapatkan di beberapa situs dan Blog Dari berbagai sumber
Dr. Ted dan Linda Shipley, Mengapa Harus Memelihara Kambing Boer "Daging Untuk Masa Depan" dalam http://www.indonesianboergoat.com






PENYAKIT KAMBING

Ternak kambing merupakan ternak yang umum dipelihara di pedesaan. Masalah yang sering dijumpai adalah serangan penyakit yang sangat merugikan peternak karena dapat menghambat pertumbuhan, reproduksi bahkan kematian ternak. Bagi peternak di pedesaan untuk mengobati ternak yang sakit wring mengalami kesulitan,karena jauh dari kota ( toko obat ) dan harga obat yang terlalu mahal sehingga sulit terjangkau oleh peternak. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dicari alternatif lain yaitu dengan menggunakan obat tradisional yang ada dan dapat dilakukan peternak serta harganya murah. Namun demikian usaha pencegahan juga perlu dilakukan dengan menjaga kebersihan ternak dan lingkungannya, pemberian pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas), bersih dan tidak beracun. Beberapa penyakit yang sering menyerang ternak kambing dan dapat diobati secara tradisional diantaranya adalah sebagai berikut:

1. SCABIES (KUDIS)
Penyebab:
Parasit yang terdapat pada kotoran yang terjadi karena kandang kotor dan
ternak tidak pernah dimandikan.
Tanda- tanda:
- Kerak - kerak pada permukaan kulit
- Ternak selalu menggesekan bagian kulit yang terserang kudis
- Kerontokan bulu, kulit menjadi tebal dan kaku
Pengobatan :
Cukur bulu sekitar daerah terserang, mandikan ternak dengan sabun sampai
bersih, kemudian jemur sampai kering. Setelah kering dapat diobati dengan
menggunakan:
1. Belerang dihaluskan, dicampur kunyit dan minyak kelapa, kemudian
dipanaskan dan digosokkan pada kulit yang sakit.
2. Belerang dihaluskan dan dicampur dengan oli bekas dan digosok pada
bagian kulit yang sakit.
3. Kamper / kapur barus digerus, dicampur minyak kelapa dan dioleskan
pada bagian kulit yang sakit.
Pencegahan:
- Ternak yang berpenyakit kudis tidak boleh bercampur dengan ternak yang
sehat.
- Ternak yang baru dibeli harus bebas dari penyakit kudis
- Mandikan ternak dua minggu sekali.
- Bersihkan kandang seminggu sekali.

2. BELATUNGAN ( MYASIS )
Penyebab:
Luka daerah yang berdarah diinfeksi oleh lalat sehingga lalat berkembang
biak (bertelur) dan menghasilkan larva belatung.
Tanda-tanda:
- Adanya belatung yang bergerak-gerak pada bagian yang luka
- Bila belatungan pada kaki/teracak maka ternak terlihat pincang.
Pengobatan:
- Bersihkan luka dari belatung, kemudian obati dengan gerusan
kamper/kapur barus atau tembakau.
- Luka dibungkus dengan kain/perban untuk melindungi dari terjadinya luka
baru atau kotoran.
- Pada hari berikutnya luka dibersihkan, pengobatan diulang dan dibungkus
kembali. Biasanya dua atau tiga kali pengobatan sudah sembuh.
- Bila belatung sudah terbasmi, pemberian yodium tinctur dapat dipakai
untuk mempercepat pertumbuhan.

3. CACINGAN
Penyebab:
Bermacam-macam cacing terjadi karena kandang yang kotor atau padang
pengembalaan yang kotor.
Tanda-tanda:
- Kurus, bulu agak berdiri dan tidak mengkilap
- Sembelit atau mencret
- Lesu dan pucat
- Daerah rahang terlihat membengkak
- Mati mendadak
Pengobatan:
1. Tepung buah pinang dicampur dengan nasi hangat dikepal-kepal
kemudian dipaksakan untuk dimakan ternak. Ternak dianjurkan untuk
dipuasakan terlebih dahulu.
2. Daun kelor yang tua dibakar, kemudian debunya dicampur air dan
diminumkan. Pengobatan diulangi satu minggu kemudian.
Pencegahan:
- Kandang dibuat panggung dan bersih
- Pengaritan rumput setelah panas yaitu pada jam 12.00-15.00 atau
pengembalaan ternak pada siang hari jam 10.00-15.00.
- Jangan menggembalakan ternak pada daerah rawa, sungai dan sawah.

4. KERACUNAN TANAMAN
Penyebab:
- Ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung
zat racun.
Tanda-tanda:
- Mati mendadak, mulut berbusa, kebiruan pada selaput lendir,
pengelupasan kulit/eksim atau terjadi pendarahan.
Pengobatan:
- Cekoklah ternak dengan air kelapa muda.
Pencegahan:
- Tidak memberikan tanaman beracun atau menggembalakan ternak di
daerah yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun.

Sumber :
Kumpulan peragaan dalam rangka Penelitian Ternak Kambing dan

domba di pedesaan, Balitnak, Ciawi.
Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) LPTP Koya Barat, Irian Jaya No. 05/99
Diterbitkan oleh: Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Koya Barat
Jl. Yahim – Sentani – Jayapura



26 Oktober 2008

Mastitis Pada Kambing Perah

 Web ini sudah tidak kami update lagi silahkan kunjungi web Lembah Gogoniti Farm yang baru di http://www.lembahgogoniti.com

Beberapa hari ini Penulis Blog Kambing Indonesia disibukkan dengan masalahpenyakit pada kambing yang ada peternak Mitra, dalam sehari ada 3 Induk yang terjangkit penyakit radang susu atau lebih akrab disebut mastitis. Pada kambingnotabene adalah kambing perah kasus ini sering terjadi. Untuk itu padapostingan kali ini Blog kambing Indonesia akan membahas masalah Mastitis. Selain dikutip dari beberapa literature dan beberapa sumber. Penulis jugamempunyai tip dan trik untuk mengatasi masalah penyakit ini karena kebetulansecara teknis penulis selalu menangani sendiri setiap kasus yang terjadi di Farm penulis maupun kambing yang ada di Mitra. Maklum peternak kecil belum kuatmembayar Dokter Hewan. Namun Tip dan trik itu akan Penulis muat di postinganberikutnya.
Menurut Subronto, 2003, mastitis adalah penyakit radang ambing yang merupakan radang infeksi. Biasanya penyakit ini berlangsung secara akut, sub akut maupun kronis. Mastitis ditandai dengan peningkatan jumlah sel di dalam air susu, perubahan fisik maupun susunan air susu dan disertai atau tanpa disertai perubahan patologis atau kelenjarnya sendiri).
Streptococcus Menurut faktor penyebabnya, mastitis dapat disebabkan oleh bakteri Staphylococcus agalactiae, Str.dysgalactiae, Str.uberis, Str. zooepidemicus, danaureus , serta berbagai spesies lain yang juga bisa menyebabkanterjadinya mastitis walaupun dalam persentase kecil.
.
Tanda-tanda klinis
Keadaan mastitis di bagi menjadi beberapa bagian:
a. pra akut mastitis
b. Akut mastitis
c. Sub akut mastitis
d. kronis mastitis
e. sub klinis mastitis
Dalam keadaan akut atau sub akut biasanya tanda-tanda klinis pada ambing terjadi pembengkakan pada ambing dengan tanda-tanda :
a. merah
b. panas
c. keras
d. sakit bila disentuh
e. fungsi terganggu (produksi menurun menurun)
Tanda-tanda keseluruhan
a. demam (pyrexia)
b. severe depression
c. anorexia penurunan nafsu makan
d. warna susu berubah warna - kuning/merah keadaan - pekat/merah bau. Untuk subklinis mastitis, tidak ada perubahan yang nyata pada susu.Penyakit hanya bisa dikenali melalui pemeriksaan serum (patologi klinis).

Pencegahan
• Menjaga kebersihan kandang
• Memandikan kambing secara teratur
• Menjaga kebersihan pemerah, peralatan pemerahan, kambing pada saat sebelum pemerahan dan sesudah pemerahan
• Pada saat pemerahan Susu harus diperah sampai habis tetapi perlakuan yang halus dan cepat sehingga merusak ambing.
• Pada kambing yang tidak diperah susunya setelah lepas sapih sebaiknnya di diperah sampai masa kering karena sisa susu setelah tidak disusu oleh anak kambing dapat dijadikan media bakteri sehingga terjadi peradangan.

Pengobatan secara Medis
Bersihkan daerah yang terjangkit menggunakan air hangat dicampur dengan antiseptik. Tujuan penggunaan air hangat adalah untuk membantu dalam aliran darah yang bisa menambah pengeluaran susu. Antiseptik berfungsi untuk membunuh atau menghalangi pembiakan kuman di daerah ambing

Secara tradisional
­ Induk diberi campuran kuning telor dan madu
­ Kunyit diparut, kemudian ditambah gula merah di tambah beberapa butir telor lalu diminmkan
­ Puting susu yang terkena mastitis, puting susunya dibersihkan dengan air hangat lalu dibalurkan campuran kuniyt dengan asam jawa yang dihaluskan
­ Puting adan ambing diversihkan dengan rebusan air sirih, kemudian dibalurkan atau ditempelkan campuran kencur dengan jahe.

Sumber bacaan:
Penyakit dan obat tradisional ternak karya Ir Wirdateti penerbit PT musi Perkasa Utama
Artikel pada Blog... yang diterjemahkan bebas oleh penulis

.

11 Oktober 2008

Event Kontes Kambing Jatim, Tulungagung

Banyak pembaca Blog Kambing Indonesia yang menanyakan kepada penulis tentang event-event kontes kambing Ettawa di Jawa Timur. Baru-baru ini penulis mendapat informasi dari Paguyuban peternak Kambing Ettawa di Tulungagung. Isi pengumumannya :


Kontes kambing Peranakan Ettawa terheboh tahun ini
di lapangan
Pabrik Gula Kunir Ngunut Tulungagung

Hari Minggu tanggal 9 November 2008 jam 08.00- selesai

Total Hadiah Rp. 7.700.000
Door Price untuk pathok atau No perserta (HP, VCD, Jam Tangan dll)
Biaya pendaftaran : Rp 30.000

Pendaftaran :

Ditutup sampai dengan tanggal 9 November jam 8 Pagi
Juri : dari DIY, Ponorogo, Blitar dan Tulungagung
Penilaian

Ada 10 kriteria :

Postur tubuh, telinga, warna, bulu, kepala, ekor, leher, kaki, tanduk, kelamin untuk jantan/ bentuk ambing untuk betina
Kelas yang dilombakan jantan 3 kelas, betina 3 kelas :
• Kelas A Rampas ( ganti gigi) 3 s/d 4
• Kelas B Rampas ( ganti gigi) 1 s/d 2
• Kelas C belum Rampas ( ganti gigi)

Tempat pendaftaran:

Muslikan – 081 556 410 975
Noer MH – (0355) 770 4655
EKO – (0355)770 5784
IMAM BASARI ( 0355) 772 5264
KUSAERI- 081 335 387 912

27 September 2008

SELAMAT IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR BATHIN





4 September 2008

Laga Bintang Kambing Ettawa di Kaliurang Jogja



Setelah menempuh kurang lebih 10 jam perjalanan, akhirnya Bis yang membawa Penulis bersama Forum Komunikasi Peternak Kambing Ettawa Blitar, dari perwakilan dari Kelompok Tani Abimanyu dari Kota Batu Malang, Peternak Kambing Ettawa ”Sangklir Group” Ngunut Tulungagung sampai kawasan wisata Kaliurang Jogjakarta, memasuki kawasan Kaliurang. Indahnya pemandangan dan sejuknya udara pegunungan mulai terasa, di kiri dan kanan jalan banyak berdiri bangunan berupa Villa, Hotel, Penginapan.

Bis yang membawa berhenti di depan di Bumi Perkemahan Karang Pramuka di Hargo Binangun, Pakem Sleman Jogjakarta. Penulis segera berlari mencari tempat mandi, karena semalaman di perjalanan dalam bis, badan terasa penat. Dinginnya air di Kaliurang membuat badan terasa segar. Setelah mandi, penulis bergegas berjalan menikmati indahnya suasana pemandangan di sekitar arena kontes kambing. Walaupun waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi tapi disana sudah hadir peserta beserta kambing dari beberapa kota diantaranya Pati, Pandowo Sakti Tulungagung.

Kurang lebih pukul 7. 30 pagi kesibukan Panitia mulai terasa, peserta kontes mulai berdatangan dan melakukan pendaftaran ulang. Seperti biasa setelah melakukan pendaftaran ulang dalam setiap kontes kambing, dilakukan pengukuran meliputi lingkar dada, panjang badan, panjang telinga, dll.

Sekitar pukul 8.00 wib acara kontes dibuka oleh ketua Paguyuban Peternak Kambing Ettawa Sembada Sleman bapak Sambyah. Dalam sambutannya menyampaikan tujuan dari diselenggarakannya kontes kambing ini adalah mendukung perekonomian masyarakat, media komunikasi para peternak kambing Ettawa, alat kontrol kualitas bibit dan mendukung program pemerintah dibidang pertanian khususnya sub sektor peternakan.

Dari laporan panitia, peserta kontes kambing tercatat dari berbagai kota se Jawa diataranya Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Semarang, Pati, Blitar, Tulungagung, Batu Malang, Mojokerto, Ponorogo. Tercatat 47 ekor kambing untuk kelas Pejantan, 34 ekor untuk kelas Calon pejantan, 34 ekor untuk Induk dan 52 ekor calon induk. Selain itu juga diikuti 72 ekor dari segala umur yang mengikuti bursa lelang kambing.

Info pemenang dan foto-fotonya juga bisa di klik disini

BERIKUT LAPORAN PANITIA yang dikirim via email kepada Penulis ;

Pagi itu 24 Agustus 2008, di bawah kaki gunung merapi yang indah dan asri, 173 kambing etawa dating dari berbagai penjuru daerah. Tercatat dari jawa timur, seperti tulungagung, Blitar, Ponorogo. Dari Jawa Tengah, Solo, Kudus, Jepara, Pati, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Banjarnegara. Dari DIY, Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul, semua daeah tumplek blek membawa kambing jawara mereka masing-masing. Lomba yang terdiri dari 4 kelas, yaitu kelas jantan, kelas betina, kelas calon jantan, dan kelas calon induk, semua terisi walaupun tidak penuh.


Pukul 10.30 WIB, kambing mulai di nilai. Penjurian di mulai dari kelas calon induk, calon jantan, induk, dan pejantan. Kelas pejantan memang sengaja di pasang di terakhir,karena panitia mempunyai beberapa pertimbangan, selain kelas pejantan adalah kelas favourite, panitia juga tidak mau berspekulasi tentang keselamatan pathok yang digunakan untuk menambatkan kambing-kambingnya. Perkiraan panitia terbukti benar, setelah 5 menit kelas jantan itu di nilai sudah ada beberapa pathok kambing yang patah maupun roboh. Padahal panitia sudah menggali tanah sedalam 100cm untuk lobangnya. Tetapi namanya juga kambing. Kambingnya besar-besar lagi, jadi ya lumrah kalau langung patah dan roboh.


Penilaian yang dilakukan melalui 2 tahapan. Tahapan pertama dengan menggukur panjang badan, tinggi badan dan panjang telingga, untuk menjaring 100 kambing maju ke 10 nominasi. Setelah ketemu 10 nominasi, barulah tim juri yang terdiri dari 5 orang dan mayoritas pedagang kambing etawa senior, menilai kambing tersebut dengan gaya juri. Penilaian tahap ke dua terdiri dari keserasian pola warna pada kambing, bulu belakang, gombel, posisi kepala, posisi telinga, posisi ekor, kebersihan bulu dan kuku kambing. Penilaian tahap ke dua memang agak lebih ama dan rumit, hal ini disebabkan karena kambing etawa selain sebagai kambing produksi, kambing etawa juga sebagai kambing seni/hias, sehingga banyak variable yang harus di perhatikan.


Berikut ini hasil terakhir lomba yang di selenggarakan di kaliurang;


JUARA INDUK


NO PATHOK

NAMA PEMILIK

JUARA

ALAMAT

NAMA KAMBING

17

SILO PRASETYO

I

TLOGOGUWO,KALIGESING

KUNTHI

16

JIMAN DWI ISYANTO

II

GOGOLUWAS, KALIGESING

RINI G

07

TAMTO

III

GIRIKERTO, SLEMAN

SRIKANDI


JUARA CALON PEJANTAN


NO PATHOK

NAMA PEMILIK

JUARA

ALAMAT

NAMA KAMBING

11

PENDOWO SAKTI

I

TULUNG AGUNG

MARADONA

29

SUMARYANTO

II

BAYAN, PURWOREJO

BARET

36

SUYITNO

III

KEMIRI, PURWOREJO

MASTENG


JUARA JANTAN


NO PATHOK

NAMA PEMILIK

JUARA

ALAMAT

NAMA KAMBING

23

SUJONO

I

TLOGOGUWO, KALIGESING

SEMBODO

45

SUMARYANTO

II

KEBON AGUNG, PURWOREJO

BONDAN PRAKOSO

25

Y. SUMARNO

III

TLOGOGUWO, KALIGESING

SETYAKI


JUARA BETINA


NO PATHOK

NAMA PEMILIK

JUARA

ALAMAT

NAMA KAMBING

36

BADUWI

I

SIDOKARTO, GODEAN

ANGGUN

15

SETYO

II

KALIGESING

DESSY

8

MUSTAQIM

III

TURI, SLEMAN

KHANZA


GRAND CHAMPION


NO PATHOK

NAMA PEMILIK

JUARA

ALAMAT

NAMA KAMBING

11

Pendowo Sakti

GRAND CHAMPION

TULUNG AGUNG, JAWA TIMUR

MARADONA






powered by Blogger Theme | WordPress by Newwpthemes